Bambu China

@AndySukmaLubis“Assalammualaikum pak. Perasaan saya sekarang lagi sedih pak. Impian yang saya tulis di kamar, ada yang tulis di sebelahnya. Apa yang harus saya lakukan pak? Sedangkan yang menulisnya adalah adik saya sendiri.”

Pesan singkat itu masuk ke handphone saya di sela-sela waktu liburan bersama keluarga.

Sembari memandangi anak-anak yang tengah bermain, saya balik bertanya secara singkat.

“Adiknya memang menuliskan apa di kertas impian Bunga?”

Bunga adalah seorang remaja muda yang mempunyai keinginan besar untuk maju. Siswi dari sebuah sekolah SMK di Jakarta. Tempo hari saya memang pernah berbagi inspirasi di sekolahnya. Menyampaikan materi di mana salah satunya adalah tentang menuliskan impian ke depan yang ingin dicapai.

“Impian hampa.” Demikian ujarnya singkat.

Adiknya menuliskan seperti itu. Hingga kemudian berkembang pemikiran, kalau keluarganya juga seperti tidak mendukung apa yang ingin dia lakukan.

Saya kemudian teringat akan cerita inspiratif tentang bambu China.

Dikisahkan bahwa pohon bambu adalah salah satu spesies tanaman yang memiliki pertumbuhan paling cepat. Pertumbuhannya bervariasi, karena memang bambu memiliki jenis yang beragam. Populasinya tersebar di beberapa negara, utamanya di kawasan Asia. Pertumbuhan bambu bisa mencapai beberapa centimeter dalam setiap harinya.

Namun tidak demikian halnya dengan bambu China. Seorang petani bambu tidak akan mendapatkan apapun dalam rentang waktu 4 tahun.

Sejak tahun pertama menanam benih bambu, seorang petani hanya akan terus menyirami tanamannya. Tak terlihat hasil yang keluar dari apa yang telah ditanamnya. Hingga berlanjut ke tahun kedua dan ketigapun, hal yang sama akan tetap terjadi. Tak nampak sesuatu dari apa yang telah dia tanam.

Hingga memasuki tahun keempat, baru akan muncul tunas bambu kecil.

Selang beberapa waktu kemudian, saat mulai memasuki tahun kelima dan seterusnya, pertumbuhannya tak dapat dikendalikan. Bambu China itu akan terus tumbuh dan berkembang. Bahkan hingga berpuluh meter panjangnya.

Lalu ke mana dia selama 4 tahun lamanya? Mengapa baru mulai tahun kelima bambu tersebut menampakkan dirinya? Bukan sekedar muncul di atas permukaan tanah, namun menjulang tinggi seolah ingin menggapai mentari.

Sang bambu China rupanya tengah memantaskan diri selama 4 tahun awal masa pertumbuhannya. Bukan waktu yang singkat, akan tetapi relatif lama bagi yang tak mengerti.

Bambu tersebut tumbuh di dalam tanah. Dia memperkuat dirinya. Membuat pertahanan yang kokoh dari akar-akarnya. Bambu China itu sadar, bahwa dia harus menguatkan dirinya terlebih dahulu. Sebelum saatnya nanti, dia akan bisa menghadapi segala rintangan saat tumbuh semakin tinggi.

Dia sadar diri. Semakin tinggi batang bambu, semakin deras terpaan yang datang manghampiri. Saat angin kencang menghamtam, kokohnya akar bambu akan membuat dia tetap tertanam.

Menanam bambu China juga menyelipkan filosofi akan makna tentang sebuah kesabaran. Bayangkan jika petani bambu tak sabaran. Andai petani itu tak mau menunggu waktu, tak akan pernah tumbuh pohon bambu. Jika kesabaran bukanlah menjadi penjaga relung hatinya, tak akan pernah muncul kisah tentang bambu China.

Begitupun diri kita. Seringkali keinginan untuk maju bukan hanya mendapat tentangan dari orang lain. Akan tetapi, malahan muncul dari dalam keluarga sendiri.

Semua cemooh, ejekan dan sikap merendahkan yang ditunjukkan orang lain, mestinya bisa menjadi vitamin. Penguat diri untuk bergerak lebih mandiri. Mereka yang mengejek boleh jadi karena tak suka melihat kita maju dalam berkarya. Namun seringkali, apa yang mereka lakukan juga karena kecintaannya pada kita.

Mereka seperti alarm pengingat. Ketika tahu apa yang ingin kita capai dalam hidup, mereka akan terus memperhatikan apa yang kita lakukan. Manakala perbuatan yang dilakukan malahan menjauhkan diri dari impian yang telah dituliskan, mereka akan menyalakan alarm.

Alarm pengingatnya boleh jadi tak mengenakkan. Tapi seperti bambu China yang memantaskan dirinya selama 4 tahun, kita semestinya juga bisa bertahan dari segala cobaan.

Saat kemalasan yang menjadi teman akrab di perjalanan, maka jangan salahkan ketika mereka memberi penilaian yang tak mengenakkan.

Belajar dari bambu China. Menerima segala cemooh dan ejekan bagaikan masukan penuh kebaikan. Akan menyadarkan diri, bahwa bukan hal yang mudah untuk merintis kesuksesan. Tapi kita bisa belajar banyak hal, kesabaran yang menjadi teman seperjuangan, pastinya akan menjadikan kita sekuat pohon bambu China.

“Selama ada harapan, maka akan selalu ada jalan.”

“Berarti, saya harus menerapkan teori bambu China ini ya pak. Aminn Ya Rabb. Terima kasih pak.” Kalimat penutup dari Bunga, mengakhiri pembelajaran yang sama-sama kami dapatkan di hari itu.

Salam suksesmulia,

@AndySukmaLubis

Bagikan:

5 thoughts on “Bambu China”

  1. Iqbal Arubi says:

    KerON sekali kek…
    persis seperti apa yang sedang saya rasakan. Jazakallah :’)

  2. Rahmat E. Siregar says:

    Terima kasih, Bang Andy. Artikel Anda menambah semangat saya hari ini dan esok.

  3. Titik Asmurah says:

    “Selama ada harapan, maka akan selalu ada jalan…inspiring ..?!!!

  4. siti munawaroh says:

    Terimakasih pak interesting dan sangat bermanfaat

  5. Ari Wijaya says:

    Mas Andy.. Filosofi yang kerON. Kebetulan ini di kantor sedang gencar2nya diskusi tentang bambu sebagai biomassa.

    Memang salah satu tumbuhan yang inspiratif.
    Tulisan Mas Andy menambahkannya.
    Mantabs.

    Salam tumbuh kembang terus. Salam Suksesmulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.