Nasi Goreng

Share this
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Penulis: Arman Dhani

Saat tahu saya diterima di Universitas Jember, wajah ibu datar. Ia tidak tersenyum atau gembira. Koran di tangan ibu dilipat. Ia duduk dan tidak mengucapkan apapun. Kami berdua sadar bahwa masuk perguruan tinggi itu tidak mudah. Tapi yang lebih susah dari diterima di perguruan tinggi adalah mencari biaya kuliah.

Ketika itu adik saya masih sekolah dan kami sama-sama butuh biaya. Bapak sakit dan tak bekerja. Tiga kakak saya punya keluarga mereka sendiri. Siang itu di ruang tamu Ibu dan saya diam saja. Kami tahu, jika saya kuliah, adik saya harus berhenti. Jika adik saya sekolah, saya harus berhenti. Keluarga kami tak kuat menanggung biaya dua orang sekaligus.

Hari itu saya marah sekali dengan kemiskinan keluarga kami. Saya bekerja sangat keras untuk belajar, ikut ujian masuk perguruan tinggi, diterima universitas negeri, tapi ibu tak bergembira. Ia malah sedih karena harus memilih, siapa dari anaknya yang bisa melanjutkan pendidikan.

Sore di hari pengumuman SPMB, kakak ketiga saya yang ada di Jakarta menelpon. Ia menanyakan kabar sekaligus bertanya apakah saya diterima di UGM. Jelas tidak. Saya diterima di Universitas Jember. Ia dengan gembira mengatakan bahwa saya harus kuliah. Soal uang akan dicarikan.

Ibu saya mendengar itu lalu menangis. Setelah itu baru memeluk saya. Ia lega. Selama ini, uang bulanan kami bergantung dari kakak dan ia takut meminta tambahan. Beberapa kerabat jauh, paman dan tetangga yang tahu saya diterima di Universitas Jember juga mengucapkan selamat. Mereka tahu kondisi keluarga kami dan memberikan bantuan dalam amplop.

Baca Juga  Bedanya Saya dan Orang Tua Saya

Malam harinya ibu memasak nasi goreng. Ia bilang tetangga sebelah memberi beras dan telur. Jadi malam itu kami makan istimewa. Sejak bapak kecelakaan, keluarga kami jatuh miskin. Kadang penagih hutang datang menggedor pintu. Seluruh harta habis dijual untuk pengobatan bapak. Jadi menu nasi goreng malam itu, benar-benar istimewa.

Nasi goreng itu dibuat dengan kegembiraan. Sebuah perayaan sederhana karena saya diterima di Universitas Negeri. Negeri. Bangga betul. Ibu menggunakan minyak bekas ikan asin. Bawang putih, bawang merah, cabe merah besar, dan terasi dihaluskan. Ditumis sebentar lalu nasi dimasukkan. Sedikit garam, gula, dan merica. Ditambah telur ceplok setengah matang.

Saat itu di rumah kami hanya tinggal bertiga. Ibu, saya dan adik perempuan yang saat itu sudah duduk di kelas 3 SMP. Biasanya kami hanya makan sekali sehari, saat makan siang. Malamnya kami tidur lekas untuk menghemat makan. Nasi goreng yang dibikin banyak itu dimakan dengan kerupuk dan teh panas. Saya masih ingat rasanya. Rasanya seperti kemiskinan yang ditempeleng dengan kemurahan hati saudara dan tetangga.

Pengumuman penerimaan mahasiswa baru hari ini saya gembira sekali melihat reaksi orang tua yang mendapat kabar anaknya diterima di perguruan tinggi. Meski tak tahu harus mencari biaya di mana, beberapa dari mereka berikhtiar untuk mencari uang demi anaknya. Kegembiraan itu yang tak pernah saya miliki. Saat saya diterima, ibu hanya bisa diam.

Ibu bergembira setelah tau kakak bersedia membiayai kuliah saya. Hingga hari ini saya masih membenci kemiskinan. Dia yang merebut kegembiraan dari ibu saat saya diterima di universitas negeri. Entah berapa orang yang hari ini mesti bersedih karena tahu kemiskinan menghalangi anak mereka untuk meraih pendidikan tinggi.

Baca Juga  Leader tidak boleh merasakan emosi negatif, Mitos atau Fakta

Sekali lagi selamat untuk kalian yang diterima di perguruan tinggi. Terima kasih pada orang tua yang mencintai anak-anaknya dan rela berkorban agar mereka dapat pendidikan lebih baik. Terima kasih juga pada pemerintah yang memberikan bantuan pendidikan gratis. Semoga pendidikan tinggi bermutu bisa jadi hak seluruh warga. Tanpa terkecuali.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer