Penghuni Surga

Pekan lalu jadwal saya memberikan seminar dan training sangatlah padat, 7 hari di 7 propinsi yang berbeda. Setiap hari pindah dari satu hotel ke hotel lain. Semoga inspirasi yang saya berikan untuk keluarga besar Bank Indonesia, Krida Nusantara, Yamaha dan Departemen Keuangan itu memberi banyak manfaat.

Seperti biasa, setelah tiba di rumah saya selalu bertanya kepada istri, “Ada perkembangan menarik apa selama saya tidak di rumah?”

“Anak-anak pernah saya ajak tidur bersama satu kamar. Sebelum tidur mereka saya minta bercerita hal menarik yang dialaminya,” kata istri saya.

Ternyata cerita menarik datang dari anak saya Hana [SMP, kelas 1]. Hana bercerita bahwa ia sangat terkesan dengan salah satu buku yang dibacanya.

Ceritanya, kata istri saya menirukan cerita Hana, suatu ketika Nabi Muhammad tengah berada dalam sebuah pertemuan. Beliau tiba-tiba berkata, “Sebentar lagi akan datang calon penghuni surga.”

Tidak lama kemudian datanglah seseorang yang sangat sederhana bergabung dalam pertemuan itu. Pada hari kedua, kejadian itu berulang. Nabi berkata, “Sebentar lagi akan datang calon penghuni surga.”

Tidak lama kemudian datanglah orang yang sama seperti hari sebelumnya. Ketika hari ketiga kejadian itu berulang, maka salah seorang sahabat penasaran dan datang menginap di rumah orang itu.

Ternyata, setelah sahabat mengamati, orang itu ibadahnya biasa saja. Karena penasaran ia kemudian memberanikan diri bertanya kepadanya, “Anda dikabarkan oleh Nabi menjadi penghuni surga, padahal ibadah Anda biasa saja. Tidak lebih rajin dan tidak lebih banyak dibandingkan saya. Boleh saya tahu apa kira-kira yang menyebabkan Anda masuk surga?”

“Saya juga tidak tahu, tetapi satu hal yang tidak pernah saya tinggalkan adalah sebelum tidur saya selalu memaafkan semua kesalahan orang lain kepada saya,” jawab lelaki sederhana itu.

Usai mendengar cerita dari istri, langsung saya menuju kamar tidur Hana. Saya kecup keningnya dengan lembut karena khwatir mengganggu tidurnya. Tidak saya duga, saya mendapat balasan pelukan dan ciuman pipi kanan dan kiri. Sembari merasakan hangatnya pelukan anak saya, saya berkata, “Bapak bangga dengan mbak Hana. Sebelum mbak Hana tertidur maafkanlah orang kece ini bila belum mampu memberi yang terbaik untukmu.”

Pelukan hangat Hana malam itu, mengurangi rasa lelah dan menambah kebahagiaanku. Malam itu, Hana telah menjadi guru kehidupanku…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.