Driver Taxi Itu Trainerku

Senin kemarin saya sengaja “mengistirahatkan” driver yang selama ini setia menemani saya. Setelah jadwal training yang begitu padat saya khawatir ia jatuh sakit. Untuk memulihkan stamina, ia saya bebaskan mengantar saya. Hari itu, saya menggunakan jasa taxi, Blue Bird.

Begitu saya naik taxi sang driver menyapa dengan kata-kata yang lembut dan bahasa tubuh yang mengesankan. Semakin saya ajak ngobrol, saya semakin “jatuh cinta” dengan driver itu. Dalam hati saya bergumam, “Pasti ada sesuatu di dalam diri driver ini sehingga pribadinya begitu mempesona.  Saya ingin banyak belajar dengan driver ini.”

Agar punya kesempatan yang lebih luas untuk ngobrol, driver ini saya ajak makan siang di salah satu restoran kesukaan saya di Bogor. Awalnya dia menolak, tetapi setelah saya “paksa” akhirnya ia bersedia menemani saya. Ketika saya tanya mau pesan apa, dia menjawab, “Terserah bapak.” Driver itu saya pesankan menu sama persis dengan pesanan saya: Sate kambing tanpa lemak dan sop kambing, masing-masing satu mangkok.

Sebelum makan saya bertanya, “Tinggal dimana?” Dia menjawab, “Balaraja Tangerang.” “Berapa jam perjalanan ke pool?” sambung saya. Diapun menjawab, “Empat jam.” Saya terkejut, “Hah! Empat jam? Pergi pulang delapan jam. Kenapa gak nginep saja di pool?” Dia segera menjawab, “Saya harus menjaga ibu saya.”

“Menjaga ibu?” batinku. Bagaimana mungkin menjaga ibu, sampai rumah jam 23.30 berangkat kerja jam 03.30 dini hari? Untuk mengurangi rasa penasaran, kemudian saya bertanya lagi, “Bukannya sampai rumah ibu sudah tidur, berangkat ibu belum bangun?”

Dengan agak terbata dia menjawab, “Setiap saya berangkat ibu sudah bangun. Saya hanya ingin mencium tangan ibu setiap pagi sebelum berangkat kerja, sambil berdoa semoga saya bisa membahagiakan ibu.”  Jawaban itu menusuk sanubariku, hanya sekedar mencium tangan ibu dan mendoakannya ia rela menempuh perjalanan delapan jam setiap hari. Sayapun ke belakang sejenak menghapus air mata yang mengalir di pipi.

Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan untuk membahagiakan ibu?” Dengan lembut ia menjawab, “Saya sudah daftarkan umroh di kantor.”

“Maksudnya?” seru saya. Ia menjawab, “Kalau saya berprestasi dan tidak pernah mangkir kerja, saya berpeluang mendapat hadiah umroh dari kantor.  Bila saya menang, hadiah umroh itu akan saya berikan kepada ibu tercinta.”

Mendengar jawaban itu saya menarik napas panjang. Dengan nada agak bergetar ia melanjutkan, “Setiap hari saya pulang agar bisa mencium tangan ibu dan mendoakannya agar ia bisa pergi umroh. Saya benar-benar ingin membahagiakan ibu saya.” Mendengar jawaban itu, haru dan malu bercampur menjadi satu. Air matapun mengalir deras di pipiku. Malu karena pengorbananku untuk ibuku kalah jauh dengan driver taxi ini.

Bila selama ini saya yang membuat peserta training berkaca-kaca. Hari ini Asep Setiawan, driver taxi itu, yang membuatku menangis tersedu. Dia telah menjadi trainer dalam kehidupanku. Ya, Asep Setiawan telah menjadi trainerku… bukan melalui kata-katanya tetapi melalui tindakannya.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

131 thoughts on “Driver Taxi Itu Trainerku”

  1. rifky says:

    Assalamualaikum pak jamil,tulisan bpk selalu menginspirasi saya,semoga sy bs amalkan,dan cerita ini mengingatkan sy kpd ibu saya,makasih pak sdh mengingatkan sy utk selalu ingat dgn org tua dan Allah SWT,amin

    1. KAA says:

      SubhanaAllah. Sungguh cerita live yang menginspirasi.

    2. achmad musyafa' says:

      subkhanalloh,,, jadi rindu dengan pelukan bunda,, :'(

  2. adynm says:

    Subhanallah, ridho Allah ada pada ridho orang tua. ummi,ummi,ummi…abi

  3. untara says:

    uh. pagi2 bercucuran airmata gara2 pak Jamil
    terima kasih atas pelajaran dari kang taxi driver. smoga ibu bisa berangkat ibadah ke tanah suci
    terima kasih juga untuk pak Jamil yg telah menyampaikan dan meneruskan ilmu

  4. harjunanto says:

    sangat sangat terharu, andai ibuku masih menemaniku.

  5. aas riyanti says:

    Thx for remind me

  6. muhammad maliki says:

    subhanallah..tangisku..trimakasi atas ceritanya pak..saya share..

  7. eko says:

    Subhanallah..Terima kasih Pak Asep dan Pak Jamil yg telah membagi pengalamannya, sungguh pelajaran yg sangat berharga..memotivasi sy untuk lebih memuliakan orang tua, terutama ibu..:)

  8. Fadhil says:

    Subhanallahhh…ane merinding bacanya, Buat pak Asep, Insya Allah keiinginannya Allah kabulkan.. aaammiiinnnn 😀

  9. Khalik HR says:

    Ya terima kasih pak Jamil,dengan cerita bapak ini membawa kecintaan kita kepada kedua orang tua, walaupun kedua orang tua saya sudah tiada untuk membalas rasa syukur kepada mereka saya terus berdoa agar mereka diterima disisiNYA. Amin

  10. suyART says:

    Maafkan kesalahan saya ibu….

  11. Novi Kastanya says:

    Assalamualaikum selamat pagi Pak Jamil, terima kasih sharingnya. Ternyata belajar itu ngga perlu jauh-jauh ya…di sekitar kita banyak pelajaran yg bisa diambil.

  12. pepi mudiana says:

    Speeclees…klo berbicara mengenai ibu, tdk ada kata2 yg bs sy ucapkan, hanya lelehan air mata yg mampu bicara, betapa tdk berdayanya sy, krn blom mampu membuat ibuku tersenyum bahagia, smoga saja Alloh Swt memberi saya waktu dan kemampuan untuk membalas semua kasih sayang dan jasa ibu yg tdk akan mampu terbalas sampai kapanpun.

  13. agus says:

    assalam.. lihat TL org pada nangis, sy penasaran buka di hp padahal dah niat mo buka di kntr, ternyata sy nangis jg..jd malu,sy jd takut ibu sdh tiada saat sy belum mampu membahagiakannya

  14. halwa says:

    pak jazzakallah khoir atas semua tulisan bapak, semua menginspirasi.. semoga ini menjadi amal dan peneman bapak kelak, oh ya ijin linkan ke blog saya ya.. makasih

  15. ainur says:

    Apa yang telah dapat saya lakukan demi kebahagiaanmu “IBU”…

    Terima kasih Pak Jamil…

  16. Rizcky says:

    menyentuh hati dan pikiran.

  17. Imam Nugroho says:

    mantaph Mas,,, lanjutkan !!!!!

  18. Jamil says:

    Terima kasih semua, kita harus belajar kepada banyak orang, termasuk driver dan profesi yang lain. Salam SuksesMulia, Jamil Azzaini.

  19. Eddy Gobel says:

    Subahanallah wal Hamdulillah.
    Allah SWT telah membuka mata batin kita dengan tentang bagaimana Allah mengirimkan pesan kepada kita lewat orang lain yang menurut (perhitungan kita) kita biasa-biasa saja, ternyata memberikan pelajaran hidup yang bermakna kepada kita. Bersyukurlah Pak Asep masih memiliki seorang Ibu yang dicintainya yang diniatinya untuk mengumrahkan Ibunya, sementara saya sendiri tidak sempat mengumrahkan ataupun menghajikan kedua orang tua saya disaat saya mempunyai kemampuan untuk membiayainya walaupun telah saya Ba’dalkan Haji keduanya. Terima kasih atas sharenya sanagt menyentuh. Rabbigfirli waliwalidayya ya Allah ya Rahman Rahim. wassalam

  20. aar ardhianta says:

    subhanallah, Allah tidak membedakan seseorang hanya dari profesinya, tapi hatinya…

  21. Eko SetiaOne says:

    Ass, pak…

    Memang belajar itu bisa dimana saja dan kepada siapa saja. Tanpa harus mengenal umur, jabatan dan tempat..

    Terima kasih pak atas ceritanya…
    Membuat saya semakin ingin sukses mulia..

  22. Jamil says:

    Pak Eddy Gobel, semoga orang tua selalu mendapat kiriman pahala dari Anda. Aar Ardhianta, benar sekali kita harus menghargai berbagai profesi pilihan orang. salam SuksesMulia, Jamil Azzaini

  23. Yusi says:

    Subhanallah…terima kasih sharingnya pak…izin share di fb…

  24. Jamil says:

    Yusi, silakan dishare ke sebanyak-banyaknya, saya semakin senang. Salam SuksesMulia, Jamil Azzaini

  25. Tulisan2 Ust Jamil selalu sukses membuat ku terharu dan terus bersemangat untuk berintrosfeksi diri…mohon doanya agar bisa mengamalkan kebaikan2. sehingga diri makin BAIK…
    Jazakallah Ust Jamil Azzaini

  26. mudzakkir m arif says:

    Alhamdulillah, Jazakumullahu khaira’. Pagi ini dapat pencerahan dari Pak Jamil yg sgt saya kagumi. Saya ingin seperti Pak Jamil. Mohon idzin mau share tulisan Bapak di fastaqim solution, group saya di fb. Salam Sukses Mulia.

  27. Anggit Setyaningsih says:

    Sy sdh baca bbrp kali dan trs meneteskan airmata.
    Saat ini sy mmg blm bs bkin bhagia org tua,tp sy yakin pasti sy bs bkin org tua sllu bhagia.
    Ibu,bapak..maafkan aku 🙁
    mksh om Jamil yg tak henti2ny sll mnginspirasi 🙂

  28. Subhanallah !
    Terima kasih guru Sukses Mulia atas sharing yg sangat menohok ini…
    Semoga bapak terus diberi kekuatan & kesehatan shg terus bisa memberikan semangat dan inspirasi bagi bangsa ini. Amin

  29. lies sudianti says:

    Terima kasih sharingnya pak, seperti biasa selalu menyentuh. Terus menginspirasi ya pak.

    Tetaplah bodoh tetaplah lapar, itu yang selalu saya ingat

  30. anggun setianto says:

    semoga di sisa hidup yang ada kita bisa membahagiakan ibu kita…:_(

  31. ugeng says:

    astagfirulloh..
    ternyata saya blm berbuat banyak untuk ibu

  32. terharu sekali.
    saya juga sudah berniat naik haji bersama ibu saya. karena ayah saya sudah tiada.
    semoga Allah memampukan kami..amiin

  33. luar biasa, begitu menghipnotis ceritanya…

  34. smg sy bs meneladani keputusan pak asep setiawan, driver taxi, untuk bs ketemu ibu tiap hari, melakukan hal yg sama, meskipun sy blm tau hrs kerja apa.
    smg sy jg bs seperti pa Jamil, mentraktir driver taxi, makan bareng…senangnya…

  35. su'udah yusuf says:

    hiks…hiks…ikut nangis juga…ku doakan jg smoga Allah mengabulkan doa pak Asep yg mulia untuk seorang ibu…makasih pak Jamil untuk sharingnya yg selalu ngingetin qt untuk terus belajar…salam sukses mulia….

  36. fadeli says:

    Apa kabar mas JA,,,,trims atas cerita yg sgt berkesan. mengingatkan saya akan bunda dan juga mas JA. Salam kangen..

  37. fido says:

    ikut menitikkan air mata juga… Bener…

  38. benny mulyoleghowo says:

    ijin share ya suhu….suhu emang joss…!!!

  39. idrus says:

    Sungguh luar biasa… guru/trainer/pengajar ato apalah, bukan selalu orang yang lebih tua, lebih muda, lebih sukses, lebih apapun.. yang terpenting esensi dari yang disampaikan.

  40. Pingback: pulang lagi |
  41. Hari says:

    Luar biasa….sampe meneteskan air mata…

  42. arief rahman says:

    semakin membuat saya termotivasi untuk menjadi orang yang dapat membahagiakan dan memuliakan orang tua… thanks 4 the inspiration…

  43. amee says:

    penasaran banget pas kemarin baca twitter, katanya twit pak jamil ttg #taxi sgt menyentuh, ternyata pas baca langsung nangis ga abis2, inget ortu dirumah,sekarang baca postingan ini rindunya makin jadi, thanks pakJamil, so inspiring

  44. Amin. Semoga doa dan ketulusan Mas Asep untuk ibunya di jabbah oleh Allah SWT

  45. Semoga pak supir yang mulia itu bisa berbahagia mendapati ibunya pergi umroh nanti,,,,amin,,,pak zamil semoga berkah telah mengingatkan kami kepada ibu kami ,,,

  46. dobelden says:

    subhanallah.. sayapun merasa tertampar dengan baktinya beliau terhadap ibu.

    sangat menginspirasi dan harus saya ikuti..

  47. iwan e phambudi says:

    Terimakasih banyak Pak, sdh menyentuh hati banyak orang. Semoga bpk sll dalm lindunganNya. Aamiin…
    Ijin copas ya pak, cerita di atas sangat layak untuk dikoleksi.

  48. Imam SM says:

    Mas Jamil dan rekan-rekan pembaca setia Website JA…

    Izinkan saya menyampaikan usulan, bagaimana bila kita urunan untuk membantu mewujudkan niat suci kang Asep mengumrohkan ibunya?

    Saya lihat ada 500 (bahkan mungkin lebih) yg “menyukai” artikel ini.. andai saja masing2 menyisihkan Rp5.000/hari selama satu bulan saja.. sepertinya Ramadhan nanti kang Asep dan ibunya bisa kita bantu berangkat umroh ke Tanah Suci.

    Mas Jamil mungkin bisa menyediakan rekening banknya untuk menampung “tabungan akhirat” dari teman2 disini.

    InsyaAllah, sekecil apapun sumbangan kita utk sesama akan menjadi bukti kesuksesan sekaligus kemuliaan kita…

    Terima kasih.

    Salam SuksesMulia!

    1. PH. Putra says:

      Saya setuju sekali dengan comment mas Imam SM. Sudah saatnya simpati kita pada kisah ini dituangkan dalam aksi nyata. Saya yakin ini akan menjadi epos, yang suatu saat akan menjadi jalan kita ke baitullah.

    2. ChanJ says:

      Sangat setuju dengan usulannya…kita sanggup bayar di training/pelatihan yg lain, kali ini guru datang dengan sendirinya…kenapa nggak kita beri imbalan dengan mempercepat keberangkatan ibunya ke Baitullah?? Jadi tanpa sepengatahuan pak iwan, perilakunya yg baik bisa mempercepat/mempermudah utk memberi kebahagian kpd ibunda tercinta..”contoh buat kita semua”. semoga ada yg bersedia menjadi volunteer …

      1. sahid says:

        Sepakat dan Setuju usulan mas Imam SM, tabung EPOS yg tinggi. Siap turut partisipasi.

        Salam kangen utk Guru tercinta @JamilAzzaini

        Sahid

  49. febri says:

    saya suka sekali mas,,,kisahnya mengandung makna sekali =,,,saya copy ya mas….izin

  50. Muh Hidayat says:

    aku nangis pak :'(

  51. udet says:

    Subnallah Pak Jamil terima kasih atas sharingnya sangat inspiratif sekali. Memang guru/trainer tidak mengenal status sosial, dia ada dimana2.Smg Pak Asep dan Ibunya dan Pak Jamil dan keluarga smua pembaca blog ini selalu bertumbuh untuk pribadi yang sukses serta mulia..amienn

  52. ade maulana says:

    lanjutkan…

  53. Ibu adalah ibarat gusti Alloh katon di Dunia kata filosofi orang Jawa. kadang kita salah kaprah lebih respek mencium tangan para Ulama terkenal, pemimpin partai atau presiden ketimbang mencium Tangan Ibunda kita sendiri.

    Doa ibu adalah yang selalu di ijabah dan di dengar Alloh, maka tak heran ada ungkapan “surga ada di telapak kaki ibu”. Bila Kita ingin sukses hidup, ingin kaya dengan materi di Dunia bahagiakanlah dan jangan sia-siakan Ibu dan Ayah kita, maka Alloh akan membahagiakan kehidupan kita di Dunia.

  54. Cece YS says:

    Terimakasih atas nasehat dan ilmunya pak.

  55. boni says:

    subhanallah tulisannya, izin share pak…

  56. amadewa says:

    sudah membaca di twiter, baca lagi disini tetep saja menangis…

    bagaimana dengan rencana memberangkatkan umroh, apa yang bisa saya lakukan pak?

  57. ummu nida says:

    Subhanallah,sangat isnpiratif sekali cerita ini,jadi berpikir apakah yang kita berikan selama ini kpd ortu kita sdh sebanding dengan perngobanan beliau thd kita,hiks hiks hiks

  58. @adeprakasa says:

    hebat… menggugah hati.. hampir meneteskan air mata.. cukup berkaca2 saja sudah sangat hebat!!! saya juga ingin membahagiakan ibu saya dalam waktu dekat! ortu & mertua semuanya berangkat umroh!! aamiin.. sudah pantaskah saya?? hmmm

  59. Kebahagiaan says:

    Cerita ngarang2 apa beneran ini? Kok kayanya emosi si pendengar (bapak yang tukang traktir) begitu gampangnya langsung tersentuh, tidak diceritakan juga apa penyebab si bapak kok bisa2nya langsung mengagumi seseorang dalam waktu yang tidak begitu lama hanya sekedar obrolan, obrolan yang seperti apa yang membuat bapak tersebut mengagumi si driver?
    Btw ceritanya meng-inspirasi sekali, lebih bagus kalo cerita yang disampaikan adalah kenyataan…
    Terima kasih banyak buat sharing ceritanya

  60. Ferdy Attahimi says:

    Subhanallah Pak Jamil, sebuah drama air mata kehidupan yang sangat inspiratif. Terima kasih selalu utk cerita2 inspiratif yang LUAR BIASA !!! Terima kasih Pak Jamil … Terima kasih Pak Asep Setiawan … terima kasih para guru-guru kehidupan ….

  61. ali nawawi says:

    Subhanallah,sungguh tersentak batinku. maafkan aq Ya Allah, Ibu, Bpk, aq yg blm bisa membalas budi kebaikanmu pdku,..aq berjanji akan menjadi anak yang pantas engkau banggakan Ibu, BPk…Smg Allah SWT mengizinkannya…Amin

  62. febrian says:

    merinding dan berkaca-kaca saya membaca tulisan pak Jamil Azzaini, jika ini bukan di kantor tentunya saya akan meneteskan air mata krn tulisannya yg begitu natural dan inspiratif,

    salam berkah,

  63. dina says:

    hwaaaa….berlinang air mata bacanya pak…

  64. Jamil says:

    Kebahagiaan, sejak kecil saya diajarkan untuk tidak ada dusta walau hanya dalam bercanda. Cerita yang saya sampaikan adalah pengalaman saya. Saya trainer sudah belajar bahasa tubuh, ketika bahasa kang Asep cukup mengesankan bagi saya tentu saya tahu. Dari situlah awalnya. Maaf kalau cara menyampaikan saya kurang mendalam dan tajam sehingga Anda menganggapnya ini karangan. Terima kasih telah memberi pelajaran kepada saya untuk meningkatkan kemampuan menulis saya. Salam SuksesMulia, Jamil Azzaini

  65. ChanJ says:

    Asslkmwrwb,
    Pak, Terimakasih bnyk atas pelajarannya. Kita sudah mendapatkan guru yang tidak disangka-sangka…mau usul, gimana kalau kita buka kencleng untuk memberikan sedikit imbalan kepada guru kita yg sudah memberikan pelajaran tersebut ? selama ini kita sanggup bayar training/pelatihan yg mahal, skrng guru itu datang dengan sendirinya..kenapa kita nggak memberikan sedikit dana untuk mempercepat ibunya berangkat umrah atau haji sekalian ?? ..maaf kalu ide ini kurang berkenan. tks/wsslm

  66. hiks.. nice sharing Mbah.. Calon penghuni Surga memang bikin adem hati ya..

  67. yunee says:

    Ummi..ummi.. Ummi..
    Maafkan anakmu yg smpai saat ini blum bisa mmbhagiakanmu..
    Do’a driver taxi itu akn sllu menginspirasi do’a anak2 yg lain utk ibunya.. Terimakasih utk pelajarannya……

  68. sarigula says:

    huks huks .. sangatt terharru. terimakassi cerita pengalaman nya pak

  69. rizki kurnia says:

    walaupun sudah pernah baca ini di TL bapak, saya tetap nangis baca posting ini. saya share di twitter n facebook ya, pak 🙂

  70. vheena says:

    apa sy bisa curhat dgn bpk?krna trs terang sya sedang bermasalah dgn ibu sejak lama….saya ingin sekali membahagiakan beliau,krn smua usaha yg sya lakukan utk membahagiakan beliau rasanya sia2 dimata beliau….

    1. vina says:

      Halo vhee.. Gmn sdh bahagiakah ibu skrg? 🙂

  71. anna says:

    subhanallah…selamat pak jamil, anda terpilih oleh Alloh untuk menjadi perantara terkabulnya doa taxi driver dan ibunya tsb

  72. Mulia sekali hatinya. Mengingatkan saya yang kadang mengangkat telpon dari ibu saya saja agak males. Semoga Allah mengampuni dosa saya.

  73. Akhirnya TUHAN menganugrahi cerita ini kepada Anda, Tuhan masih sayang Anda, tetapi akhirnya Engkau menganugrahi Cerita ini kepada kami, artinya Tuhan juga masih sayang kepada kami, agar kami selalu menjaga dan membahagiakan Orangtua khususnya Ibu kita.. terimakasih bung. salam mulia

  74. Andi Rahmah says:

    Ceritanya mengingatkan saya pd Alm kakak laki-laki yg wafat setahun lalu. Setiap hari ia selalu menelepon Ibu yg tinggal di pulau seberang, utk menanyakan kesehatan, minta maaf, memohon do’a Ibu dan menyatakan bahwa ia selalu menyayangi Ibu. Tiap kali Ibu berkunjung ke rumah kakak tertua, Alm pun selalu berkunjung ke sana. Meski harus menempuh perjalanan 2 jam naik motor dan menitipkannya ke rumah saya, supaya dapat melanjutkan perjalanan naik krl, Alm selalu bersemangat. Senyum yg selalu menghiasi wajahnya ditambah tertawa kecil..merupakan respon yg selalu ditunjukkannya saat minta izin menitipkan motor di rumah. Seringkali, motornya menginap karena ybs memilih utk menghabiskan waktu lebih banyak dengan Ibu. Kehilangannya membuat Ibuku kehabisan air mata.

  75. allan yuliansyah says:

    pak baca cerita ini…saya jadi ingin pulang hanya untuk sekedar mencium tangannya…subhanallah…terpujilah orang orang yg selalu berusaha menyenangkan hati kedua orang tuanya…terutama ibu….

  76. zainal abidin says:

    masyaAllah. Sekedar usul pak, mungkin diatas sudah ada yang mengusulkan tapi karena saya tidak membaca satu-satu makanya tetap saya usulkan. Mungkin pak jamil bisa menjadi mediator biar cita cita driver tersebut terwujud. Dari sekian banyak yang komentar disini (termasuk saya) kalau urunan meskipun sedikit sedikit, mungkin bisa untuk memberangkat umroh ibu sang driver tersebut pak. Mungkin bisa jadi ketemunya driver dengan bapak dan menceritakan kembali ke kita semua bisa menjadi jawaban dari doa driver dan ibunya yang memang sudah ditakdirkan Allah.SWT. amin.

  77. sefti isnaini says:

    Sama spt cita2 saya dulu,tp sayang sy ndak bs mwujudkan impian itu krn ibu lbh dulu pulang krmh Allah d usia yg masih muda,jd berlinang air mata kl ingat smua.tp sy bjanji utk tetap mengejar impian dan cita2 saya,smg ibu mndpt tmpt terindah d sisi-Nya.amiin.thanks om jamil

  78. Asto says:

    Jzklh Pak Jamil … saya baru mau mulai rutin setiap pekan pulang ke rumah ibu … doakan saya bisa istiqomah. Dengan kisah ini semakin kuat azzam saya pak!

  79. raden satriadi says:

    Ya pak… saya juga selama ini merasa belum berbuat banyak untuk bahagiakan ibu..tulisan yang mengispirasi.. 🙂

  80. Hadi B R says:

    “surga” ada di bawah telapak kaki ibu.. Mari kita sama2 belajar utk berbuat & memberi lebih lagi untuk orang tua kita, terutama ibu.. Salam..

  81. isrul nasution says:

    Very inspiring…betapa tulusnya sang driver, yg tanpa kenal lelah terus berusaha memberi perhatian dan membahagiakan sang Ibu. Semoga apa yg dilakukannya akan menjadi jalan kesuksesan baginya di dunia dan akhirat. Amiiin.

  82. maia says:

    Subhanallah…niat itupun sdah tertanam dihati ini…namun اَللّهُ msh menggariskan rejeki sy tuk cukup sehari2. Semoga saya bs mengistiqamahkan niat saya…dan tercapainya permintaan ibu saya tuk menunaikan rukun islam yg terakhir…‎​آمين يارب العاليمن.

  83. teguh says:

    Pak,wacana untuk mengumrohkan ibunya jadi?

  84. aryo says:

    Subhanallah….Niat yg sangat mulia sekali pengemudi itu. Salut!

  85. fryda ryanto says:

    Subhannallah…
    kisah yg mengharukan….
    jadi kangen mama papa…
    kapan ya bisa pulang ke Jawa sungkem sama mereka…??

  86. ipal says:

    Subhanallah,..sentuhan yang menghentak kedalaman Qalbu betapa kita masih perlu melirik kedalaman hati kita untuk bertanya..sudahkah kita membuat sang ibunda tersenyum hari ini?

  87. Flanel27 says:

    Mas Jamil Azzaini memang top markotop maknyuzzzzz…………….

  88. boy says:

    subhanallah..luar biasa Pak,,so inspiring dan membuat saya lebih bersyukur…speechless…

  89. Heda says:

    Subhanallah,terharu pas bc cerita ini, bharap tdk menangis krn lg d angkot tp mata ini ckp tgenang sdkt. Jd inget sm alhm ibu, dr dulu sibuk kuliah, sibuk kerja smp akhir’y meninggal mrasa sangat krg ksh perhatian u ibu. U smua tmn2 yg ibu’y msh ada tdk ada kata terlambat u mberikan ksh syg blebih. Skrg atw tdk sm sekali. Makasih pak u share cerita’y ˆ⌣ˆ

  90. Eko Sudiro says:

    Alhamdulillah rupanya masih banyak cerita menarik yang bisa menambah keimanan kita, semoga kebaikan ini bisa menambah bakti kita kepada orang tua untuk menjadi kunci masuk pintu surga. selagi orang tua masih hidup jangan sia-siakan mereka, percuma setelah tiada baru kita menyesal kenapa kita tidak memelihara orangtua kita dengan penuh rasakasih sayang, mudahan ini sebagai hidayah.

  91. Urfy says:

    Assalamualaikum pak Jamil, cerita ini sangat menyentuh dan menginspirasi. sampai-sampai saya share link nya ke teman-teman di kantor. ada sedikit pertanyaan dan masukan dari teman saya yang bergelut di bidang marketing. menurutnya ada sedikit hal yang mengganggu, yaitu penyebutan “merek”. karena menurut beliau bisa jadi merek tersebut membayar untuk promosi. apakah betul demikian pak?
    saya sih yakin cerita diatas memang kisah nyata dan tidak berunsur promosi, tapi saya juga sepakat bahwa sebaiknya merek dagang tidak perlu diumbar secara jelas. mohon klarifikasinya yah pak Jamil. salam sukses mulia! 🙂

  92. martin says:

    luar biasa guruku satu ini.. so pasti setelah baca tulisan bapak, rasanya ingin pulang ke aceh mau sungkeman sama ibu yang masih hidup.. subhanallah

  93. ufairah says:

    Subhanallah pak Jamil…
    Makasih atas tulisannya..
    sangat menyentuh..

  94. subhanaLlah kek

    saya terharu, malu, bangga, entah rasa apa lagi yang hinggap di hati saya setelah membaca posting ini

    sungguh mulia hati guru kita ini
    profesinya saja yang driver taxi

    namun kemuliaannyalayaklah ia dijadikan guru bagi kita semua

    doa kami selalu untuknya
    mudahkan rezekinya Ya Rabb
    tak hanya umroh, hajikan ibunda guru kita ini

    Amin

  95. wien says:

    Terima Kasih pak Jamil, saya terharu sekali dan sangat menginspirasi, selama ini saya selalu berusaha yang terbaik untuk ibu dan ayah senang dan bahagia … setelah membaca ini ternyata jauuuh dari apa yang dilakukan seorang driver taxi kepada ibundanya, sangat mulia beliau…

  96. indah says:

    Mohon ijin sharing di blog saya juga pak..terima kasih sudah menginspirasi..

  97. wien says:

    Subhanallah الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِِ bru aj ibu saya pulang dari rumah saya menjenguk saya yg cm sakit diare ringan pdhl jarak rumah ibu ke rumah saya 15km :’) jd kangennnn lg terima kasih ibu….I └ºνє♡ u makasih pa jamil inspirasinya

  98. ugie says:

    air mataku pun tak kuasa mengalir… miss U ibu… 🙁

  99. widhi antoro says:

    Subhanallah…Semoga masih banyak Asep2 di jaman sekarang ini…Amiin.

  100. didi says:

    begitu menyentuh..tak terasa airmatakupun berlinang.

  101. myra_ieya says:

    Ini mmbuat sy terharu. Mgkn beberapa bulan belakangan saya telah mmbuat ibu sy sedih…sy tdk akan mmbuatnya kecewa lg selagi beliau msh ada…

  102. setiawan says:

    :)aku pun ingin bahagiakan ibu dan bapak 🙂

  103. Masyita says:

    subahanallah sungguh kisah yg sangat mnyentuh hati & mmbuat sy mnangis….
    izin copas yah????
    syukran……

  104. nugroho b says:

    jazakallah khairan katsiran ustad Jamil..
    antum serupa dengan ustad Bobby, selalu diberikan petunjuk Allah Swt dengan kisah2 luar biasa untuk mencerahkan kami umat yang masih belajar ini…

    Insya Allah makin sukses mulia!

    salam dari alumni dd travel..

  105. dendi mukti putranto says:

    saya sampai berkaca2 pak jamil :’)

  106. sandi teguh K says:

    Maafkan sandi ‘ Ibu …
    Ibu telah berpulang thn Feb 2005
    Sandi berjanji akan menjadi Ayah yg baik untuk keluarga ( Istri dan Anak anak ( Dimas & Daffa )

  107. sobirin says:

    Subhanallah….saya terharu dengan kutipan diatas.jatuh jg air mata saya

  108. daraswita says:

    subhanallah… sampe netesin air mata juga kek, begitu mulia ia rela korbankan apapun demi ibu, smoga kita semua dapat plajarannya 🙂

  109. Indra Gunawan says:

    Ini sangat sangat dan sangat luar biasa.

    Semoga Allah mengabulkan doanya.
    Doa ibu akan malu di dengar malaikat karena langsung didengar Allah

  110. moslem zen says:

    kadang2 kita berpikir ingin membahagiakan yang kita cintai dengan uang, padahal banyak yang bisa kita lakukan yang cukup berharga. terima kasih untuk cerita yang cukup menginspirasi

  111. Ratmawatii (@_Wattee) says:

    Ya Alloh sediiihhhh,dulu pas masih tinggal di rumah cium tangan Ibu waktu berangkat ma pulang sekolah doank:'(

  112. irna yuliani says:

    saya gemetaran membaca tulisan kakek,,,,,tamparan hebat mendarat diwajahku….

  113. fauzan says:

    Inspiratif, patut dicontoh. Belajar banyak dari siapapun.

  114. Subhanallah. Ikut terharu. Masih kurang berbakti pada Ibu… trmksh tulisannya Kek.

  115. romi advant says:

    Inspiring, amazing, best article

  116. kasman says:

    Subhanallah,ekonomiku baik ibuku dan bapakku telah tiada.ya Rabb ampunilah dosa saya yg tidak dpt membahagiakan orang tua.Aku berhaji aku doakan di ka’bah orang tuaku,aku umroh aku umrohkan dan kakak tertua aku umroh kan tuk balas kebaikan orang tua.namun setelah baca tulisan yg ini aku benar2 tak berdaya dan menangis .semoga Allah swt selalu memberi petunjuk dan melindungi kita semua.Amin

  117. Satria Adhi says:

    Subhanallah… Entah sudah brp kali saya baca tulisan ini dan entah juga knp selalu ingin mengulanginya…

  118. sentulkenyut says:

    hebat nih si Ibu…bisa mendidik anak seperti itu…

    tidak ada asap kalau tidak ada api….

  119. Ricky S.A says:

    SubhanAllah..baru baca tulisan ini..kita doakan sama2 semoga niat mulya asep setiawan di ridhoi Allah dan dijaga hingga sang ibu bisa berangkat umroh..

Leave a Reply

Your email address will not be published.