Suka Main Lato-Lato?

Share this

Akhir-akhir ini di sekitar rumah saya ada suara yang rutin terdengar. Terkadang sampai mengganggu, karena hampir seharian tidak ada berhentinya. Nah, waktu saya ke daerah lain, ternyata suara itu masih terus mengikuti. Ada yang bisa tebak, suara apa itu? Yes, buat Anda yang menebak lato-lato, Anda benar sekali. Lato-lato atau nok-nok ini sedang viral sejak Presiden kita mulai mencobanya. Sekarang, tidak hanya anak-anak yang main, tapi juga orang dewasa. Sampai saya bertanya-tanya, kok bisa orang dewasa juga tertarik dengan permainan anak-anak seperti ini?

Nyatanya, bukan hanya lato-lato, mainan anak-anak yang dimainkan oleh orang dewasa. Kalau kita lihat lebih luas lagi, ternyata banyak juga ya mainan anak-anak yang digandrungi justru oleh orang dewasa. Kita bisa sebut, Lego, Hot Wheels, atau Action Figures misalnya. Dalam memfasilitasi pembelajaran di training, kami juga sering memainkan permainan tradisional Indonesia atau board games untuk para peserta yang notabene orang dewasa. Simply, karena bermain itu menyenangkan. Dan pembelajaran yang dilakukan dengan hati yang gembira, bisa memudahkan kita untuk mengingatnya.

Orang dewasa saat ini memang sedang menjadi target utama industri permainan. Hal ini dikarenakan, fenomena orang dewasa yang memainkan mainan anak-anak atau yang bisa disebut Kidult, sedang marak terjadi di berbagai negara. Di Amerika Serikat sendiri, menurut laporan Bloomberg, para Kidult ini meningkatkan penjualan mainan sebesar 37% selama 2 tahun belakangan. Dan menurut Toy Association, 58% para pembeli, mengatakan mereka membeli mainan untuk diri mereka sendiri, orang dewasa.

Tapi, sebelum lebih jauh lagi yuk kita bahas tentang fenomena Kidult ini dulu. Kidult itu merupakan akronim dari Kid-Adult yang mulai populer sejak tahun 1980an. Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh psikolog Jim Ward-Nichols dari Steven Institute of Technology di New Jersey, AS. Meskipun istilah itu sudah ada sejak tahun 1980an, tapi masyarakat masih tabu melihat fenomena ini. Fenomena dimana seseorang yang sebenarnya secara umur sudah dewasa, tapi masih senang menikmati kehidupan dan kebiasaan anak-anak atau remaja belasan tahun.

Baca Juga  Indonesia Berdaya

Selayaknya 2 sisi koin, fenomena ini membawa banyak sekali keuntungan untuk berbagai pihak. Tapi, jika terlalu terbawa arusnya, maka bisa berakibat buruk juga untuk orang tersebut. Dilansir dari Fox Business, para Kidult menyumbangkan setidaknya 9 Billion USD pada tahun 2022 lalu untuk membeli mainan. Ini tentu, jadi angin segar ya untuk industri permainan. Berbagai mainan versi untuk orang dewasa atau mainan dengan karakter yang hits di tahun 80-90an mulai banyak dijual di pasaran.

Menariknya, industri lain pun melihat fenomena ini sebagai peluang baru. Seperti industri Fashion yang mulai meluncurkan barang-barangnya dengan tema anak-anak. Levi’s yang berkolaborasi dengan Lego, Chanel dengan Medicom Toy Bearbrick. Di Industri Restaurant ada McD yang meluncurkan paket Happy Meal temanya anak-anak tetapi untuk orang dewasa. Bahkan di negara Korea Selatan, Industri Entertainment-nya sudah mempromosikan budaya Kidult ini sebagai bagian dari budaya Korea sejak 2013an. Sehingga tidak heran, banyak artis-artisnya yang tidak ragu menampilkan persona cuteness ke publik. Dan boom! Ternyata disukai oleh warga dunia.

Kombinasi dari nostalgia dan stress relief, menurut Krystine Batcho seorang profesor Psikologi, disebut sebagai alasan utama seseorang rela membeli mainan anak-anak dan memainkannya sendiri. Rasanya pasti nyaman ya kembali ke masa lalu dan sejenak melupakan peliknya kehidupan. Apalagi, di masa-masa tidak menentu seperti sekarang ini. Selain itu, menurut penelitian Proyer dan Ruch dengan bermain, seseorang juga bisa menstimulasi dan meningkatkan kreativitas yang dimiliki. Imajinasi yang kita buat saat bermain, bisa jadi justru memberikan ide-ide baru saat kita kembali bekerja.

Tapi, jangan sampai juga nostalgia ini membuat kita terlena, melupakan tugas dan tanggung jawab yang kita miliki sebagai orang dewasa. Atau dengan kata lain, Anda menolak untuk tumbuh secara emosional menjadi orang dewasa, atau dalam istilah psikologi dikenal dengan Peter Pan Syndrome. Nah saya akan bagikan tips nya agar Anda bisa bermain sebagai seseorang yang sudah dewasa.

Baca Juga  Sugesti dengan Tindakan

Pertama, Fun : Setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda untuk menikmati kesenangan. Nah, Anda harus tahu dulu apa yang membuat Anda senang, baru Anda mencari aktivitas yang bisa memfasilitasinya. Misal, Anda senang problem solving, Anda bisa bermain board games, atau Anda senang merangkai sesuatu, Anda bisa bermain dengan Lego. Dengan permainan ini, Anda akhirnya terbiasa terlatih untuk merangkai kata, merangkai peristiwa, dan boleh jadi juga merangkai bunga. Sebuah permainan bisa mengasah keahlian Anda.

Bisa juga Anda mengingat-ingat permainan apa sih yang paling Anda sukai waktu kecil atau adakah mainan yang waktu Anda kecil ingin Anda mainkan tapi tidak kesampean. Karena, salah satu alasan millennials sebagai kidult, yakni keinginan untuk kembali ke masa kecil yang mereka inginkan. Saat ini, mereka sudah berpenghasilan, maka ini saatnya mereka bisa membelikan diri mereka, mainan yang mungkin saat masih kecil orang tua mereka tidak bisa belikan. Dipuaskan saat ini.

Kedua, Time  : Di tengah padatnya schedule dan peran Anda, saya sarankan untuk tetap meluangkan waktu Anda untuk bermain. Tidak ada yang salah dengan memberikan hak bermain untuk diri Anda. Karena, setua apapun diri ini, selalu ada inner child yang setia menemani. Inner child bisa diartikan sebagai sisi anak-anak dalam diri kita yang membuat kita bisa lebih playful dan menikmati apa yang sedang kita jalani.

Jadi yuk book jadwal Anda, kapan Anda bisa memberikan hak diri untuk diri Anda bermain. Setidaknya 2 jam dalam seminggu Anda bisa bermain. Komitmen terhadap waktu ini juga termasuk durasi Anda bermain. Jika terlalu lama dan sampai mengorbankan tanggungjawab Anda lainnya, maka bermainnya sudah tidak lagi sehat untuk Anda. Semua pada kadarnya. Oke?

Baca Juga  Berapa Gaji Ideal Fresh Graduate?

Ketiga, Partner : Tidak semua permainan bisa dinikmati dengan orang lain. Tapi tidak ada salahnya jika Anda mengajak teman, pasangan, atau anak Anda untuk menikmatinya bersama. Tentu ini akan memperkuat hubungan Anda dengan orang tersebut. Apalagi kalau dengan anak atau cucu. Saya sendiri masih senang bermain dengan anak dan cucu, terkadang bermain kartu, bermain bola, bermain petak umpet, bermain congklang dan lain sebagainya. Bermain dengan mengajak orang lain, selain membahagiakan itu mendekatkan kita dengan mereka.

Bermain, sesungguhnya adalah cara lain dari meditasi. Dimana kita bisa fokus pada momennya dan me-reset kesibukan otak kita memikirkan berbagai hal. Saya coba menutup video ini dengan meminjam kata-kata dari Friedrich Nietzsche, katanya “In every real man, a child is hidden that wants to play.” Di setiap pria sejati, tersembunyi seorang anak yang ingin bermain. Yuk, kita bermain dengan proporsi yang tepat.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer