“Revolusi” Dari Kebun Karet

Negeri ini punya 1.000 kisah seperti Laskar Pelangi. Ya, kisah bocah melarat yang membalikkan keadaan yang menindasnya, lalu menuai sukses. Jamil Azzaini termasuk satu dari 1.000 kisah Laskar Pelangi yang lain.

Semua atribut orang miskin pernah melekatinya. Rumahnya dulu cuma gubuk kecil. Ayahnya hanya bekerja sebagai anggota satuan keamanan kebun karet Perkebunan Nusantara VII–dulu bernama PTP X. Jamil pernah hampir menyerah. Bersekolah dengan menempuh jarak 46 kilometer pun ia dijalani. “Sekolah yang tinggi, Nak. Semoga kamu tak pernah dihina lagi,” begitu isi petuah berharga ayahnya.

Semasa kecil, dia pontang-panting bekerja dengan bayaran Rp 4.000 sebulan. Sehabis salat subuh, Jamil berlari ke kebun karet memungut getah beku hingga menjelang lonceng sekolah memanggilnya. Dari upah itu, Rp 1.500 ia pakai untuk membayar uang sekolah di SMP Tri Bhakti Utama, Lampung, dan sisanya buat kulakan penganan.

Kini bocah pedalaman Lampung Selatan itu sudah tak mengejar duit receh. Sebagai motivator, namanya meroket dan menjadi pembicara di berbagai seminar. Dia salah satu mentor training paling laris di negeri ini. Jadwal roadshow-nya ke sejumlah kota dan negara berderet. Sekali tampil ia bisa meraup hingga puluhan juta rupiah.

Terlahir di Purworejo, Jawa Tengah, menjelang akil balik, Jamil kecil diboyong orang tuanya ke kampung transmigran di pedalaman Lampung Selatan. Ia hidup bersama tiga saudara.

Dia pembangkit motivasi. Di depan para direktur, pemilik perusahaan, dan siapa pun yang butuh resep manjur yang menyentuh hati, Jamil sanggup menjelaskan dengan lancar apa itu prinsip hidup sukses sekaligus mulia.

Masa kanak-kanak penuh keprihatinan menjadi materi training penggugah nurani. Misalnya saban hari mandi di sungai. Ingin nonton televisi? Jamil harus pergi beberapa kilometer agar bisa menumpang nonton di rumah seorang pejabat perkebunan. Selain berada dalam keluarga miskin, lingkungannya kurang peduli pendidikan. Tapi keadaan serba susah itu justru melejitkannya meraih cita cita yang didukung orang tuanya.

Saat usia SD, suatu hari dia diolok-olok teman-temannya karena mengatakan ingin bercita-cita menjadi insinyur. Tinjunya melayang ke si pengolok. Suasana runyam karena kawan-kawannya itu ingin mengeroyok. Ia lalu lari ke lapangan bola untuk mengajak duel. Mendadak kepalanya pusing hebat. Rupanya itu akibat lemparan seorang temannya. “Sakitnya luar biasa. Saya sampai menangis,” Jamil berkisah dalam pelatihan yang diikuti Tempo dua pekan lalu.

Bocah ini menjadi luar biasa, selain ditempa oleh alam, berkat didikan keras ayahnya, Ahmad Zaini, dan Wasiyem, ibundanya. Ayahnya selalu berkata, “Buktikan Mil, kamu bisa jadi insinyur pertanian.” Kata-kata itu menancap betul di otaknya. Dan ia membuktikannya dengan selalu meraih gelar juara kelas dari SD, SMP, hingga SMA. Jamil pun masuk ke Institut Pertanian Bogor tanpa melalui tes.

Di hari lahirnya ke-39, Jamil memandangi fotonya saat diwisuda di IPB pada 1992. Saat tersenyum, ia meraba kepala. “Saya merasakan ada pitak. Inilah pitak Insinyur Pertanian.” Pada 1994 dia bergabung lembaga Dompet Dhuafa Republika, yang mengelola dana zakat, infak, dan sedekah. Tugasnya mengembangkan ekonomi kerakyatan, di antaranya lewat lembaga Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Dana yang disalurkan mulai Rp 1 juta. Kini banyak BMT binaan Dompet Dhuafa yang beraset miliaran rupiah dan dinikmati ratusan ribu kaum papa.

Buruh tani pun dia entaskan dari jeratan rentenir. Caranya, di satu tempat Jamil menyembuhkan satu petani gurem untuk diajak hidup merdeka dari jajahan “bank plecit”– sebutan lain rentenir. “Sekarang ratusan petani dan lebih dari 1.000 hektare lahan bebas dari campur tangan rentenir,” ujar Astoni Mulyo dari kelompok tani di Majenan, Lamongan, Jawa Timur. “Beliau menuntun kami,” kata Astoni kepada Tempo sambil meneteskan air mata karena Jamil tak lagi berada di Dompet Dhuafa.

Sudah ratusan perusahaan dalam dan luar negeri yang beroleh diagnosis mujarab Jamil dengan prinsip sukses mulia. Ratusan ribu manusia tercerahkan oleh kisah-kisah nyata bapak empat anak ini. Ia pun dinobatkan sebagai master trainer dari Kubik Leadership oleh Farid Poniman, Direktur PT Kubik Kreasi Sisilain.

Menurut Jamil, siapa pun berkesempatan meraih sukses. Hanya, jika kesuksesan diukur dengan melimpahnya harta, jabatan atau takhta, kata (ilmu), dan cinta (ucapannya sering didengar lewat media), tidaklah cukup membuat hidup bahagia.

Kesuksesan yang meliputi empat macam tadi, kata Jamil, harus pula dirasakan manfaatnya oleh orang di sekitarnya. Tentu saja cara mendapatkan kesuksesan harus dengan cara fair dan tidak melanggar etika serta ajaran agama. “Bila orientasi hidup cuma sukses semata, egoisme bakal muncul dalam diri kita,” tutur Jamil.

Saat memberi training Top Leadership di Brunei Darussalam, dia ditanya Mr Cheah, seorang guru besar bidang kesehatan warga Australia. Pertanyaannya, kapan seseorang disebut sukses? Pak Jamil sudah sukses? “Saya menjawab dengan prinsip 4 “Ta” tadi. Harta, takhta, kata, dan cinta, yang dibumbui perilaku berderma, terus-menerus menebarkan ilmu tanpa diminta, dan berbagi cinta ke sesama,” tuturnya.

Dalam berbagi cinta, Jamil mencontohkan Mak Eroh, peraih Kalpataru yang menggali saluran air melewati delapan bukit di Garut, Jawa Barat. Sebulan lebih menggali saluran dia dicemooh karena dianggap mustahil. “Saya yakin, cinta beliau tak cuma senilai Kalpataru. Keuntungan akan mengalir sepanjang hidup dan matinya.”

Jamil menambahkan, “Itulah cara meraih tingkatan sukses mulia yang progresif. Hasilnya terus bergerak dan menanjak. Sukses yang dimiliki dibagi kepada orang di sekitar kita.” Mr Cheah tersenyum. Sambil menjabat tangan Jamil, ia mengatakan, “Saya ingin termasuk orang yang sukses mulia.” ELIK SUSANTO

(Koran Tempo, 15 Juli 2009)

Bagikan:

One thought on ““Revolusi” Dari Kebun Karet”

  1. badriah says:

    pa kabar mas jamil??udah lama ga liat senyumnya mas jamil… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.