Jangan Asramakan Anakmu

Senin (9/1/2012) kemarin saya bersilaturahmi dan berguru kepada orang-orang berilmu di Bogor. Saya ingin mendapat inspirasi dari mereka tentang apa-apa yang bisa saya lakukan untuk kemajuan Bogor dan bisa diterapkan untuk kemajuan saya pribadi. Sengaja saya menggunakan angkutan kota (angkot) dan ojek untuk berkunjung ke tempat mereka. Walau malamnya saya kemudian meriang karena masuk angin, saya mendapat banyak inspirasi dari para sesepuh Bogor tersebut.

Salah satu ilmu bergizi saya peroleh dari Farid Poniman, seorang yang mendalami tentang kerja otak manusia. Beliau ini sengaja berguru hingga S-3 di Malaysia untuk memperdalam ilmunya. Intisari ilmu yang saya peroleh darinya adalah, “Jangan asramakan anakmu sebelum usianya lebih dari 12 tahun.”

Menurut beliau, anak-anak di bawah usia 12 tahun gelombang otaknya harus dominan gelombang Alpha. Mereka harus lebih banyak bermain, bergembira, dan belajar dengan cara yang menyenangkan serta sering mendapat pelukan dari orang tuanya. Pilihlah sekolah yang tidak terlalu banyak memberikan PR (pekerjaan rumah). Dan jangan sekali kali anak-anak di bawah 12 tahun dikirim ke Asrama termasuk pesantren sekalipun. Bila Anda lakukan ini, Anda menghancurkan masa depan mereka.

Anak-anak masih mudah depresi menghadapi lingkungannya, dan saat ini terjadi ia harus mendapat pelukan dari orang tuanya. Hal tersebut sejalan dengan riset yang dilakukan University of Bologna di Italia yang menyarankan kita untuk memberikan pelukan pada anak yang sedang mengalami masalah dan depresi.

Menurut hasil riset itu ternyata pelukan lebih efektif ketimbang obat-obat antidepresi. Ini terlihat pada anak-anak yang mengalami depresi dan diberikan obat antidepresan, ternyata mereka memiliki kecenderungan untuk kembali depresi. Hal berbeda terjadi pada anak yang didampingi orangtuanya untuk melalui periode depresi. Bahkan hanya dengan pelukan hangat dari kedua orangtuanya, anak yang mengalami depresi bisa lebih percaya diri untuk menyelesaikan masalah.

Hasil penelitian di Duke University dan University of Adelaide di Australia juga menyatakan bahwa pelukan dan sentuhan bisa memicu perubahan kemiawi otak. Perubahan itu berupa peningkatan kadar inteleukin 10, yakni sejenis molekul di otak yang menghambat efek berbagai jenis narkoba. Dengan kata lain, anak-anak yang sering mendapat pelukan tidak akan mudah terkena narkoba dan hal-hal negatif lainnya.

Niat baik orang tua yang mengirimkan anaknya ke asram atau pesantren sebelum usianya 12 tahun kemungkinan besar akan berdampak buruk bagi pertumbuhan anak itu di masa depan. Boleh jadi ia hebat saat ini, boleh jadi ia telihat gembira saat ini. Tetapi di masa tua peluang menjadi “trouble makernya” sangatlah besar.

Jadi, boleh percaya atau tidak, tapi saran saya jangan coba-coba mengirimkan anak Anda ke asrama sebelum usianya 12 tahun. Seperti pesan iklan obat gosok, “Untuk anak kok coba-coba….”

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

112 thoughts on “Jangan Asramakan Anakmu”

  1. Widar says:

    Setuju. Keluarga sangat berperan penting dlm membentuk karakter seseorang. tapi sayang di masa ini, orangtua banyak yang lupa akan hal ini.

  2. bukik says:

    Setuju. 12 tahun waktu yang cukup buat membekali anak dengan karakter dasar. 12 tahun adalah masa bagi keluarga memberi warna pada anak. Bagaimanapun, keluarga adalah kunci

  3. yulia says:

    Setuju, Kek..
    Sepanjang pengamatan saya, kebanyakan orang tua ‘muda’ yang saya kenal, tidak bisa bahkan tidak mau mendeteksi kapan anaknya depresi.
    Contoh, ada tipe anak yang saat mendekati ujian itu, malas mengulang pelajaran, malah dipaksa belajar. Beberapa hari menjelang ujian, anak depresi sampai demam. Yang ada si anak malah ikut ujian susulan. Belum resiko raport merah.
    Tidak ada kuliah khusus menjadi orangtua, ya kan, Kek? πŸ™‚

  4. pipin says:

    anak sy msh kls 3 sd, susah untuk dicium bahkan ditawarkan dicium ngga mau..beda sm kakaknya,gmn dong.

    1. handitya says:

      waahh mirip dengan saya (dulu, waktu kecil). yg penting ayah+ibunya harus mesra dulu, atau sering meneladankan untuk mengekspresikan kasih sayang. good luck

    2. eve says:

      mungkin dia punya pengalaman buruk soal cium? mungkin dia tidak suka pipinya basah sehabis dicium, atau bau mulut/ tubuh orang yang mencium?
      tapi pasti ada ekspresi lainnya yang bisa dilakukan, peluk erat, usap kepala, genggam tangan, atau sekedar tatapan sayang terkadang sudah memadai.

  5. Anggit Setyaningsih says:

    Siip, jd ilmu buat masa dpn.
    Masa anak2 mmg untk bermain & bersenang2 πŸ™‚

  6. adi setiadi says:

    ilmu yang bermanfaat terima kasih pak..

  7. MdarulM says:

    Hem, dari kecil saya sudah jarang di rumah, dan ternyata emang banyak hal yg hampir tak bisa dinikmati…hmmmm begini yah aku baru tahu masalahku

  8. nurul huda says:

    saking penasaran dengan tema ini saya tadi malam mantengin TL terus nunggu tweet dr pa jamil.. ternyata nongol d sini hehe.. makasih pak.. mau saya sampaikan k kakak saya yang masukin anaknya k pesantren pdhl baru umur 7 tahun

  9. betul sekali pak jamil..memang anak-anak yang dibawah 12 masih sangat membutuhkan kasih sayang dan pada masa itu merupakan masa golden age…yang harus di arahkan oleh orang tua. kadang orang tua tidak mau di repotkan oleh anak-anaknya sehingga jalan pintasnya mereka mengirim anak-anaknya ke asrama/pesantren.

  10. enung suwarnie says:

    jadi tepatnya usia berapa anak boleh diasramakan?

  11. Joko Mukti says:

    dr tulisan Bapak sepertinya kok ga ada positifnya output anak yg diasramakan-pesantrenkan sblm usia 12thn. Apakah para pendiri pesantren tsb ga ‘paham’ mslh kekhawatiran ini. Apakah sebagian besar outputnya bnr2 saat ini mjd trouble maker. Sayang tulisannya hanya satu sisi ‘ga setuju’, n sayang utk seorang Pak Jamil …

  12. Pak Joko Mukti, setahu saya Pondok Modern Gontor yang memang sebagai rujukan Pesantren Modern tidak menerima santri yang belum lulus SD. Salah satu guru Spiritual saya Ust Muzakir di Solo juga melarang memasukan anak yang belum berusia 12 tahun ke Peantren. Terima kasih atas pandangan Anda, teapi saya tetap pada pendapat Anda. Salam SuksesMulia

    1. Joko Mukti says:

      Ga masalah beda pendapat kok, Insya Allah mjd rahmat, maksud saya dg hanya satu sisi spt itu spt mjd justifikasi ada yg salah n ada yg lbh benar, sy pribadi ga menafikkan ada yg berpendapat setuju, mgkn ada tulisan lanjutan yg lbh lkp yg memberi referensi dua arah. Salam SuksesMulia juga ..

    2. tedi says:

      sangat inspiratif, terima kasih Pak Jamil Azzaini.
      sebagai pembanding, coba cari informasi dari orang2 yg semasa kecil masuk asrama dan bagaimana mereka saat dewasa.
      sekedar informasi dari orang yg sejak kecil jauh dari orangtua (bukan asrama, tapi ikut kerabat), ketika dewasa ada ruang KOSONG di hati.

  13. Ardha says:

    Makanya tadi pak Jamil nulis tentang “perbedaan pendapat” di twitter.. hehehe πŸ˜€

  14. Maryono says:

    haduhhhhh …
    sejak 7 tahun saya sudah di panti asuhan pak Jamil πŸ˜€
    Itu sih karena permintaan saya sendiri. Semoga berefek baik ya pak, heheheee ….

  15. ristiwati says:

    Saya sangat sependapat dgn tulisan pak jamil,pengalaman sy dari bayi sering jauh dari org tua (sy dititip sm nenek) bahkan tamat SD sy dimasukkan pesantren,sy mmg tumbuh jd anak yg mandiri,lbh menonjol di bidang akademis sewaktu sekolah,tetapi saat dewasa saya hanya menjadi org yg tdk percaya diri,tdk bisa berani bertindak yg sebenarnya sy mampu,sy menjadi manusia dewasa yg rapuh,saya sadar kurangnya kasih sayang dan pelukan sewaktu kecil mmg sgt berpengaruh thd pembentukan karakter ssorg,dan sy bertekad tdk mau mengulangi kesalahan yg sama,saat ini sy sdh memiliki seorang anak,sy bertekad
    Akan memberikan perhatian yg maksimal dan selalu mendampinginya,terima kasih pak atas ilmuNya,semoga bermanfaat bagi semua org tua demi penerus masa depan yg lbh baik

  16. Istianah says:

    sepertinya saya g akan rela tuk melepas anak utk jauh2 dari saya, pengennya justru terus bisa ksih pelukan dan kehangatan dlm dirinya, agar anak tahu bahwa dia memiliki keluarga yg sayang dan peduli dengan dia.

  17. Ano says:

    Setuju bgt, memang secara sikologis apabila masa kecil kurang bahagia akan berpengaruh ketika sudah dewasa.Secara mental akan berbeda.
    Salam sukses mulia tuk semua pembaca web ini.

  18. Cecep Saprudin says:

    Saya mau tanya Pak, dampak buruk apa yg mungkin terjadi bagi pertumbuhan anak itu di masa depan ? Kalau itu sudah terjadi bagaimana solusinya Pak? Trmkash atas jawabannya.

  19. boeloek says:

    Padahal usia sebelum 12 th, mereka sedang ‘giat2nya’ menuntaskan pola pikir abstraknya (kognitif) skaligus belajar untuk melatih kelihaian dlm berempati (emosi/sosial). Kalau tahapan ini saja tdk tuntas…wajar saja kalo ‘tugas’ dirinya untuk melihat kehidupan luar tdk secara HITAM PUTIH. (Tahapan lewat usia 12th),…menjadi KACAU..*uffh..mengenaskan*

  20. ita rosita says:

    pak, saya menyekolahkan ketiga putri kami di salah satu Islamic Boarding School, disana tersedia SMP dan SMA. Saya dapat lebih banyak dampak positifnya terbukti dengan diterimanya anak saya yang tertua diterima disalah satu Institut Teknologi ternama di Bandung sekarang anak saya yg baru lulus sd pun bisa konsentrasi belajar, potensi mereka dapat terlihat oleh para pendidik. Mudah2an Anak-anak kami dapat mencapai cita2nya dan memiliki ahlak yang baik.

  21. anwar_sy says:

    ah bisa aja tuh yang nulis……. emang takut ama pesantren kali tuh orang amerika.

  22. nelli eka says:

    Sy pernah mendengar seorang ahli pendidikan menyarankan utk tdk mengasramakan anak sebelum tamat SMP, krn anak yg memasuki masa Pubertas, mengalami perubahan fisik n mental sgt butuh dampingan n bimbingan dr Ortu. Byk ortu yg mengejar prestasi akademik dgn mengasramakan anak dr kecil di sekolah bonafid, tetapi lupa bhw selain IQ, ada EQ dan SQ yg penting bwt perkembangn anak. EQ n SQ hanya bs ditingkatkan lewat interaksi dan keteladanan dari Ortu. Jgn sampe di kemudian hari, ortu mengeluhkan anak yg lebih tergantung dan hormat kpd org lain/teman drpd ke Ortu

    1. Ayi says:

      Betul, sy setuju. Ada sisi negatif ketika sikap/ perilaku anak berubah stlh masuk pesantren. Anak jd lebih banyak diam & jarang berbicara/ curhat ke orang tua. Lama kelamaan hubungannya akan jdi semacam formalitas belaka. Krn Sy lebih memilih dipercayai drpd dihormati. Krn jika anak percaya, dia akan terbuka ke orang tuanya. Tp jika anak itu hnya hormat, dia akan memilih diam & tidak mau berterus terang.

  23. Mahmud Rosid says:

    makasih atas pemberitahuannya Kek

  24. Sano says:

    Terlalu menggeneralisir. Bagaimana dg imam syafi’i dan muhammad alfatih yg dari kecil dah digembleng dan jauh dari org tua. Apa brani bilang mreka trouble maker?

    1. cecep says:

      Setujuuuuuuuuuu πŸ™‚

      1. Zulkifli says:

        Untuk anak umur diatas 12 tahun sulit di asramakan dipesantren bisa-bisa lompat pagar kabur.

    2. Dicky says:

      Yap, disatu sisi untuk anak2 yg potensi agamanya sudah muncul sejak kecil memang tidak jadi masalah. Namun untuk anak2 biasa (apalagi yg belajarnya masih dikejar2) maka apa yg ditulis pak jamil akan lebih tepat.

      Wallahu a’lam

  25. rahmat says:

    setuju!! saya lulusan pondok pesantren pak, saya masuk pondok umur 13 tahun, saat SD orang tua saya kurang memberikan perhatian, setelah smp saya di pondok, jadi komunikasi hambar sekali,, pikirkan kembali meng-asrama-kan anak anda jika anda belum memberikan kasih sayang penuh!!!
    Kyai saya pernah berkata:”pesantren terbaik bukan di pondok ini, tetapi pesantren terbaik adalah rumah dimana penghuninya saling mengasihi, saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling menguatkan di jalan Allah.”
    Salam Sukses mulia pak Jamil πŸ™‚

  26. Yudhi says:

    baca quote “pesantren terbaik bukan di pondok ini, tetapi pesantren terbaik adalah rumah dimana penghuninya saling mengasihi, saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling menguatkan di jalan Allah” langsung keinget bapak emak di rumah..subhanalloh..

  27. waduh…iki anakku baru mau masuk pesantren mas…pas 12 tahun

  28. adrie says:

    tentu saja bisa demikian, jika pesantren/asrama dijadikan solusi instan untuk mendidik anak krn orang tuanya samaa2 sibuk bekerja dan kurang memperhatikan kebutuhan psikologis anak(spt pengalaman masa kecil saya), pasti ada ruang kosong dalam jiwa anak ketika ia dewasa. namun jika pesantren dipilih sesuai peruntukannya sbg pendidikan akhlaq dan religi, di usia yg tepat dan pondasi kasih sayang yg adekuat, maka insya Allah kesuksesan masa dpn anak akan diraih dan akhlaq tetap terjaga. aamiiin… inilah cita2 yg ingin saya terapkan untuk anak2 saya.aamiin.

  29. anas says:

    bagus lah tu siapa yang bikin…!

  30. iwa says:

    pendapatnya terlalu memojokan sekolah berasrama/ pondok pesantren… coba liat dari beberapa sudut pandang yang berbeda, memasukan anak ke sekolah berasrama/ pondok pesantren bukan berarti orang tua lepas tanggung jawab tidak memperhatikan perkembangan anak, malahan harus selalu diberi dukungan contoh dengan menengok anak tersebut minimal 1 bulan sekali agar kita sebagai orang tua tahu perkembangan anak baik secara fisik maupun mental, baik secara akademis maupun sepiritual dan coba anda bandingkan dengan sekolah yang tidak berasrama dimana anak anda sekolah ditambah anda yg sibuk bekerja dari sore hingga malam baik itu ayah dan ibunya. apa lagi-dua duanya bekerja, malah ada salah satu murid saya tidak mau pulang kerumah masalahnya rumahnya dikunci karena kedua orang tuanya bekerja dan baru pulang jam 5 sore ?

    1. eka says:

      Setujuuuu,
      Saya juga berniat untuk memasukkan anak saya yang saat ini usia 8,5 tahun.
      Karena anak saya sendiri yang sudah meminta untuk mondok sejak usia 6thn.
      Dan sekarang ini masih mencari-cari tempat yang tepat.
      tadinya saya mau tunda hingga anak saya lulus SD, tapi ada kejadian yang membuat saya haerus mengambil keputusan saya akan mengabulkan permintaannya.
      Semoga menjadi anak yang paham akan agamanya.

      Apalagi sekarang ini banyak orang tua yang kurang paham akan agama. Daripada tidak ada yang membimbing??
      Yang penting kita sebagai ortu juga tetap memperhatikan, mamantau perkembangannya dan menjenguk anak ketika mondok.

  31. bunda dhimas says:

    Saya ada rencana mengasramakan anak saya(laki2) setelah lulus sd (tahun depan)karena saya single parents dan saya ingin anak saya mendapatkan figur ayah dari ustadz di pesantren,apakah keputusan saya ini tepat?

  32. vara says:

    anak saya di SDIT kelas 2,saya fikir sekolah di SDIT lbh “aman” dari sisi pergaulan tp ternyata kemaren ada kasus beberapa temannya nonton film porno dirmhnya lalu cerita keteman yg lain,krn anak saya slalu terbuka jd dia slalu cerita apa yg terjadi disekolahnya termasuk cerita temannya tadi walaupun dia tdk melihat tp saya sangat kuatir apa yg didengarnya akan berdampak buruk…dalam kasus ini manakah yg terbaik memindahkannya kepesantren agar terhindar dari pengaruh buruk temannya apa tetap disekolah tsb???

    1. Anonymous says:

      Itu slh 1 pertimbangan sy ingin masukin anak sy ke pesantren saat SD nanti krn pengaruh gadget luar biasa bisa mnjerumuskan anak ke hal2 negatif, sedangkan di pesantren anak jauh dr gadget. Tp sy jd ragu stlh membaca postingan ini. Smoga Allah memberi sy petunjuk yg terbaik

  33. evi apriyani says:

    qoute yang bagus sekali, kebetulan saya sedang mencari pesantren dan berniat mengirim anak saya ke pesantren kelas 3 SD nanti, dengan qoute ini bisa untuk bahan pertimbangan dengan suami. terima kasih….:)

  34. Hardy says:

    itulah mengapa kita harus jeli memilih tempat tinggal, jika saja pesantren/asrama dekat dengan rumah. bisa sejak dini anak udah belajar ilmu agama di Pesantren. siapa yang tidak kagum dengan sosok Imam Syafii.. umur 7 tahun udah hafal Al Qur’an, umur 12 tahun udah hafal al Muwatho.., sebelum usia Baligh udah sering mengajar menggantikan gurunya, anak sekarang 12 tahun Hobinya GAME…,

  35. akram supraja says:

    Ach itu teori yang masih perlu kajian lagi, kawan saya masuk ponpes ketika berusia 7 tahun hingga lulus SLTA dan berhasil menyelesaikan S2. Kini ia menjadi pejabat disalah satu departemen. Dia tidak memiliki masalah dan sangat matang. Jangan-jangan ada agenda lain dibalik “provokasi” orang Amerika itu ?

    1. cecep says:

      Betul itu!! Penelitian itu tidak bisa diberlakukan general untuk semua tempat dan untuk semua metode pendidikan. Apalagi untuk pesantren tahfidz quran. Karena sepertinya seolah-olah alquran yg tertanam di pikiran anak2 itu sia-sia saja. Padahal alquran adalah asy syifa (penyembuh) terbaik bagi penyakit jiwa. Maka jangan heran jika kita mendapati anak-anak penghafal quran lebih cepat matang jiwanya dibanding anak2 seusia lainnya.

      1. eka says:

        Saya lebih memilih anak saya masuk ke pesantren, daripada jadi ‘anak mall’.
        Saya lebih khawatir akan masa depan agamanya.
        Wong kita aja masih kurang pemahaman agamanya. Gimana bisa mendidik anak dengan baik.
        melalui pesantren, anak-anak kita di didik pemahaman agamanya.
        Saat ini kita sebagai orang islam, banyak yang malah ikut2an menjudge bahwa orang-orang yang masuk pesantren nanti bisa jadi teroris. Naudzubillaah, hal tsb merupakan fitnah yang sangat keji bagi saudara kita sendiri sesama muslim.

  36. Syukron, menjadi masukan saya…
    Cz selama ini saya rencana akan memondokkan anak saya di pondok gontor saat kelas 5 SD (usia +-10tahun).
    Bermanfaat artikel ini…ijin share ke Twitter saya @RvianaTanti.

  37. erliana says:

    Alhamdulillah ada pencerahan dr kakek.. Niat saya memang mengasramakan Anak saya..usia anak sy saat ini 6,5 thn.. Gak jadi ahh… Nanti ajah umur 12 Terimakasih…

  38. verdy says:

    justru usia anak adalah usia golden age, dalam islam justru masa anak2 adalah masa hafalan/berguru sama ulama, imam syafi’i bisa hafidz qur’an d usia 6 tahun demikian juga Imam Malik, Hanafi, Imam Hambali dan ulama2 besar lainnya yang di besarkan di Masa Keemasan Islam!!!! Anak usia dini dikuatkan aqidahx….sedangkan ilmu psikologi barat masih coba2/nisbi! Jangan terlalu mengagungkan ilmu psikologi …Wallahu A’lam bishowab…..

    1. Anonymous says:

      Iya.. benar. Ilmu yg paling benar dan lurus adalah quran. Titik.

  39. Ateng says:

    Ada plus dan minusnya, kenyatan terbalik dikeluarga kami, rata rata yang sukses dan mandiri adalah anak yang sudah terbiasa mandiri sejak dini dan jauh dengan orang tuanya sejak kecil, anak yang tidak pernah lepas dari orang tua bahkan sifat tidak mandirinya masih terbawa walapun sudah dewasa.

  40. Rifai Damanhuri says:

    Syukron ala hadzihi taujihat.
    1. Ada koneksi syaraf otak yang luar biasa pada usia 0-3 tahun (periode 1), lalu pada periode 2 terjadi “second burst of neural sprouting” (tahap kedua ledakan pertumbuhan syaraf pada usia 11-12 tahun. pada periode berikutnya terjadi reorganisasi secara struktural sampai umur 25 tahun.
    2. Setelah masa emas (golden years) usia 11-19 tahun merupakan masa kritis perkembangan anak, karena ada lompatan besar dalam perkembangan otaknya (Sara Johnson, 2009).
    3. Semua ada betulnya, hanya saja mari kita lihat dan cari solusinya.
    a. Kita perlu mengambil i’tibar, berapa banyak para ulama’ yang dicetak dari masa kecil di pesantren-pesantren sehingga dewasa menjadi orang yang berguna.
    b. Lihat dulu pesantrennya, siapa kyainya, (lihat di kitab Ta’limul Muta’alim).
    c. Lingkungannya, dan yang terpenting adalah kita harus menjadi “role model”…. Ingat.. putra-putri kita sedang ‘mengawasi’ kita.

  41. risna says:

    Penelitian itu ada benarnya pak jamil tapi untuk kalangan tertentu saja (mereka). Tidak tepat jika hasil penelitian itu digeneralisir. Apalagi untuk ulama2 besar islam.
    Jika kecilnya terdidik banyak main maka besarnya juga akan seperti itu main2.
    Jika kecilnya terdidik dan dipahamkan untuk mandiri maka besarnya juga akan seperti itu (mandiri).
    Bukankah masa golden age (hingga anak 12th) adalah penentu karakter seseorang dimasa dewasanya kelak?
    Salam sukses mulia pak jamil πŸ™‚

  42. fica says:

    alhamdulillah setelah saya baca “janganlah pesantrenkan aku”, saya merasa terobati. soalnya saya punya anak yg pertama terlalu banyak main, kalau d kasih tau cuma nempel sebentar kesanahnya lupa lagi. kalau anak yg ke 2 males dlm belajar baca. gimana y caranya???

  43. fitri says:

    sayangnya….jarang ada anak yang diasramakan yang diberi kesempatan untuk bicara tentang ” Perasaan ” mereka.Mengasramakan anak seakan mengurangi tugas anak dalam mendidik dan mengarahkan masa remajanya. Padahal tugas utama itu adalah milik kita orang tuanya. terima kasih untuk tulisan ini. Semoga banyak orangtua yang semakin paham apa yang dibutuhkan anaknya. Bukan yang diinginkan orang tuanya. Semoga banyak orangtua yang betul betul peduli dan benarbanar menganggap ” penting ” anaknya. Insya Allah semoga kita bisa menjadi orangtua yang diidolakan anak kita dan bisa membawa mereka menuju surganya. Dan, anak anak kelak bisa membantu kita menemukan surga kita.Amin

    1. Indy says:

      Setuju…

  44. elisa says:

    Salam. Benar apa yang Pak Jamil sampaikan, namun tidak menjamin juga setelah usia 12 th anak cocok masuk sekolah berasrama jika masa 0-12tahunnya anak tidak mendapatkan ‘kehangatan’dimasa kecilnya. beberapa kasus justru ketika keluar dari boarding (15 th atau 18 th) mereka ini kembali bersikap seperti anak2, cara berfikir yang tidak matang, emosi yang tidak stabil dll. Jadi menurut sy, orangtua perlu serius mendampingi dan menyayangi anaknya sejak msh kecil. sy amati mereka yg bermsalah, biasanya jarang mendapatkan “kehangatan” dari figur lekatnya di waktu kecil. apalagi jika pada saat berada di boarding, orang tua kurang peduli dengan apa yang dirasakan anak. orangtua merasa sudah membayar mahal boarding, mestinya anak2 ini tau diri dan boarding harus bisa menjadikan mereka anak baik2. orangtua menafikan perannya yg paling signifikan dalam membangun karakter anak. Bagi saya, anak (usia 12th+) mau ke boarding itu sebuah pengorbanan besar buat anak tersebut, ia mencoba ikhlas berpisah dg ayah ibunya, mau berpisah dg teman2 masa kecilnya, meninggalkan rumah yang selama ini nyaman baginya. jika semua pengorbanan anak2 ini tidak kita imbangi dg kedewasaan kita sbg orangtua yang tidak sj bertugas mengayomi kesejahteraan fisik mereka tetapi juga kesejahteraan psikologisnya, maka sy katakan kasihan sekali mental anak2 ini di masa depan. utk ortu yg punya anak di boarding, yuuuk sediakan slalu waktu kita utk anak2 tsb, mendengarkan cerita mereka, berkomunikasi bagai sahabat. buat yg nantinya pengen anak di boarding, siapkan dari sekarang, jangan kehilangan momen penting menyayangi anak2 itu secara tulus..jangan pernah berhenti belajar menjadi orangtua yg baik. Demikian urun rembug sy, mhn maaf jika kurang berkenan. salam

  45. kang deden says:

    sepakat kek, kalau itu mungkin lingkungan orang tua yang kondusip, di sisi lain banyak orang tua yang mengasramakan karena lingkungan yang tidak baik,. orang tua sudah banyak berkomunikasi rang tua sudah banyak menyentuh, namun kembali lingkungan sekitar yang mempengaruhi mengalahkan sentuhan orang tua. saya pengalaman pribadi keluarga saya semua diasramakan alias di pindok dari mulai umur sd kelas satu, ayah saya seorang guru dan tukang tahu saaat itu, dia seorang ayah yang baik ingin anaknya juga baik. ayah saya tidak ada niat untuk menghancurkan anak anaknya diasramakan. tapi ayah saya mengasramakan saya dan adik adik saya karena lingkungan di tempat saya dengan pergaulan anak anak yang keras, kriminal dll membuat anak anaknya di asramakan. dan saya sendiri tidak ada tuh rasa terbuang dan hancur masa depan justru saya bangga di asramakan, coba kalau saya tidak di asramakan mngkin saya jadi anak anak gak tahu diri. jadi bagi saya di asramakn tergantung kondisi dan lingkungan yang ada. coba bagi ortu yang gak punya bekal ilmu terutama agama akhirnya anak tidak tahu apa apa padahal masa pembentukan karakter pembiasasaanya harus terbentuk dimasa sebelum dewasa. dan alhamdulillah saya dan adik adik saya semua bahagia semua merasakan kenikmatan di pondok atau asramaa. saya bersyukur punya ortu yang mengasramakan saya dulu.
    alangkah indahnya kita kalau punya anak bisa bareng, sentuhan , komunikasi selalu dengan ortu dimasa kecil itu disarankan. itu juga bagi ortu harus betul betul memiliki bekal yang cukup bagaimana menyenangkan anak, bagaimana pola yang tepat .disarankan ortu banyak ikut pelatihan parenting kek…hehehe….rosulullah disaat umur waktu kecil dia sudahjauh dengan ortu karena disusukan di halimatusadiyah, akan tetapi semangat, cinta, dan kasih sayangnya terbentuk dengan lingkungan dimana ia tinggal….
    saya sekalian mau curhat juga kek, kasus dengan anak saya…anak saya sekarang di asrama umur 9.5 tahun, tapi itu keinginan anak yang meminta dipondok dengan alasan dipondok rame, bisa berbagi, bisa hafal quran, terus banyak temen .akhirnya saya dengan agak berat mengizinkan anak saya mondok. padahal saya memprogramkan anak saya keluar sd baru mondok karena saya masih mampu . namun sya kembali pada hati saya, suatu saaat dia tidak saya ijinkan mondok terus di saat saya mau mondokan setelah sd dia menjawab dulu waktu saya mau mondok ayah gak boleh sekarang saya yang gak mau gmn kek…maksihsalam syukur kek

    1. Anonymous says:

      Oh

    2. eka says:

      Kang Deden,

      boleh nanya, nakanya mondok dimana?
      Butuh referensi untuk anak saya yang tahun ini minta mondok.
      betul sekali, lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.
      Wong tetangga saya yang secara agama orangtuanya sudah bagus, sudah didik sedemikian rupa, tapi bisa kecanduan pornografi.
      Saya sangat takut hal tsb tertular ke teman2nya yg lain termasuk anak saya.
      Saya sudah mengunjungi beberapa ponpes diKudus dan Gunung pati.
      tapi di Kudus ga bs masuk karena usia anak sdh lebih dari 7th. Dan digunung Pati saya sudah cocok. Tapi alangkah baiknya jika saya mendapatkan beberapa referensi lagi agar anak saya bisa memilih sendiri mau dimana. Terima kasih.

      Mohon kirimkan referensinya ke ekamajid77@gmail.com ya.

  46. nuzulul says:

    alhamdulillah, nasehat ini mungkin baik bagi sebagian orang.

    tapi saya lebih memilih apa yang dicontohkan oleh Rosul, para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. insyaalloh Alloh selalu melindungi.

  47. refdianora salim says:

    Semua argument benar semua krn dilihat dr sudat pandang yg berbeda.
    sekarang tergantung niat orang tua.dan Ingat pertanggung jwban kita kpd Khalik atas kewajiban kita secara langsung kepada anak.bukan mewakilkan pengawasannya kpd oray lain.sampai usia 17 th anak masih butuh didikan orangtuanya secara langsung.

  48. apem says:

    di asuh sendiri aja dulu, kalo d asramakan ntar gak tau gizi & kesehatan makanan seperti apa, kan pengaruh ke pertumbuhan fisik dan ketahanan tubuh anak, takutnya kurus n sakit2an lagi

  49. rey says:

    ulus SD saya masuk rada “dipaksa” masuk pesantren/asrama. Padahal secara akademis nilai saya mumpuni masuk smp favorit. 3 tahun berselang saya keluar, dan masuk SMA. Entah kenapa yang terjadi bukanlah semangat belajar yang tinggi ketika keluar. Melainkan rasa penasaran yang tinggi terhadap hal baru entah itu positif/negatif.. Sehingga mengesampingkan akademis. Yang terjadi adalah ketidakmampuan mengimbangi pelajaran2 terutama MIPA di sekolah(padahal sudah ikut Bimbel). Karena ketika di Asrama kurangnya pelajaran2 umum yg sebenarnya potensi terbesar sudah terlihat sejak kecil. Saya sempat heran terhadap orang tua yang mematikan/tidak bisa melihat potensi anaknya itu ada dimana ketika kecil dan ujug2 memasukkan anak ke asrama. Mengenai pendidikan akhlak bukankah orang tua yang membentuknya dan mencontohkan nilai2nya. Kecuali anak itu memang nakal sulit di atur, buruk secara akademis, saya kira cocok di masukkan ke asrama/pesantren.

    1. uut says:

      hemmm,…………………kayaknya tempatnya yg gak pas. ada lho pesantren yg full akademisnya, kenceng aqidahnya, open mindsetnya, ahlul qur’an lagi.

      1. Anonymous says:

        Dimana itu ya? Namanya apa?

  50. kuraesin says:

    setuju, pangalaman anak saya yang berumur 8 tahun, semula saya bermaksud baik, dalam liburan sekolah, ingin anak memiliki pengalaman batin yang baik, maka saya bujuk anak untuk mengikuti pesantren kilat selama beberapa hari di salah satu pesantren terkenal di Bandung, anak saya sangat suka mengikuti permainan out bound, kebetulan dalam promosinya pesantren tersebut menyertakan akan ada permainan out bound, dalam pikiran anak saya out boundnya itu akan ada flying fox yang memang sangat disukainya, ternyata kegiatannya jauh dari harapan anak saya, tidak ada out bound yang diharapkannya, malah mungkin kegiatannya yang menurut anak membosankan, sehingga sampai sekarang dia sepertinya trauma, sebab setiap ada pembicaraan atau membaca pengumuman tentang pesantren kilat, dia seperti tegang dan enggan membicarakannya, meskipun diajak bicara dengan ringan saja, semoga pengalamannya tidak membekas sampai dewasa nanti, amiiin

  51. eddy suryono says:

    Variable permasalahan pendidikan sangat kompleks, tidak semua ortu mampu mendidik putra/i nya spt itu. Begitu juga pesantren. Klo kita mampu / tdk ada kesulitan ya silahkan, ttp klo ancaman / tantangan sangat dominant, asrama / mondok adalah solusinya dg catatan asrama /pondok yg mampu menumbuh kembangkan karakter harapan ortu. Alt pertimbangan.

  52. septi says:

    Assalamualaikum wr wb….Pak Jamil,

    Kalo menurut saya sih, anak itu tempat orang tua belajar juga, jadi g melulu anak yang harus belajar dari ortu. Justru ortu dititipkan anak oleh Allah SWT, supaya belajar jadi manusia yang lebih baik. Jadi klo mau punya anak shalih ya ortunya harus shalih, mau punya anak hafidz, ortunya juga hafidz. ini sejalan juga sama teori memantaskan diri punya Bang Ippho.

    Jadi klo anaknya doang di pesantren tapi ortunya g belajar ya sama juga boong….

    Terima kasih.

    Wasalamualaikum wr wb

  53. niky wahyuni says:

    Sy perempuan, Umur sy 23 tahun sekarang, sedang menjalani S2 di salah satu perguruan tinggi negeri di jogja. ketika umur 11 tahun sy masuk pesantren tamat SD ( sy masuk SD umur 5 tahun, jd lebih muda setaun dgn kebanyakan umur angkatan sy). Alhamdulillah, tidak kekurangan perhatian atau kasih syang dari org tua sampai detik ini. Alhamdulillah tidak ada yg bermasalah dgn nilai-nilai sy. Alhamdulillah justru sy merasa berbeda dari org kebanyakan yg menempuh pendidikan formal di luar pesantren. Sy dipesantrenkan 6 tahun dari SMP – SMA. ketika masuk ke dunia perkuliahan tidak minder sama sekali justru bisa mengayomi temanΒ² yg lain walau saya tidak ikut organisasi apapun slama kuliah. Mama bapak sy berprinsip, Allah lebih sayang kita. Lagipula contoh risetnya di amerika, meng’asrama’kan yg dimaksud mungkin di amerika. @wahyuninicky

  54. syarifah soim says:

    conditional, anak hebat bsa melakukan apa saja, imam syafii, alfath, sayid qutb itu tdk gratisan ibu nya kerja keras dan pengorbsnan u berpisah….

  55. Ayi says:

    Saya seorang dosen, bbrp mahasiswa saya lulusan pesantren. Karena saya dekat dengan anak2, mereka sering curhat tentang masalah mereka. Ketika saya tanya, sudah minta saran orang tua? Mereka jawab tidak. Beberapa jarang berkomunikasi curhat dg orang tua karena segan, takut, tidak terbiasa. Komunikasi pun sekedarnya saja.

    Menurut saya, umur 10-18 adalah masa dimana anak mengalami pubertas. Dari rasa penasaran, tertarik ke lawan jenis & memberontak. Masa2 itu seorang anak sangat butuh pendamping. Krn di pesantren,peran orang tua terganti oleh pengajar & teman krn merekalah yg ada di dekat mereka.

    Saya hanya mengumpamakan, ketika seorang belajar naik sepeda, akan ada proses dimana kita merasa takut, jatuh, grogi, salah belok, bahkan masuk selokan. Setelah berhasil, hal yg akan sering diingat adl saat2 konyol, memalukan, salah. Karena proses itu terasa indah stlh kita berhasil melaluinya.

    Apakah orang tua siap melewatkan proses tumbuh kembangnya anak? Mungkin bangga ketika bercerita “anak saya sekarang jadi penurut, rajin belajar, masuk PTN favorit”. Bagaimana jika ini, adek inget dulu waktu SMP sempet suka sama si A? Kakak inget dulu ngambek g makan waktu HP ayah sita pas nilai ujian turun?

    It is all up to you.

  56. Bunda2F says:

    Assalamulaikum wr wb.

    Saya ibu pekerja dengan dua anak, anak sulung saya umur 8 tahun sedang menempuh pendidikan di pesantren. Motif utama saya memasukan anak saya ke pesantren adalah agar ibadahnya terjaga.

    Setelah saya survei, ada beberapa pertimbangan yang saya ambil terkait keputusan ini, yang pertama saya merasa lebih aman menitipkan anak2 saya kepada ustaz dan ustazah ketimbang sama pembantu. Kedua dipesantren anak saya anak2 masih memiliki waktu bermain dan tidur siang ketimbang sekolah di full day school dan yang ketiga kesempatan untuk bermain game lebih sempit.

    Soal hasilnya nanti, saya berprasangka baik saja sama Allah swt, sebagai hamba saya hanya mampu ikhtiar dan berdoa semoga Allah swt menjaga anak2 saya yang sedang menuntut ilmu agama.

    1. tazriyah says:

      Bunda, anaknya di pesantren mana? Minta infonya ya bun… katna saya sedang cari” pesantren yg bagus untuk anak usia sekolah dasar… syukran jazakillah sblumny

    2. Anita says:

      Jadi bingung rencana mau masukin anak ke pesantren saat kelas 4 bsok..jadi gimana ini dg lingkungan yg kurang baik apakah bisa menunda sampe kelas 6 bsok saya takut ahlaknya tidak bagus..

  57. neneng says:

    Saya setuju dengan bunda, karna tidak semua pesantren seperti itu,saya punya 2 anak yang satu 7 tahun dan yg ke dua umur 5 tahun. dua-duanya saya masukkan pesantren, karna saya bekerja tetapi sy tidak lupa dengan pendidikan anak dn pelukan maupun kasih sayang, karna saya ingin anak-anak pendidikan agama terutama shalatnya harus lebih baik. Dan alhamdulillah setelah dimasukkan pesantren saat saya jennguk dan alhamdulillah bacaan doa wudhu,shalat juz amma dan yang lainnya mereka bisa,akhlaknya lebih terkontrol, bahasanya lebih halus dengan orang tua. semua itu tergantung doa orang tua. saat anak-anakdirumah jarang sekali saya mendoakannya, tetapi saat mereka di pesantren doa saya bahkan meneteskan air mata merupakan kekuatan buat mereka. Insya saya tidak akan menyesal memasukkan anak2 kepesantren USIA DINI

    1. umyy says:

      Bu neneng.. pesantrenys utk paud dmn bu

  58. mahfudz says:

    kalau di titip kakek neneknya sama dengan asrama g Kek?

  59. handoko says:

    yang dapat mempengaruhi kepribadian anak di saat kecil sehingga berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya, menurut sepengetahuan saya tidak hanya orang tua, namun juga lingkungan di mana mereka tinggal. mengingat jaman sekarang sulit sekali menolak tontonan televisi yang tidak bisa memberikan tuntunan yang baik, mengingat pula ketrbatasan orang tua menjaga anak selama 7 hari 24 jam karena kesibukan duniawi, maka tidak ada salahnya menitipkan anak di asrama pesantren yang dapat memberikan pendidikan dan tuntunan yang baik yang tidak dapat disediakan orangtua dan lingkungan di sekitar rumahnya. jika memang alasan pelukan orangtua dapat mengurangi rasa depresi anak, apa pelukan orang lain disekitar (deperti ustadz atau ustadzah) disekitaran pondok tidak mampu memberikan ketenangan. yang jadi pertanyaan adalah apakah bentuk pelukanya atau sosok manusia yang memeluknya yang dapat mengurangi rasa depresi anak? lalu bagaimana dengan rosulullah yang lahir dalam keadaan yatim dan menjadi yatim piatu di usia 6 tahun? contoh siapa lagi yang akan kita ikuti selain kehidupan rosulullah? klo anda berpikir ” itukan rosulullah” ingatlah bahwa beliau menjadi rosulullah di usia 40 thn, sebelum itu beliaupun hanya manusia biasa.

  60. zulva.ha says:

    Saya 13 tahun. saya merasa tertekan karena sejak saya SD, orangtua saya selalu mendorong saya agar saya masuk pesantren. Bahkan saya juga mengikuti kursus berbagai kitab yg akan dipelajari di pesantren nnt. Saya tidak tertekan karena kursus itu. Tapi saya merasa fokus belajar saya pada pelajaran di smp malah terganggu. alasan orang tua saya adalah karena mereka mengaku telah salah mendidik saya dan memutuskan agar saya menghabiskan masa remaja saya dipesantren agar lebih terarah.saya berpendapat bahwa orang tua saya sangat tidak bertanggung jawab terhadap saya. Mereka mengaku telah salah, tetapi mereka malah memasukkan saya ke pesantren. Saya jadi merasa terbuang. Selama ini saya memang sering stress dan depresi. Tapi saya anggap itu gejala2 masa remaja. Orang tua saya tidak pernah tau tentang masalah yg saya alami. Saya ingin orang tua Insdonesia jangan hanya melihat faktor agama jika memasukkan anak kepesantren. Anak butuh kasih sayang dan perhatian lebih. Jika memang orantua ada sedikit kesalahan dalam mendidik, perbaikilah bersama-sama. Rundingkanlah dengan anak. Jangan melemparkan masalah anak pada asrama dan pesantren. Remaja butuh perhatian lebih agar mereka tidak terperosok dan terbawa hal2 negatif di sekitar mereka. Remaja adalah masa penentuan masa depan yang harus dan sangat perlu ikut campur tangan orang tua.

  61. Indra says:

    Mungkin harus dilihat situasi dan kondisi nya, yg disampaikan oleh mas Jamil diatas adalah dengan catatan situasi yg ideal terutama sang Ibu yg hrs senantiasa berada dirumah dan dpt berinteraksi setiap saat. Dirumah anak2 tdk berinteraksi dgn lingkungan yg tdk mendidik seperti TV atau teman2nya yg tdk baik.
    Memboardingkan anak2 tdk berarti hrs memutuskan perhatian dan kasih sayang orang tua kepada anak2nya.

  62. azaleea says:

    Assalamualaikum wr.wb.
    sy adalah seorang ibu dengan anak balita laki2 (4,5 th) dan skg alhamdulillah sdg hamil muda.di usianya kini,anak sy sudah hatam juz 30.dia jg sudah bisa baca tulis alfabet sejak usia 3 th.sy jg sudah menggiatkan dia untuk sholat (walau baru maghrib dan isya) dr usia 2 th lbh. Skg sy sedang memfokuskan perkembangan mentalnya dengan menerapkan sikap mandiri dan bertanggung jawab di usia dia seperti membereskan sendiri bekas mainannya,memberi makan kucing2nya setiap pagi,dll.sy tidak bermaksud untuk pamer atau bgmn.tp mksd sy dsni adalah pendidikan yg terbaik adalah pendidikan dari org tua.semua hasil yg nampak sekarang adalah kerja keras sy karena sy ingin di usia SD dia sy pondokkan d pesantren dan dia jg tidak kaget dengan rutinitas barunya. Sy pernah mendengar ceramah dr kyai yg sangat sy hormati,bahwa “paksalah anakmu dengan cara tidak memaksa”. Jd ketika orang tua ingin memasukkan anakny k pesantren,jgn semerta-merta lgsg saat itu jg.harusnya dari kecil kita sudah membekali anak dan menanamkan rasa cinta k pesantren tersebut dengan sering mengunjunginya dan menceritakan bahwa d pesantren adalah tempat orang-orang hebat dan disayang Alloh, dan sejenisnya.anak sy adalah anak yg ekspresif jd ketika sy menceritakan hal2 ttg pesantren,dia sllu bertanya byk hal sprti :nnti abil sama siapa?knp sih harus sekolah dsni?,dll.dlm hal ini,anak sebenarnya takut akan hal2 baru yg mungkin tidak akan dia dapatkan lg.tp disitulah seorang ibu berperan penting.sy menerangkan dengan hati2 dan dgn bahasa yg dia pahami sambil sesekali memeluknya. Insyaalloh ketika usia dia sudah semakin besar,sy yakin dia mau untuk bersekolah d pesantren yg sy dan suami sy inginkan.bkn karena sy tidak mau repot mendidik anak sy,tp lebih pada pencegahan akan hal2 yg tidak diinginkan dari lingkungan yg sekarang.sy dan suami sy yakin bahwa dengan bekal iman Islam sejak dini dapat menjadikan anak sy lebih baik.insyaalloh…kebetulan pesantren yg ingin sy tuju adalah pesantren yg sudah sy kenal baik selama 7 th ini.Dan d setiap kamarnya terdapat CCTV dan bagi anak usia dini disediakan pengasuh untuk setiap santri jd qt bisa lebih tau perkembangan anak melalui pengasuhnya.bismillah…semoga Alloh merestui niat baik kami.amiiin..
    Wassalamualaikum wr.wb.

    1. Anonymous says:

      Pesantren apa itu bun? Daerah mana?

  63. junaidi says:

    mbak azaleea, hebat, saya juga merintis pondok pesantren anak, saya merasa anak saya lebih mandiri ketika ada teman-teman pesantren, usia 4 tahun sudah bisa baca dengan lancar.santri kami ada yang memang kedua orang tuanya sibuk, sama-sama mengeluarkan dana, ari pada untuk pembantu mengasuh anak, antar jemput sekolah, lebih enak di masukkan pesantren, kerja tenang, kakek nenek tidak direpotkan, mestinya kepercayaan orang tua akan lebih di pesntren dibanding dengan pembantu, apalagi pembantunya orang yang belum dikenal sebelumnya. Ponpes anak arrosyaad

  64. yuliana says:

    saya sangat tersentuh membaca artikel ini…

  65. real_name says:

    Judul artikelnya “mengejutkan” kalau tidak dapat kita katakan judul artikelnya provokatif. Dan saya sungguh sangat senang setelah saya membaca respon dari para pembaca artikel ini, sungguh sangat Indonesia sekali, santun sekali. Komunikasi yang justru harus dicontoh oleh bahkan orang nomor 1 dan 2 Indonesia, yang telah lebih memilih mendahulukan memperlihatkan kekecewaannya kepada rakyatnya ketika berkunjung kepelabuhan di jakarta ketimbang bersikap diplomatis, dan yang telah lebih memilih mengemukakan pernyataan prematur tentang apa – apa yang berasal dari tempat ibadah kaum muslim yang mana beliau sendiri adalah salah satu dari dewan pengurusnya ketimbang mengamalkan pancasila untuk bermusyawarah kepada umatnya. Maka bagaimana pula dengan orang nomor 3, 4, 5 dan seterusnya Indonesia ? Para wakil rakyatnya ? Sungguh respon para pembaca artikel bapak disini sangat inspiratif, ditunggu tulisan lainnya pak…

  66. dika says:

    Yaa setiap orgtua or kel punya masalah yg berbeda2,ga bisa disamakan,dan sy yakin semua orgtua yg benar..pasti akan memberikan yg terbaik buat anak.jd apapun pilihan orgtua itu yg terbaik buat anak.yg pasti siy kel itu hrs harmonis,anak diberikan contoh yg baik dr orgtuanya dan lingkungan,santun dlm mendidik,insyaallah semua akan membuahkan hasil yg diinginkan.

  67. sarwono says:

    ???

  68. aginjosan says:

    Gimana dgn dgn nasib seorang ank yg org tuanya tdk bisa bertanggung jwb dikarenakan sang ibu tdk normal mentalnya sedangkan sang ayah ada istri dan anak lain…siapakah yg bisa mendidiknya selama ank tsb di lingkungan rumah?sdgkan kluarganya rata2 tdk tau / tdk prnah tau dunia pendidikan
    Anak yg tdk layak masuk asrama hanya lah anak2 yg mempunyai kluarga yg utuh dan bisa memenuhi sgala kebutuhan anak tsb
    Sungguh miris saya melihat..mendengar dan memperhatikan pertumbuhan ank tsb yg tdk bisa seperti ank2 yg lain..pdhal sebenarnya ank tsb sgt normal spt ank2 yg lain
    Astaghfirullah….

  69. IrOneMan says:

    Tidak sepenuhnya benar pendapat diatas, karena Adik saya sejak SD sangat sulit menyerap pelajaran di sekolahnya, pernah tinggal kelas. Keputusan untuk Meng-Asrama-kan adik kami pun akhirnya diambil dengan niat Awal ‘biarin dah dia ga bisa Pelajaran Umum, yg penting bisa Ngaji Al-Qur’an’.

    Subhaanallaah, perubahan drastis terjadi pada adik kami tersebut, selain menguasai ilmu Agama, pelajaran umum pun tidak ketinggalan. sekarang dia Kuliah mengambil Jurusan Manajemen Informatika.

  70. H.Sulhi says:

    Tinggal pengertian orang tua terhadap anak.dan org tua lebh paham tentang katakter anaknya. Kalau dibilang jgn sampai memenjarakan anak di pesantren dibawah umur 12th secara umum . itu salah besar pak. Itu tergantung mental anak dan org tuanya.liat kebutuhan dan situasi kondisi keadaan masing masing keluarga. Ok h.sulhi kalianda lamsel

  71. Dan says:

    Saya dari Singapura ingin sekali menghantar anak saya usia 12thn di pesantren Indonesia. Mohon rekemendasi. Anak agak nakal.

  72. kykye says:

    Pasti ada yg pro & kontra.
    Dari tadi yg merasa sekolah berasrama, menilai dr sisi prestasi sekolah saja. Kemandirian yg bagaimana jg kurang jelas, krn kan banyak asrama tp fasilitas jg komplit, anak cuma belajar pelajaran sj.

    Lalu kalo yg anak tinggal sama ortunya apalg bila ada salah satu ortunya yg di rumah, pada bilang tdk mandiri. Kata siapa??? Bgm klo yg ortunya kerja tp ada asisten rmh tg/ baby sitter??
    Itu semua tergantung ortunya sbg org dewasa dlm mendidik anak. Masalah prestasi sekolah itu bisa jg krn si anak nyaman dlm belajar shg ngerti. Mandiri : kalo org dewasanya mberikan contoh, mengajarkan & mberikan kepercayaan otomatis anak akan mandiri.
    Sekarang ada yg lbh gawat selain prestasi & kmandirian, yg hilang pd kehidupan adalah rasa empati, toleran, saling menghormati, kekeluargaan & nilai” budi pekerti dlm kehidupan negara kita ini.
    Mohon maaf bila salah penilaian saya.
    #saya seorang ibu rmhtg dg anak” yg masih kecil tp anak” ini slain cerdas, mandiri, tp juga PD, punya empati tinggi krn sering mrk iba & mberikan sedekah dr uang jajan/ bekal mknan mrk bila bertemu duafa di perjln.sekolah, mbantu / mberi support bila temannya tertinggal dlm mengerjakan soal, menegur & mcium tgn kpd org yg lbh tua. Dll

    Masalah sekolah asrama/ tdk jg yg penting komunikasi. Jgn berikan gadget canggih, kasih sj telpon/ hape jadul bila lg berjauhan. Dan tiaphari hrs ada komunikasi itu. Bisaaa??? Harus kan keluarga.

  73. puput says:

    hamil jln 4bln sya pisah ranjang dgn suami&suami gk prnh nafkahin semenjak pisah ranjang,, lahiran anak sya plg krja mantan suami dtg lgsg liat anak nya cwe kcwa gk smpe 30mnt byr bidan nya(d bdn dpt akte, tpi suami blg akte nya gk usah)lalu plg.. blg pagi mau dtg lg ngejemput smpe skrg pun ngga dtg”.. 2010 suami nikah lg dy blg udh menceraikan sy d KUA tpi sya&kk dtg k KUA gk ada a/n suami&sy. d tlfn blg nya yg menceraikan k kalimantan..
    anak lahir sya bangkit u/t anak.. mau buktiin k ayah&kluarga nya tanpa ksh syg&materi dri ayah anak bsa idup, bahagia. sekolah dri paud smpe kuliah dewasa jdi org sukses yg bs mengangkat derajat bunda nya. tpi sibuk nya sya krja sya membahagiakan anak dgn materi,,. sya keras mendidik nya sekolah d swasta bgn subuh.. plg sekolah anak lgsg les d sekolah senin-rabu kamis nya les menari, jumat musik.. senin smpe jumat abis ashar anak mengaji,, sya melarang nya main anti main d sekolah&week end ajj dy bs main sebentar itu pun sore nya sya marahin caci maki kdg main tangan&udh 3x sya mengusir anak..
    sya berniat mau mskin anak d pesantren krna sya salah mendidik anak&gagal menjadi ibu yg baik sperti Alm mama.. pelajaran brharga u/t sya trima ksh pak jamil membuat sya tersadar,, gk mau lgi kya gt..

  74. Sidiq unimed says:

    Menarik sekali diskusi ini, aq pikir tdk ada yg saling berbentangan pendapat satu dgn yang Lain, bahkan saling dukung intinya kita ingin anak mengingat alquran tanpa ia merasa menghafal, dgn cara metode yang menyenangkan tanpa unsur paksaan baik itu di lakukan oleh ortunya maupun sekolah, disesuaikan dgn kondisi masing2,

  75. Sidiq unimed says:

    Usia dibawah 12 tahun itu belajarnya harus menyenagkan gelombang alfa itu benar
    Anak harus dijarkan alquran itu juga benar
    Jadi kesimpulannya mengajarkan alquran di bawah usia 12 tahun harus menyenangkan baik oleh ortu maupun orang lain tergantung kebutuhan dan kondisi

  76. Anonymous says:

    klo hidup mengikuti orang kebanyakan hasilnya jg seperti org kebanyakan, orang2 hebat berawal dr cara hidup yg menghebatkan

  77. aziz says:

    klo hidup mengikuti orang kebanyakan hasilnya jg seperti org kebanyakan, orang2 hebat berawal dr cara hidup yg menghebatkan
    pendidikan menurut umar ra: manjakan 7th pertama, penjarakan 7th kedua, bertemanlah di 7th ke tiga

    1. JA-admin says:

      bisa diterjemahkan dalam bahasa Anda mas? πŸ™‚

  78. hanafi says:

    Butuh kajian lebih mendalam dan dasar yang menguatkan postingan yang memberikan manfaat bg umat..

  79. hisbullah huda says:

    “Indahnya perbedaan”
    Ini yang saya rasakan saat membaca artikel di atas beserta komentar-komentar yang meresponnya.
    Menurut saya, untuk ukuran hari ini, sangat sulit rasanya menemukan sosok dengan dedikasi utuh terhadap ilmu agama, sehingga kehati-hatian dalam menerima atau menolak pendapat seseorang sangat diperlukan. Mengamini pendapat yang didasarkan pada penelitian ilmiah saja rasanya kurang pas untuk kasus ini (dan bisa jadi terhadap keseluruhan aktivitas iqro’ kita terhadap tak terbatasnya Kalam Allah).
    Bagi saya, kesimpulan yang kita ambil hari ini sangat mungkin untuk kita sangkal sendiri di kemudian hari.
    Sejauh masih dalam semangat saling mengingatkan, it’s OK.

    1. JA-admin says:

      asyik banget komen yg satu ini… hehehe

  80. Lux's says:

    Di sinilah perlu adanya kebijakan seseorang dalam membuat artikel atau tulisan,,,, harus dipikirkan bagaimana dampak dari tulisannya terhadap orang banyak.
    Hasil penelitian harus disikapi dg seksama dr beberapa sudut pandang. Tidak lantas harus ditelan bulat2 hasilnya,,
    Dlm masalah ini penulis tdk memikirkan dampak artikel thd niat positif dr orang tua yg ingin memasukkan anaknya ke Pesantren. Pesantren saat ini adl Lembaga Pendidikan yg cukup komplit dirasakan banyak orang (ada kurikulum diknas, agama, teknologi dan Al-Qur’an) dibanding dg Pendidikan Umum. Dan itu merupakan keputusan bijaksana orang tua dan si anak sendiri manakala orang tua merasakan kritisnya aqidah ummat saat ini dan banyaknya kemaksiatan yg ada di sekitar kita.

  81. syukur says:

    Tapi anak saya itu sudah bandel banget. Umurnya 11 thn bolehkah di masukan pesantren?

  82. Anonymous says:

    assalamualaikum. kbtuln sy ingin brtanya bagaimana jika anak yatim piatu berumur 8 th yg hanya tinggal brsma kaka dan kakek nenek nya? sy sbgai seorang kaka merasa bingung hendak memasukkan adik sy laki” ke psntren atau tdk stlh membaca artikel di atas, krna sy jg msh 18 th, sy mrasa tdk ada metode cra mndidik yg tepat utk adik sy krna dy smkin dimanjakan oleh kluarga sy. mnurut anda apakah lbih baik dimsukan psntren atau tdk ya? trimksih, wassalamualaikum.

    1. junaidi says:

      dipondokkan aja. . lebih terarah melaksanakan tugas harian dan belajar terasa ringan bersama teman teman banyak yg di rumah kerjanya istiqamah

    2. junaidi says:

      pondokkan aja lebih terarah. mohon maaf jila merasa tidak mampu. dari segi waktu atau pengetahuan atau lainnya

  83. Mohamad Zen says:

    setuju Mr. Lux’s…….

    Penelitian sangat minim referensi

  84. Reni H says:

    Saya setuju,karna saya pernah mengalaminya.waktu sedari kecil harus pergi menimba ilmu jauh dr orang tua.Mungkin itu baik bagi kemandirian saya tapi tidak bagi kondisi batin saya.Saya menjadi pribadi yg tertutup.Bahkan hubungan saya dengan orang tua saya menjadi tidak dekat.Rasanya ada tembok penghalang besar yg menghalangi saya untuk dekat dengan orang tua saya sendiri.Bahkan untuk sekedar pelukan hangat dari orang tua saja tak bisa.Saya menyesali hubungan buruk diantara kami bahkan sampai saya berumur 24 tahun. Saya masih membayangkan seandainya saja dulu saya tidak terlalu dini merantau ilmu mungkin saya bisa lebih akrab dengan orang tua saya. Karena setelah saya pikir usia 11-15 adalah usia penting yg membutuhkan peran orangtua yg besar di dalamnya.

  85. Wahyu says:

    Akhir Ramadhan…putri kami kini naik kelas 5 di MI. Ada agenda saat MTS nanti kami masukkan pesantren di Kudus (dekat sama kakek/neneknya) “disela kecemasan haid sudah didapat ataukah belum?”. Kami berencana setelah lulus MTS membawa kembali bersama kami utk melanjutkan SLTA yg dekat tempat tinggal kami di Cileungsi Bogor. Langkah sama juga kami rencanakan utk adiknya (putra) nanti. Mohon do’a restu jika rencana itu yg terbaik akan berjalan lancar. Siang ini…di akhir Ramadhan disela mudik lebaran, kami akan coba singgah utk dapat informasi lebih dini di Kota Kelahiran ayahnya. Salam….semoga upaya kita semua, apapun itu membuahkan hasil yg terbaik buat anak2 kita…Islam…dan Indonesia.

  86. ruslan says:

    ruang kosong hanya buat orng yg kurang beriman. mau debat sampe mana juga tetap ruang kosong hanya buat orng kurang beriman. masalah ngga dekat dgn orang tua itu karakter orang tua, mau kecilnya pesantren atau tidak tapi klo karakter orang tuanya ga deket anak ya tetep aja ga deket.

Leave a Reply

Your email address will not be published.