Tak Tahu Diri

Tahun 2005, ketika mengikuti sebuah diskusi tentang buruh migran di Hongkong, saya berteman dengan seorang peserta dari Tibet. Setiap hari ia pergi ke laut. Ia akan duduk bersila menghadap ke laut. Tak lama kemudian pipinya basah dengan air mata. Ia begitu karena di Tibet tidak ada laut, dan ia memang belum pernah melihat laut.

Awalnya saya berpikir, norak amat ini orang Tibet. Namun setelah saya renungkan, saya memperoleh pelajaran yang sangat mendalam. Dalam hidup kita sering mengingat yang sedikit dibandingkan yang berlimpah. Bila ada orang memberikan uang kepada Anda disaat Anda benar-benar membutuhkan, saya yakin Anda akan ingat selamanya. Padahal nilainya mungkin tidak seberapa.

Namun, Sesuatu yang berlimpah terkadang kita lupakan. Allah, Sang Pencipta, telah memberikan oksigen gratis. Tubuh beserta panca indera dan yang ada di dalamnya gratis. Setiap pagi Dia menerbitkan matahari gratis. Dia pun menurunkan hujan, memberikan rizki, menumbuhkan tanaman, semuanya tanpa meminta bayaran. Berapa harga dari semua nikmat itu? Kita tak akan sanggup membayarnya –Nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?

Sayangnya, kita sering melupakan-Nya. Kita jarang menyebut nama-Nya. Kita sering melupakan perintah-Nya. Kita sering melanggar apa yang dibenci-Nya. Kita pun jarang datang ke rumah-Nya. Haruskah kita menunggu diambil berbagai nikmat-Nya untuk kemudian bersyukur dan bersujud kepada-Nya? Nikmat dan karunia-Mu tak tenilai, namun Kau sering kuabaikan dan kutinggalkan… Sungguh aku manusia yang tak tahu diri…

Ibu kita telah membawa kita dalam rahimnya kemanapun pergi selama 9 bulan lebih. Ia jaga makanan dan perilakunya agar kita terlahir sehat. Ia bertaruh nyawa ketika melahirkan. Ia terbangun ketika mendengar tangis kita di tengah malam sekalipun. Ia gendong kita yang masih tak berdaya walau tubuhnya begitu lelah. Ia menemani saat kita sakit. Ia korbankan banyak hal demi kebahagian kita.

Cinta, pengorbanan, kasih sayang seorang ibu sungguh tak ternilai. Namun terkadang kita melupakannya. Terbukti dengan kata-kata kita yang kerap melukai hatinya. Perbuatan kita yang tak mencerminkan rasa hormat kepadanya. Kita mengeluh tiada henti ketika menemaninya sakit. Kita sepertinya belum berupaya dengan sungguh-sungguh untuk membahagiakannya. Bahkan, terkadang kitapun lupa untuk mendoakannya. Bila itu terjadi pada kita, sungguh kita adalah seorang anak yang tak tahu diri…

Bersegeralah bersyukur dan berterima kasih kepada mereka yang telah memberikan begitu banyak hal kepada kita. Balaslah kebaikannya dengan apapun yang kita bisa. Jangan tunda-tunda. Bila Anda masih menunda-nunda melakukannya, boleh jadi Anda memang orang yang tak tahu diri.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

25 thoughts on “Tak Tahu Diri”

  1. Anggit Setyaningsih says:

    Subhanallah..luar biasa bgt!!
    Pagi2 udh dibikin nangis πŸ™
    Mari kita sll brsyukur dan hormat pd org tua.

  2. Elya says:

    very inspiring om. selalu suka dengan tulisan Om.

  3. Prily Puriningtyas says:

    SubhanAllah…. :'(
    Sungguh terharu membaca artikel ini, semoga kita dapat menjadi manusia dan Hamba-Nya yang selalu mensyukuri atas nikamt dan karunia-Nya….aamiin..

    ^_^

    Salam,
    Pipin

  4. isma says:

    Saya merasa blm bs membahagiakan org tua,namun Allah swt sdh memanggil mereka.rasa sesal yg tak berkesudahan yg saya rasakan πŸ™

  5. dobelden says:

    Subhanallah… πŸ™

  6. didi says:

    alhamdulillah yg awal’ny lupa n terlena dgn kesibukan sehari², menjadi ingat lagi dan sadar setelah membaca artikel mas jamil,. thx mas.

  7. dafuad says:

    saia masuk golongan orng yg tak tau diri mas … huaaaaaaa, apa yg mas ceritakan diatas, moga dapat bersyukur atas smuanya

  8. Ano says:

    Luar biasa.
    Salam Sukses Mulia untk semua.
    Ano#BandEntrepreneur

  9. Nina Mahrani says:

    πŸ™ semoga selalu mjd hamba Allah yg mensyukuri segala nikmatNya. Terimakasih tulisannya Pak. Salam SuksesMulia..

  10. rizki kurnia says:

    Tulisan yg sangat inspiratif. Saya menyesal sering membuat orang tua saya jengkel. Terima kasih Pak, telah menyadarkan saya

  11. Renie says:

    Alhamdullah masih bisa bersama2 sepasang bidadari.

  12. S Nurdiannie says:

    subhanallah…nangis saya bacanya om..:( semoga Allah senantiasa memberikan hidayahnya utk kita

  13. Khalik HR says:

    Sungguh menyentuh pak motivasinya semoga kita sadar sedasar2nya. Amin

  14. eri says:

    Subhanallah….terimakasih banyak telah diingatkan kembali….sarapan pagi yg istimewa, …..

  15. dian says:

    Pak JA, mana yang harus didahulukan dalam berbakti setelah kita menikah, kepada suami atau kepada orang tua?
    Saya sudah semaksimal mungkin membantu perekonomian orangtua, tapi alih2 beliau malah mengambil cicilan kendaraan baru, yg jelas2 saya tau, cicilan yg lain masih banyak, dan pasti nya dikemudian hari, saya juga yang harus melunasinya. Ini sering kali terjadi, sehingga membuat suami saya menyerah dgn gaya hidup orang tua. Apa yg harus saya lakukan, saya takut menyakiti hati orang tua. dan dianggap tidak tau diri.
    Terima kasih

  16. Mbak Dian, setelah kita menikah yang harus diprioritaskan adalah suami baru kemudian orangtua begitu yang saya tahu. Salam SuksesMulia. Jamil Azzaini

  17. Dian Eka says:

    Terus menginspirasi ya pak! Selalu terisi lg energi positif setiap baca tulisan pak Jamil πŸ™‚ Jazakallah khair..

  18. NF says:

    Fabiayyi ‘alaa irabbikuma tukadzibaan.. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yg km dustakan.. πŸ™ salah 1 ayat favorit, tp.. msh bnyk mngeluh dan kurang bersyukur :'(, trima kasih pak, semoga bapak selalu sehat agar bs trs menginspirasi πŸ™‚

  19. indah sekali kakek
    iqbal sampai teteskan air mata
    selama ini kita sungguh menjadi anak yang tidak tahu diri.
    apa yang ibunda lakukan adalah untuk kebaikan kita, tiap sujud dan doanya jua ditujukan untuk kita
    namun tak sedikit pun ada rasa bahagia karena didoakan dan dinasehati

    terima kasih atas renungannya ini kek

  20. Zein Yusuf says:

    kalo senang kita selalu lupa diri…. ya Rabb, ampuni kami dan maafkanlah kami… terima kasih om …

  21. Mohammad irsyam says:

    Bila orang tua telah tiada…hidup ini sepi

  22. agus alfakir says:

    alhamdulillahirobbil’alamin… segala puji bagi Allah, Tuhan Seluruh Alam. Terimakasih Pak Jamil..

  23. Dewi Sjofjan says:

    Alangkah indahnya Anda mau menyentil sedikit (dalam arti baik) dalam tulisan di atas. Sesungguhnya kita memang harus saling mengingatkan.

  24. nia says:

    Subhanallah…

  25. iwan ad says:

    mantab…dalem…mengharukan…menyadarkan…dan menginspirasi…untuk selalu bersyukur setiap saat.
    Terima kasih Pak Jamil…

Leave a Reply

Your email address will not be published.