Gila

“Gila!”

Ungkapan ini sering disematkan kepada sebagian orang yang dianggap berbeda, atau bahkan sangat berbeda dari orang kebanyakan atau norma umum. Keberadaan orang dengan sebutan “gila” tak jarang meresahkan masyarakat. Memang, manusia sering takut akan sesuatu yang berbeda dari kebiasaannya.

Tak jarang dunia sering nyaris kehilangan potensi-potensi besar karena sebutan ini. Edison pernah dianggap gila karena ide lampu pijarnya dianggap tak mungkin diwujudkan. Wright bersaudara pun disebut gila disebabkan impiannya untuk terbang di udara seperti burung. Namun begitulah para pembawa perubahan, mereka sering mengeluarkan ide dan mengambil keputusan yang tidak populer.

Di kehidupan hari ini, kondisi tak jauh berbeda. Kita begitu mudah mengatai seseorang “Gila”, mungkin lebih sering dalam hati. Kita cenderung mudah menilai sesuatu berhasil atau tidak, cocok atau tidak, sesuai atau tidak, hanya berdasar pengalaman masa lalu. Kemungkinan-kemungkinan baru pun segera tertutup.

Apa jadinya jika pemimpin mendasarkan penilaian keberhasilan hanya berkaca masa lalu? Pemimpin itu takkan bisa meraih keberhasilan lebih besar dibandingkan apa yang sudah pernah dicapai masa lalu. Tak ada inovasi, tak ada keberanian menyusur jalan yang belum pernah dilalui orang, dan tak ada kualitas yang meningkat. Maksimal hanya tetap di tempat.

Data masa lalu itu penting, saya tidak memungkirinya. Masa lalu adalah pembelajaran, dan menolak masa lalu berarti menolak untuk belajar. Namun belajar dari masa lalu bukan satu-satunya penentu keberhasilan sebuah kepemimpinan. Seorang pemimpin perlu membuat perubahan lebih baik dari hari ke hari bagi dirinya dan tim. Perubahan ke arah lebih baik memerlukan keberanian untuk berpikiran terbuka dan berani berbeda, selama mendukung tercapainya tujuan yang diinginkan (tentu aspek halalnya perbuatan tetap diperhitungkan).

Maka, di beberapa kondisi, seorang pemimpin perlu “Gila”. Teguh dengan pendirian meski tak banyak yang menyukai. Pemimpin perlu fokus pada tujuan besar, dan bersama tim menyongsong keberhasilan-keberhasilan baru sehingga selalu makin dekat dengan tujuan. Ingat, tak mungkin pemimpin mengambil keputusan yang mampu memuaskan semua orang.

Biarlah ada yang menyebut “Gila”, karena suatu hari sebutan itu akan lenyap seiring dengan hasil dan karya nyata yang mampu ditunjukkan. Seperti lenyapnya sebutan “Gila” bagi pemimpi terbang dan pembuat lampu pijar. Suatu saat, kegilaan itu menjadi normal dimana saat ini setiap rumah punya lampu pijar dan begitu seringnya kita berpindah kota dengan terbang di udara. Kuncinya, buktikan dengan KARYA NYATA.

Salam perubahan, wahai para pemimpin.

Surya Kresnanda

Leadership Coach

Bagikan:

One thought on “Gila”

  1. Afghani says:

    Bagus sekali, terima kasih inspirasinya

Leave a Reply

Your email address will not be published.