Terobosan Menemukan Peluang Ala Jan Koum

Share this

Saya yakin, sebagian besar dari Anda pasti mengenal WhatsApp, Aplikasi yang dapat digunakan untuk menelepon dan mengirim pesan ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Saya sangat terbantu dengan aplikasi ini, apalagi dua anak saya tinggal di Jerman dan di Jepang. Andai belum ada whatsApp tentu sangat besar biaya yang saya keluarkan untuk bisa berkomunikasi dengan anak saya. Dengan aplikasi whats app, saya bisa video call, sehingga pesan tersampaikan, rundu melihat wajah anak terobati.

Begitu pula dengan Anda, bisa jadi, Anda baru saja mengirim pesan menggunakan WhatsApp sebelum membaca tulisan ini. Dan orang yang tergantung dengan aplikasi ini jumlahnya sudah semakin bertambah. Pada Agustus 2022, pengguna WhatsApp mencapai 2,27  miliar pengguna. Berdasarkan negaranya, jumlah pengguna Whatsapp paling banyak di India pada 2021, yakni 390 juta orang.

Brasil menempati posisi kedua dengan pengguna Whatsapp sebanyak 148 juta sepanjang tahun lalu. Lalu, pengguna Whatsapp di Indonesia sebanyak 112 juta orang. Setelahnya ada Amerika Serikat dan Filipina dengan jumlah pengguna Whatsapp masing-masing sebanyak 88 juta orang dan 77 juta orang.

Dengan data ini, menurut Satista, Whatsapp pun menjadi aplikasi messenger paling popular di seluruh dunia. Tapi, tahukah Anda siapa pendiri perusahaan yang bernilai miliaran dolar Amerika ini, dan bagaimana ia melakukannya?

Jan Koum adalah seorang imigran asal Ukraina yang pindah ke Mountain View, California pada tahun 1992 bersama dengan ibu dan neneknya. Setelah pindah ke California, hidup yang dijalani pun tidak mudah. Awalnya ia bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah toko kelontong, bahkan perlu bergantung pada bantuan pemerintah dan kupon-kupon makanan untuk hidup sehari-hari. Kehidupannya sangat miskin dan perlu berjuang keras untuk bisa bertahan hidup.

Pada Januari 2009, setelah 17 tahun tinggal di Amerika Serikat, Jan Koum baru bisa membeli iPhone pertamanya, dan ketika sedang melihat-lihat aplikasi yang ada di AppStore, ia menyadari betapa pesatnya industri ini akan berkembang. Melihat peluang bisnis ini, ia pun segera beraksi.

Baca Juga  Cristiano Ronaldo dan BTS

Tidak lama kemudian, pada 24 Februari 2009, ia langsung mendaftarkan WhatsApp Inc. di California. Pada awalnya, WhatsApp tidak didesain untuk mengirim pesan. WhatsApp hanya didesain untuk menampilkan status di sebelah nama pengguna. Jumlah pengguna awal hanya terdiri dari lima sampai sepuluh pengguna, dan aplikasinya sendiri seringkali mengalami crash. Jan Koum sendiri hampir menyerah dan berganti pekerjaan. Beruntung ia punya sahabat baik bernama Brian Acton. Brian Acton lah yang menyemangati, menemani dan memotivasi Jan Koum untuk terus mengembangkan WhatsApp

Keadaan WhatsApp mulai membaik ketika Apple meluncurkan update pada Juni 2009 yang memungkinkan push notification. Seketika, Koum pun juga meluncurkan sebuah update di mana pengguna akan mendapatkan notifikasi ketika temannya mengganti status WhatsApp mereka. Pengguna pun senang dengan perubahan ini. Mereka mulai memasang status buatan mereka sendiri, seperti “I woke up late”.

Pengguna juga mulai menggunakannya sebagai aplikasi untuk mengirim pesan. Satu pengguna akan mengubah statusnya menjadi “Hey, what’s up?” dan pengguna lain akan memberikan jawaban dengan mengubah status mereka. Tidak ingin melewatkan kesempatan ini, Jan Koum kembali meluncurkan update dengan fitur pengirim pesan. Sejak saat itu, WharsApp terus bertumbuh dengan pesat hingga saat ini. Kita menjadi pengguna whatsApp bersama 2 milyar lebih penduduk bumi.

Hal yang menarik dari Koum adalah bagaimana ia tetap terfokus untuk mengembangkan aplikasinya. Pada masa-masa awal ketika WhatsApp mulai viral, Koum dan Acton terus menerus menolak untuk berbicara kepada media mengenai WhatsApp. Di tahun 2011 dalam sebuah acara makan siang, salah satu staf pernah bertanya kepada Koum mengapa ia tidak berbicara kepada media. Koum hanya menjawab bahwa marketing dan media hanya akan mengalihkan pandangan dan membuatnya tidak lagi terfokus pada produknya.

Bahkan setelah pindah ke gedung baru pada tahun 2014 karena jumlah staf yang terus bertambah, Koum tetap menolak untuk memasang plang WhatsApp di gedung tersebut. “Plang hanya akan membesarkan ego,” katanya. “Toh, kita semua tahu dimana kita bekerja.”

Baca Juga  Jangan Sepelekan yang Kecil (1)

Dari pendiri WhatsApp ini setidaknya kita mendapat 3 pelajaran, menurut Anda, apa saja pelajarannya?

Pertama, memanfaatkan perkembangan teknologi untuk pengembangan bisnis. Saat Jan Koum membeli iPhone pertama kali, ia sangat terkejut melihat perkembangan teknologi yang luar biasa cepatnya. Keterkejutannya tidak membuatnya shock berkepanjangan, bahkan ia melihat ada peluang yang bisa dimanfaatkan. Yah, kita semua tahu, di dalam kata peluang ada kata uang. Dengan memanfaatkan peluang yang ada Jan Koum bisa menghasilkan uang, Anda tahu khan Facebook mengakuisisi WhatsApp dengan nilai US$ 22 miliar atau setara dengan 319 trilyun rupiah. Sebuah nilai yang sangat fantastis.

Kedua, Jan Koum sangat fokus mengembangkan produk. Ia sangat yakin, bila produknya mudah digunakan, murah dan nyaman bagi banyak orang maka para penggunalah yang akan memasarkan dan mempopulerkan produknya. Menurut seorang psikologis ternama, Daniel Goleman, terdapat tiga hal yang perlu menjadi fokus bagi para leader. Apa saja?

Fokus pada diri Anda adalah hal pertama yang perlu dilakukan seorang leader. Seperti yang sudah Anda sering dengar, tak kenal maka tak sayang, dan hal ini juga berlaku pada Anda. Kenali diri Anda dan ketahui hal-hal apa saja yang dapat menganggu fokus Anda. Jauhi godaan-godaan dan kemenangan sesaat yang hanya menjauhkan Anda dari tujuan yang telah ditetapkan.

Namun ingat, Anda adalah pemimpin, maka Anda pun perlu Fokus pada orang lain. Jadi, bukan berarti karena poin pertama adalah fokus pada diri Anda sendiri lalu Anda berubah menjadi egois dan semena-mena. Bayangkan jika Anda meminta anggota tim mengerjakan tugas yang tidak masuk akal dengan deadline yang mepet, yang ada malah tidak ada yang mau bekerja dengan Anda. Leader harus mampu untuk berempati, seperti memahami perspektif orang lain, mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan mengetahui apa yang orang lain inginkan dari dirinya. Dengan demikian, Anda bisa dengan tepat memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh tim Anda.

Daniel Goleman juga mengingatkan agar kita juga Fokus pada sudut pandang yang lebih luas. Buka pikiran dan cermati apa yang terjadi di sekitar Anda. Bayangkan konsekuensi dari pilihan-pilihan Anda, dan bagaimana pilihan Anda akan mempengaruhi apa yang terjadi di masa depan. Untuk melakukan hal ini, Anda perlu untuk menyisihkan waktu sejenak untuk berefleksi. Melakukan refleksi juga dapat memunculkan ide-ide baru yang belum terpikirkan sebelumnya.

Baca Juga  Sisi Lain Lelaki

Ketiga, miliki sahabat yang tepat. Jan Koum hampir saja berhenti dan putus asa, beruntung ia memiliki sahabat yang sangat mendukungnya yaitu Brian Acton. Karena sahabatnya inilah, semangat dan impian Jan Koum terjaga. Tidak heran apabila ada banyak orang bijak yang mengatakan “hidupmu sepuluh tahun yang akan datang, tergantung dengan siapa Anda bersahabat hari ini.”

Bersyukur, saya punya banyak sahabat yang selalu menjaga dan mengingatkan saya. Salah satu sahabat saya, yang kami saling mengingatkan dan saling mendukung adalah Indrawan Nugroho yang kini sedang naik daun. Sejak tahun 2003 kami saling bahu membahu, saling menguatkan, saling mendukung. Dia banyak membantu untuk keberhasilan saya dan untuk popularitas sehingga saya terpilih sebagai 1 dari tiga trainer terbaik Indonesia.

Begitu pula sebaliknya, saya pun ikut membantu keberhasilan mas Indrawan Nugroho. Maka, Saat video-video beliau viral, mungkin salah satu orang yang paling berbahagia adalah saya.  Sahabatku sukses, sahabatkan tumbuh eksponensial. Ia adalah salah satu eksponensial leader, Seperti judul buku yang sedang kami tulis berdua.

Bagaimana dengan Anda? Apa peluang-peluang yang ada di sekitar Anda yang bisa Anda jadikan uang. Apakah saat ini Anda sudah terlatih untuk fokus dalam berbagai kegiatan, atau masih terbiasa multi tasking? Perlu Anda ketahui, multi tasking itu menurunkan produktivitas, biasakanlah untuk fokus alias single tasking agar Anda bisa menghasilkan karya seperti Jan Koum dengan WhatsAppnya. Pertanyaan terakhir dari saya, apakah Anda punya sahabat baik yang selalu menjaga semangat dan mimpi-mimpi Anda? Siapa saja mereka?

Semoga Anda tetap menjadi pemimpin yang benar-benar memimpin. SuksesMulia untuk Anda semua.

Salam SuksesMulia
Jamil Azzaini

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer