Jangan Menabung

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang teman lama. Kami melepas rindu dengan saling bercerita tentang pekerjaan, keluarga dan teman-teman kami. Diantara berbagai obrolan terselip cerita yang menggelitik pikiran saya. Teman saya ini ternyata sudah menyediakan tabungan kuliah S-2 untuk anaknya yang baru lulus TK. Anda setuju?

Saya termasuk yang tidak setuju. Menyiapkan masa depan anak bukan dengan jaminan tercukupinya dana. Seharusnya, anak diberi bekal kemandirian, semangat berjuang dan keahlian yang dibutuhkan di masa depan. Persiapkanlah anak kita untuk berani dan mampu menjalankan kehidupannya di masa yang akan datang. Sungguh memalukan bila kuliah S-2, masih berharap biaya dari orang tua.

Menabung memang sudah dianggap sebagai budaya yang sangat positif. Orang tua sangat senang apabila tabungan anaknya berlimpah. Para guru di sekolah akan memberikan tepuk tangan bila ada murid yang saldo tabungan sekolahnya cukup tinggi. Apalagi anak-anak, mungkin mereka akan memamerkan tabungannya itu kepada teman-temannya.

Apakah tidak boleh menabung? Tentu boleh. Tetapi di era yang masih banyak orang melarat dan hidup susah, anjuran menabung seharusnya ditujukan untuk kepentingan akhirat. Anjurkan anak-anak kita untuk bersedekah, itu tabungan yang akan menyelamatkan kehidupannya di akhirat. Bukankah kehidupan akhirat jauh lebih penting dari kehidupan dunia?

Kemarin saya mendapat sebuah pelajaran tentang “menabung”. Saat anak saya mendapat hadiah uang tunai dari saya karena prestasinya di sekolah ia mengajak teman-temannya yang belum pernah ke Kidzania untuk pergi ke tempat itu. Ketika saya bertanya, “Apa tidak sebaiknya ditabung, nak?” Jawaban anak saya sungguh menampar nurani saya, “Bukankah menyenangkan teman-teman itu tabungan yang lebih keren, pak!”

Melihat dan merasakan keceriaan anak-anak di mobil dan Kidzania, saya merasa pilihan “tabungan” anak saya tidak salah sasaran.  Mari kita menabung untuk keceriaan orang lain, jangan egois dan jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan Anda. Tabungan yang membahagiakan orang lain akan membahagiakan kehidupan Anda di kehidupan yang abadi…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

37 thoughts on “Jangan Menabung”

  1. gun gun says:

    “Bukankah menyenangkan teman-teman itu tabungan yang lebih keren, pak!” like this Pak Jamil … ]

    Terimakasih Pak sudah sharing …

    Salam Sukses Mulia

  2. Mantap

    Sedekah tanpa Syarat

    @dr_want

  3. Menabungnya di alam saja (epos) dan untuk di akhirat (pahala).

    Pesannya jelas dan lugas Pak Jamil.

    Kapan-kapan tolong bahas yang ini ya guru, “Persiapkanlah anak kita untuk berani dan mampu menjalankan kehidupannya di masa yang akan datang”

    Terima Kasih,

    Salam SuksesMulia

  4. Nova says:

    Salam,,

    Keren Kek tulisan nya,, membahagiakan orang lain, itulah yang disebut tabungan abadi,,

    seratus Jempol buat anak nya kek,, pelajaran berharga tuh,,

    trims ilmunya,,

    Salam SuksesMulia

    Nova
    JayaBerkah

  5. Hery Susanto says:

    LIKE FATHER LIKE SON/DAUGHTER

  6. WOW

    Inspirasi buat calon orang tua 🙂

  7. egha says:

    subhannallah babeh,,ank2nya jawara deh,,, 🙂

  8. anita says:

    subhanallaah 🙂

  9. Esti says:

    Pingin anak2ku jadi gemar menabung untuk akhirat juga.. Semoga

  10. Sungguh luar biasa pak Jamil,
    sedekah tidak hanya memberi kepada yang kekurangan harta namun juga sedekah untuk kebahagiaan sesama ya pak.

    Salam sukses mulia

  11. @mekoh1268 says:

    iya ya…kita masih sering menggunakan cara-cara ‘tradisional’ untuk mendapatkan hasil yg ‘modern’

    Kita masih sering berorientasi kepada ‘sempit’ nya dunia dibanding kepada ‘luas’nya dunia-akherat.

    Terima Kasih Guru untuk tulisannya hari ini.

    Salam Sukses Mulia.

  12. brahmantio says:

    setuju pak

  13. ratna says:

    uummm…klu saya memang lebih suka uang itu gak ditabung, padahal saya juga financial planner..tapi perspektif saya lebih dari sekedar “mnyenangkan teman2″…sy lbih suka dimaksimalkan nilai intrinsiknya secara intensifikasi dan ektensifikasi…dan tentu saja berbilai duniawi dan ukrawi serta mnyenangkan keluarga, teman, saudara serta handaitaulan..bahkan mnyambung silaturrahiim..pd yg belum anda kenal sekalipun…

    tertarik ?!..yg mau tau detailnya bisa hubungi saya..

    Ratna
    We Serve Intellegence

  14. Motty says:

    [^_^]

    harus banyak-banyak belajar dari anak-anak ya Mbah

  15. Wahhh subahanallah.. Bener bener pakkk, setuju..

  16. Saya rasa anjuran ini baik untuk dilaksanakan, mudah-mudahan banyak yang membacanya. Sehingga tidak terlalu khawatir thd biaya pendidikan anak-anak kelak

  17. Eko Sutrisno HP says:

    Salam.

    Pola pikir mas Jamil ini memang nyaman untuk disantap.
    Rasanya rame ….!:-)

    Tks sudah banyak memberi pencerahan.

    Salam sehati

  18. dini says:

    Luar biasa dek hana! Orang dewasa aja susah diajak berpikir spt itu, apalagi berbuat.

  19. prima says:

    Alhamdulillah Allah mberi sy petunjuk yg jelas, slm ini sy sll ragu2 apakah sedekah atau menabung, krn sy sll berpikir kalau dtabung blm tntu rejeki berbeda bila sedekah جَزَاك اللهُ خَيْرًا O:)

  20. Isa Koswara says:

    Adikku juga pengen ke kidzania. Belum bisa saya kasih hadiah kesana untuknya. 🙁

  21. yasya asgar says:

    Sangat terkesan dengan ahklak putra putri pa Jamil. ya Allah ijinkanlah keturunan hamba seperti mereka meskipun hamba baru sedikit memberi ketauladanan. Aamin.

  22. zuhri says:

    Likethis… very inspiring…

  23. Widia Rifki says:

    mantapp

  24. yayah rochayah says:

    betul banget pak! tabungan yang hakiki adalah tabungan di sisi-Nya,dgn beramal kpd sesama yg membutuhkan…

  25. Mohon berkenan memberi ilmu kepada saya: Bagaimana bapak bisa membimbing Anak seperti anak bapak?

  26. Dahlia says:

    Anak-anak syurga memang dikirim Tuhan untuk mengingatkan kita jalan menuju syurga. Karena kadang orang dewasa mulai melupakan potensi menemukan “jalan pulang”nya. Pembelajar mulia pasti meletakkan anak-anak di daftar utama guru mereka.

  27. jacket says:

    harus selalu membaca artikel bapak biar selalu tercerahkan

  28. supardi says:

    Super sekali, orang yg bersodaqah akan mendapatkan 2 kesenangan yaitu kesenangan d dunia dan kesenangan d akherat

  29. robet dwi putra says:

    Bukankah menyenangkan teman-teman itu
    tabungan yang lebih keren. Amazing merinding saya membca kalimat itu pak. . Smga slalu diberikan kebahagiaan dunia dan akhirat bwt kita semu. Trimaksh pelajaran pagi ini pak.

  30. AMAT sangat SEPAKAT sekali pak!

    SALAM SUKSES MULIA…

  31. dennysalaki says:

    Asslmkm, bru b’knjung k artikel n bc lgsg dpt pngalaman spt mas SELAMET HARIADI, merinding ktka jwbn anak pak Jamil.
    Dahsyat pak, izin share ya pak?!

  32. Abdul Malik Badeges says:

    Sangat bagus.Tapi, menyenangkan teman-teman yang kekurangan, panti asuhan banyak, pesantren anak yatim itu jauh lebih bagus. Sekedar masukan saja. Itu yang menurut Ana “investasi akhirat” yang sebenarnya..

  33. Anan Prayz says:

    “Bukankah menyenangkan teman-teman itu tabungan yang lebih keren, pak!”

  34. nisa kardian says:

    like this…ijin share 🙂

  35. leo says:

    Artikel yng sangat singkat..padat.tepat..n inspiratif banget..top markotop..jazakumullah..

  36. nursila says:

    “Jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan anda…..” jadi selalu berusaha menyenangkan orang lain kek??

  37. sari mulyenis says:

    Subhanalloh…sangat menginspirasi…semoga dapat merubah pandangan Masyarakat kita dan Anak2 kita yg selama ini di jejaLi dgn cara berfikir yg teksbook. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.