Penyakit “Tetapi”

Banyak orang ingin kehidupannya terus berkembang dan bertumbuh. Namun setelah berganti bulan atau tahun, banyak dari mereka yang hidupnya tak beranjak membaik. Mengapa? Salah satu penyebabnya karena mereka punya penyakit “tetapi.” Mereka ingin berubah “menjadi” namun mereka menambahkan kata “tetapi” di belakangnya.

Tahukah Anda, kata “tetapi” itu menegasikan atau menghapus kata-kata positif di depannya? Kata “tetapi” menghalangi seseorang mencapai targetnya. Kata “tetapi” juga menciptakan ketakutan seseorang untuk mewujudkan harapannya.

Contohnya, “Saya ingin mengurangi berat badan tetapi saya sibuk tidak sempat olah raga dan punya penyakit maag.” Bila Anda seperti itu saya yakin berat badan tidak akan pernah turun. Karena, Anda sudah memvonis diri Anda tak punya waktu untuk olah raga. Anda juga telah menciptakan ketakutan akan kambuhnya penyakit maag bila Anda mengatur pola makan.

Banyak juga yang mengatakan, “Saya ingin bisnis tetapi modalnya tidak ada.” Pernyataan ini menutup berbagai peluang datangnya modal. ร‚ย Pernyataan ini juga menyebabkan kreativitas bisnis Anda tak ada. Anda menyalahkan kurangnya modal. Bukan hanya itu, kepercayaan diri Anda untuk menawarkan ide-ide bisnispun menjadi runtuh.

Dulu saya pernah mengindap penyakit “tetapi.” Sejak awal tahun 2000 saya sebenarnya sudah ingin menjadi trainer, namun saya menambahkan kata “tetapi”, “Saya kan bukan sarjana psikologi.” Saya juga menambahkan satu lagi kata “tetapi”, “Saya belum sukses kok bicara tentang sukses…”

Gara-gara penyakit “tetapi” ini kehadiran saya di dunia training tertunda 5 tahun lebih. Saya baru fokus di dunia training sejak tahun 2006. Alhamdulillah, saat ini tak ada lagi kata “tetapi” dibalik keyakinan saya untuk menjadi Inspirator SuksesMulia di Indonesia.

Sekarang, coba renungkan sejenak, apa impian-impian hidup Anda, apa target-target hidup Anda. Adakah kata “tetapi” di belakangnya? Bila ada, segera singkirkan. Bila Anda membiarkan kata “tetapi” itu masih ada, Anda tak akan mampu meraih target dan impian hidup Anda. Sekali lagi, usir penyakit “tetapi” dari target dan mimpi hidup Anda…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

21 thoughts on “Penyakit “Tetapi””

  1. Andi susilo says:

    Saya ingin sukses “tetapi” dengan cara yang menyenangkan, mudah dan menghasilkan.
    Hehehe…kalo gini gmana pak jamil?

  2. Anggit Setyaningsih says:

    Mulai saat ini sy berusaha membuang penyakit ‘tetapi’.
    Krna slma ini penyakit itu menempel pd dr sy.
    Sy pasti BISA!!

  3. Budi Santoso,S.Sos says:

    Mulai pagi ini akan sy amputasi “Penyakit Tetapi” dan akan buang jauh2 smp ke ujung dunia. Dan akan sy goncang dunia lewat BTM Kalibening, Banjarnegara.

    1. Eliya Tuzaka says:

      wah kalo buangnya ke ujung dunia nanti kalo ada yang nemu gimana, ya lebih baik dikubur dalam-dalam aja sampai pusat bumi biar gak ada yang nggali atawa nemu, ok !!! tetap semangat……

  4. Andika says:

    Klo depannya negatif berarti bisa menghilangkan negatfnya juga dunk pak ๐Ÿ˜€

    Saya Males banget tetapi…

  5. nuril says:

    iyaa bener, kata “tetapi” bisa menghapus kalimat di depannya. jadi saya sih sekarang bukannya membuang kata tetapi itu, melainkan menukar posisinya aja, kayak gini: “saya belom punya modal sih, tetapi saya tetep pengen punya bisnis sendiri” jadi mudah2an hambatan yg disebutkan di depan bisa terhapus dengan kata tetapi yg ada di tengah, dan terwujudlah kalimat yg ada di belakang kata tetapi itu.. ๐Ÿ˜€

  6. sunarmin says:

    Mantap Pak Jamil Penyemangat dipagi yang cerah ini. Terima kasih

  7. Khalik HR says:

    Mulai saat ini saya akan ganti kata “TETAPI” menjadi kata Yakin
    Semoga Sukses.Amin

  8. aliffian says:

    saya saat ini belum sukses tetapi saya harus sukses dan mensukseskan orang lain. Kalo gini penyakit gak pak? hahaha…
    Salam sukses mulia.

  9. Ano says:

    Wah komennya ah pa bagus2.
    Salam Sukses Mulia untk semuanya

  10. Prily Puriningtyas says:

    Tulisan ini membuat saya sadar akan kata-kata “Tetapi”.

    Mulai saat ini bisakah saya mengubur kata “tetepi” pada kehidupan saya?

    Saya pasti bisa dan harus bisa untuk membuang dan menguburnya…!! aamiin…

    Semoga Sukses Selalu Om Jamil…

  11. Citra says:

    Wah…terima kasih atas inspirasinya Pak Jamil, saya jadi banyak memflash back, banyak juga yang gara-gara si tapi banyak yang belum jadi-jadi nih.. ^^a

  12. didi says:

    USIR KATA TETAPI.!! HUSS… HUSSS…

  13. siti Mukaromah says:

    Jadi mulai saat ini aku harus bisa menempatkan kata”tetapi” yang harus menguntungkan kita !! Misalnya Aku sudah tua, tetapi semangat belajarku harus tetep muda !! Kalo gt boleh kan!!kalo gak nguntungkan kita buang aja!! Kata tetapi!! Bener pak Jamil!! Sukses sll!!!

  14. Jamil says:

    Terima kasih semua. Khusus untuk mbak Siti M, setuju banget. Salam SuksesMulia. Jamil Azzaini

  15. AMY says:

    Say NO to BUT.. ๐Ÿ™‚

  16. Hamzah says:

    Terima kasih pak Jamil,
    Betul kata “tetapi” melemahkan semangat dalam pencapaian Bintang Terang.
    Salam SuksesMulia tuk semuanya.

  17. Fahrul Rozy says:

    terima kasih artikelnya sangat inspiratif….

  18. chamid umar says:

    mudahan aja kata tetapi negatif itu bener-bener bisa kita kubur, agar bangsa ini bener-bener bener

  19. saya menyebutnya penyakit pembengkakan kelenjar alasan ๐Ÿ™‚

  20. syaifuddin maruf says:

    mm, kalau statement awalnya negatif kata *tetapi* bisa menghidupkan harapan lho, misal: “Sekarang saya memang bukan siapa-siapa, Tapi besok, saya akan menjadi seseorang yang berarti!” jadi, menurut saya tak selamanya penyakit tetapi harus dihilangkan, hehehe

    nice posting pak! ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published.