Pahamilah Situasi

Share this
  • 173
  •  
  •  
  •  
  •  
    173
    Shares

Dalam pergaulan kita tak boleh hanya memikirkan diri sendiri. Kita perlu berempati dan bersimpati kepada orang lain. Mungkin ada sebagian yang mengatakan, “Ah, saya saat ini berhasil karena fokus pada diri sendiri, ngapain harus mikirin orang lain.” Ya, boleh jadi ada orang berhasil karena egois, tapi percayalah suatu saat orang itu hidupnya akan memudar dan kehilangan banyak teman baik.

Saat banyak orang yang tertimpa musibah di negeri ini tak pantaslah kita pamer kekayaan, misalnya dengan mengumbarnya di social media. Saat berjumpa dengan orang lain yang belum punya keturunan tak eloklah kita bercerita tentang keceriaan anak kita. Tidak memahami situasi akan membuat orang lain risih dengan kita bahkan bisa merugikan diri sendiri.

Alkisah, ada seorang salesman yang selama ini aktif di Jakarta kemudian pindah ke Medan. Dia bilang, “Ogah saya di Jakarta. Macetnya gak ketulungan, banjir dimana-mana, kebutuhan hidup mahal dan persaingan sangat ketat.” Salesman yang berpikiran positif menanggapinya, “Tapi perputaran uang di Ibukota besar sekali. Disini hampir semua tersedia dan listrik jarang mati, tidak seperti di Medan.”

Salesman pertama tetap ngotot pindah ke Medan, dia ingin membuktikan bahwa jualan penyedot debu bisa laku keras di Medan. Apalagi Medan dan sekitarnya baru terkena dampak letusan Gunung Sinabung. “Pasti banyak rumah yang berdebu, pasti jualan sangat laku,” pikirnya.

Sesampainya di Medan dia langsung menawarkan produk “penyedot debu” dari rumah ke rumah. Untuk memberikan keyakinan kepada calon pembeli ia mencoba memberikan bukti kehebatan barang jualannya. “Pak, alat ini bukan hanya menyedot debu, dia juga menyedot kuman-kuman kecil yang tidak terlihat oleh mata juga kotoran yang ada di rumah bapak,” katanya berpromosi.

Baca Juga  Bahasa Politik Itu...

Untuk lebih meyakinkan lagi, ia menebarkan kotoran kambing kering ke sebagian besar isi rumah calon pembeli. “Kalau rumah bapak gak bersih dengan alat ini, saya akan bersihkan kotoran kambing ini dengan mulut saya. Dengan alat ini bukan hanya kotoran kambing yang ludes tersedot, rumah bapak menjadi kinclong. Listriknya juga gak besar, cuma 50 watt,” ujarnya.

Salesman ini kemudian bertanya, “Maaf pak, colokan listriknya dimana ya? Saya ingin segera buktikan kepada bapak bahwa alat ini sangat hebat.” Tuan rumah itu langsung menjawab, “Colokan ada di belakang kursi, tapi listrik disini masih padam sampai minggu depan, mas. Tolong ya rumah saya dibersihkan lagi.”

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini


Share this
  • 173
  •  
  •  
  •  
  •  
    173
    Shares

25 comments On Pahamilah Situasi

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer