Memaafkan itu Membahagiakan

“Memoles” atau  mengkader orang adalah salah satu aktivitas yang saya sukai. Saya pernah membawa seorang teman dari daerah untuk saya poles di Jakarta. Dia punya potensi tapi hidupnya kurang beruntung di daerah asalnya.

Setelah melalui berbagai proses akhirnya ia tumbuh menjadi seseorang. Kehidupannya terus membaik dan sayapun ikut senang melihatnya. Namun pada suatu kesempatan ia “menjatuhkan” atau menghina saya di hadapan banyak orang. Saya merasa sakit hati. Saya terluka. Saya membatin, “Orang ini tidak tahu balas budi.”

Sejak saat itu, saya tidak pernah mau menerima teleponnya. Setiap SMS dari orang ini  langsung saya hapus tanpa saya baca sedikitpun. Ketika ia ingin ke rumah saya, sayapun tidak mengizinkannya. Saya selalu menghindar berjumpa dengannya… Satu orang ini telah “menyiksa” hidup saya.

Ketika istri saya di rawat di ruang ICU Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta ia datang bersama keluarganya. Saya tak kuasa menolaknya, walau dalam hati timbul perasaan tak suka. Dalam hati saya berdoa, “Semoga mereka cepat pulang.” Tapi Sang Maha Kuasa berkendak lain, ia dan keluarganya justru menemani saya cukup lama, dari pukul 10.00 sampai 14.00.

Usai makan siang anak pertamanya menghampiri saya, “Pakde, boleh foto bareng sama pakde?” Saya bertanya, “Buat apa foto bareng sama pakde?” Dia menjawab, “Ada tugas dari sekolah, saya harus foto dengan teman terbaik ayah saya.”

“Lho kenapa pilih pakde?” tanya saya lagi. Anak lelaki itu terdiam sejenak. Kemudian ia menjelaskan, “Sebab kata ayah, teman terbaik ayah adalah pakde. Makanya, setiap habis sholat di rumah kami selalu bersama-sama mendoakan pakde. Tadi waktu sholat di mushola rumah sakit ini kami semua juga berdoa untuk pakde dan bude yang sedang sakit.”

Penjelasan  anak itu menyadarkan saya, betapa selama ini hati saya terlalu kotor. Hati saya sempit. Saya menjadi orang yang pendendam dan tak mau memaafkan kesalahan orang lain.

Setelah itu, kuhampiri sahabatku. Saya jabat tangannya dan kupeluk erat, “Maafkan saya, terlalu lama buruk sangka kepadamu.” Sambil terisak dia berkata, “Aku yang minta maaf, mas. Aku telah mengecewakan mas. Aku tak tahu terima kasih. Maafkan aku ya, mas…”

Usai itu, suasana yang tadinya hambar menjadi lebih hangat dan akrab. Sayapun berfoto dengan berbagai gaya dan pose yang membuat anak sahabatku tertawa tiada henti. Suasana itu benar-benar menghiburku, meredakan ketegangan menungu istri di ruang ICU. Saya pun semakin yakin bahwa saling memaafkan itu benar-benar membahagiakan hati…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

30 thoughts on “Memaafkan itu Membahagiakan”

  1. Khalik HR says:

    Sungguh terharu dgn cerita pak Jamil pagi ini, kalau sy punya pengalaman sebaliknya pa, teman saya yang ngak mau memaafkan saya, mudah2an Tuhan membukakan hati teman saya .Amin

    1. Eliya Tuzaka says:

      Emang bener sich memaafkan bisa membuat lega dan ringan hidup ini… karena saya juga pernah merasakannya, tetapi yang masih sering terjadi tidak semua keadaan bisa dengan mudah kita memaafkan kesalahan orang lain. Itu mungkin yang memang harus selalu kita latih terus… dan terus….. dan saya kira proses hati untuk memaafkan juga harus diiringi doa kepada Allah SWT agar hati kita bisa dibuka untuk bisa memaafkan, Ok selamat berdoa dan berlatih untuk memaafkan orang lain dan diri sendiri…..

  2. Anggit Setyaningsih says:

    Terharu bgt bacanya.. 🙁
    Mulai sekarang harus bisa meniadakan dendam.
    Kl bs hrs minta mf duluan 🙂

  3. Renaldy says:

    Wah… ceritanya mengharukan pak jamil, apa itu pengalaman pribadi?

    Salut saya pada pak jamil, sukses mulia…

  4. Firman says:

    Terharu hiks hiks. . Thanks Pak Jamil. .

  5. Budi Santoso, BTM Kalibening- Banjarnegara says:

    Itulah syaitan yg membuat kita susah memaafkan seseorang, apalagi haram kita marah dgn seseorang melebihi 3 hari. Pdhal kita punya sifat hanif (cenderung kepada kebenaran), dan kadang strata sosial juga membuat kita egois utk memaafkan seseorang yg stratanya dibawah kita. Salam SuksesMulia!!!!

  6. Ano says:

    Pagi yg cerah, membuat hati semakin cerah dg memaafkan.
    Salam Sukses Mulia
    Ano #BandEntrepreneur
    http://www.anoisme.blogspot.com

  7. Ay-Ay Ranti says:

    Ngena banget. Terima kasih pak Jamil sudah mengingatkan saya tentang Surga …

  8. nenny says:

    kakeeeeeeeeekkkk..
    kebetulan sekali, saya lagi ada masalah yg menyakitkan, dan buat proses healing dan menguatkan hati, saya juga pasang profile picture BB yang gambar sama dgn ini.. Forgiveness ini, sudah dua hari pakai PP itu.. kok bisa sama,
    alhamdulilah tulisan ini makin menguatkan saya….

  9. nenny says:

    oiya, satu lagi yg saya jadi belajar, klo sampe menyakiti hati orang lain, tidak pernah lelah berusaha “mendekati” walau apapun reaksi orang yg kita sakiti di masa lalu itu, Allah yg menuntunnya untuk bisa memaafkan. (padahal biasanya saya pasti mundur kalo sudah dikasari, menerima sebagai bagian dari “punishment” atas kesalahan menyakitinya, tapi habis itu ga berusaha lagi).. semoga saya menjadi lebih ikhlas memaafkan orang lain dan juga tidak pernah lelah mengejar maaf dari orang yg saya sakiti (semoga sih ga akan ada lagi dimasa depan)

  10. Jamil says:

    Terima kasih untuk semua yang sudah memberikan komentar, semoga hati kita semakin luas. salam SuksesMulia. jamil Azzaini

  11. Indon Novo says:

    Selalu, Selalu membuat haru dan menginspirasi… Salut Pak.!

  12. isw_banna says:

    Ya Alloh, ustadz kayaknya punya segudang cerita hikmah dr pengalaman pribadi,,, like this. semoga temen2 yg pendendam baca tulisan ini

  13. bejontung says:

    Berat dilakukan, tetapi setelahnya menjadi ringan. Itulah memaafkan. Salam

  14. Jamil says:

    Mas Renaldy, ini memang pengalaman pribadi, khan ditulis di blog pribadi, he..he,,,Salam SuksesMulia. jamil Azzaini

  15. andri says:

    saya terharu pak 🙁

  16. mas apri says:

    Berkaca kaca mata saya.
    Terharu hiks.
    Trims mas jamil

  17. amrunofhart says:

    nich cerita nendankk bangetz…mohon ijin untuk copast semoga bisa “mengobati” setiap orang yang memiliki pengalaman yang sama atau sejenis.
    jazakillah ustadz.

  18. Nisa says:

    selalu menginspirasi ceritanya, kadang qt tdak tahu pikiran seseorang,….
    sukses mulia pa

  19. fenty says:

    Ampe nangis bacanya … Terharu banget… Smoga setiap dari kita diberikan kelapangan hati. Amin

  20. asmi says:

    subhanaLlah, pengalaman hidup pak Jamil selalu menginspirasi. kejadian2 yang mungkin dianggap sepele, menjadi begitu menggugah jika diceritakan oleh pakJamil dengan bahasanya yang khas.

  21. Kirman says:

    Inspiring sekali Pak… Saya pun dulu pernah mengalaminya. Dunia rasanya begitu sempit, papasan saling menghindar, tidak mau hadir di satu tempat bersamaan… pokoknya menyiksa. Setelah saling memaafkan, dunia rasanya legaaaa… 🙂

  22. Hafidz says:

    dari kisah ini, bapak pantas menjadi org sukses dan mulia …
    terima kasih pak atas ilmunya.

  23. chamid umar says:

    Yaaah gak bisa ngomong deh….

  24. aswinda paturusi says:

    memaafkan seseorang lebih baik walaupun ia tidak mengetahuinya akan membuat batin lebih tenang. daripada tidak memaafkan akan menjadi dendam yg meresahkan hati.

  25. ipan sopandi says:

    Nangis sya. Subhanallah.

  26. neeta78 says:

    awalnya saya cuma baca ttg tweet bapak yang tentang memaafkan..trus sy balas dgn mention langsung ke bapak..alhamdulillah ketemu postingan blog ini. Yah, mirip-mirip lah pak kejadiannya. Bedanya, kalo bapak kan gak tinggal serumah dengan sahabat bapak itu, kalo saya tinggal serumah..jadi eneg sehari-hari liat mukanya (uupppss)..tapi ya sudahlah, total 3 hari kembali 0-0..emang maen bola ? hehehe

  27. rayyan says:

    Terharu banget baca’nya
    Kadang sy jg merasa egois ga pernah mw memaafkan org yg pernah menyakiti sy

    Makasih pak Jamil
    Sdh membuka mata hati sy

    Doakan agar sy menjadi org yg pemaaf dan bukan pendendam

  28. orang jogja says:

    semoga “orang jogja” mau memaafkan floren

  29. sugeng says:

    Kisah yang penuh makna…..memotivasi kita agar selalu berlapang dada

Leave a Reply

Your email address will not be published.