Sahabat Abadi

Konon saat orang meninggal dunia, ketika jenazahnya masih terbujur kaku diadakanlah “upacara perpisahan” di alam ruh. Pertama-tama ruh dihadapkan kepada seluruh kekayaan yang dimilikinya. Kemudian terjadi dialog diantara keduanya.

Orang yang meninggal (mayat) itu berkata kepada seluruh kekayaannya, “Dahulu aku bekerja keras untuk mengumpulkan kamu, sehingga aku lalai dan lupa mengabdi kepada Sang Pencipta. Bukan hanya itu, bahkan aku tak peduli cara yang aku gunakan benar atau tidak. Sekarang apa yang akan kau berikan sebagai bekal dalam perjalananku?”

Lalu harta kekayaan itu berkata, “Ambillah dariku hanya untuk kain kafanmu.” Sang mayat terkejut, “Jadi hanya kain kafanlah harta yang dapat aku bawa sebagai bekal dalam perjalananku selanjutnya?”

Setelah itu sang mayat dihadapkan kepada seluruh keluarganya. Lalu ia berkata, “Dahulu aku mencintai kalian, menjaga dan merawat kalian dengan sepenuh hatiku. Begitu susah payah aku mengurus kalian semua sampai terkadang aku lupa mengurus diriku sendiri. Sekarang bekal apa yang ingin kau berikan dalam perjalananku selanjutnya?”

Kemudian anggota keluarga itu menjawab, “Kami antarkan kamu sampai ke kuburan.” Sang mayat sedih, “Ternyata tak ada satupun anggota keluargaku yang bersedia menemaniku ke dalam kubur.”

Setelah itu, sang mayat akan dijemput oleh jelmaan amal perbuatannya. Bila selama hidup ia banyak beramal saleh maka ia akan dijemput oleh makhluk yang berwajah ceria, berparas indah dengan aroma yang harum, bila dipandangpun menyenangkan. Sebaliknya, bila selama hidup ia sering ingkar dan lupa kepada Allah, Sang Pencipta maka si mayat akan dijemput oleh makhluk yang menakutkan beraroma busuk menusuk.

Makhluk itu mengajak si mayat pergi. Karena merasa tak kenal si mayat bertanya, “Siapakah kamu? Saya tidak mengenalmu? Makhluk itu kemudian menjawab, “Aku adalah jelmaan amalmu ketika hidup, dan aku akan selalu menemanimu dalam menempuh perjalanan panjang menghadap Tuhan-mu.”

Semua kita pasti akan mengalami perjalanan panjang menghadap Sang Pencipta. Dalam perjalanan itu kita memerlukan “sahabat abadi” yang menemani. Kira-kira “sahabat abadi” seperti apa yang kelak akan menemani Anda?

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

20 thoughts on “Sahabat Abadi”

  1. Bejo says:

    Merinding…

  2. andika says:

    Alhamdulillah.. Barakallah untuk mengingatkan kembali kek Jamil..

  3. akhnurhadi says:

    terima kasih Kek Jamil…. sudah mengingatkan…
    kita punya Harban, Ais, dan Ashlih…
    hanya ashlih yang akan menemani kita sampai alam kekekalan…

    harban: harta benda
    Ais: anak isteri
    ashlih: amal sholih…

  4. Tiga kek, amal jariyah, ilmu yg bermanfaat dan do’a anak yg soleh :). Salam SuksesMulia kek.

  5. boeloek says:

    tidak ada yang sia2 di dunia ini…harta yg digunakan dijalan Allah serta amal kebajikan selama didunia…semua akan diperhitungkan dihadapanNya. Begitu pula dengan anak serta suami/istri…bukankah mereka juga ladang IBADAH buat kita kelak dikemudian hari?…dan yakin pula bahwa Allah akan mengabulkan permohonan hambaNya…termasuk do’a seperti ini: YA ALLAH, PERTEMUKAN KAMI kembali diakhirat nanti dihadapanMU…KARENAnya..JADIKAN KAMI KELUARGA YANG SELALU BERSYUKUR dan saling MENYAYANGI…dengan tetap BERGANDENGAN TANGAN guna menghalau GODAAN dunia yang sementara dan SEMU ini…*amiiin*

  6. Anggit Setyaningsih says:

    Banyak2 beramal shaleh krn itu yg akan menemani kita kelak..

  7. annisa says:

    Saya jadi takut, semoga kita termasuk org2 yang beriman hingga hari akhir

  8. aandes says:

    mantep testimoni nya pak…… makasih

  9. bagus says:

    jadi teringat kembali dengan amal saya.. sudah berapa banyak tabungan yg dibuat, dan berapa banyak amal yg hilang karena prilaku buruk kita

  10. antik says:

    subhanallah…alhamdulillah sudah di ingatkan kembali untuk senantiasa beramal baik selama hidup didunia fana ini,semoga kami mampu mendapatkan ketiganya,amal jariyah,ilmu yang bermanfaat dan doa anak soleh

  11. Nikke says:

    Subhanalloh…merinding…
    tengkyu pak jamil, insAlloh sangat2 bermanfaat skali 🙂
    Jzkmlh…

  12. Ano says:

    Salam sukses mulia
    Semewah mewahnya kita berkendara suatu saat nanti kita akn berkeranda.

  13. aannoe says:

    itulah 3 sahabat,harta,keluarga,dan amal.yg disebut terakhir adalah sahabat sejati.

  14. agiel says:

    takut baca ini.. Merasa blm siap punya bekal utk menemaniku nanti.. 🙁

  15. arif says:

    trimakasih telah mengingatkan utk memperbanyak amal, memang rugi sekali klo banyak kesenangan dan harta dunia tp ga punya “sangu” utk kehidupan setelah kematian 🙂

  16. erickazof says:

    Terima kasih sudah mengingatkan kek..

  17. yasya asgar says:

    jazakallah khoeron kasyiro,Aamin. anak yg sholeh tidak harus anak kandung termasuk juga anak asuh yg yatim, kata nabi bagi mereka yg memelihara /mengasuh anak yatim,maka disurga dekatnya seperti jari telunjuk dan jari tengah. wallahu a’lam.

  18. Nazarudin says:

    Membayangkan “wajah” amal kita di akhirat sungguh mencemaskan. Seperti apa wajah itu? Takut jika wajah itu buruk. Tapi sayangnya kebanyakan manusia tidak cukup berani dan ringan mengubah arah hidup dan tegas menuju yang ideal. Kebanyakan terjebak pada comfort zone. Bagaimana menurut Mas Jamil? Apa yang diperlukan untuk memunculkan keberanian itu?

  19. saeful anwar says:

    sahabat sejati kita berarti adalah amal soleh kita selama hidup ini.. jadi ayo kita tebar banyak2 energi positif kita utk klrga kita dan orang lain supaya kita bisa menerima dari energi yg kita lakukan.. ya itu iman dan amal soleh.. jadikan setiap aktifitas kita berniali IBADAH.. dengan diawali niat kareana Allah..
    semoga suksess…!

  20. deliana umary says:

    kata-katanya sungguh

    membuat aku terharu

Leave a Reply

Your email address will not be published.