Stop Meminta Feedback! Mulailah meminta FeedForward

Share this

Banyak dari Anda hingga detik ini mungkin percaya, meminta feedback mampu meningkatkan performa Anda kedepannya. Setelah sebuah tugas mampu Anda selesaikan dengan baik, Anda akan meminta feedback dari orang yang Anda anggap lebih expert. Apakah langkah tersebut tepat? Ataukah ada cara lain yang lebih efektif?

Keyakinan bahwa feedback mampu meningkatkan performa, mungkin telah terpatri di benak Anda, termasuk saya. Tapi coba saya tanya, apakah setelah di feedback Anda merasakan peningkatan performa yang signifikan? Sayangnya, penelitian dari American Psychology Association (APA) menemukan feedback justru seringkali tidak memiliki dampak terhadap performa atau bahkan dampaknya negatif. Hal ini dikarenakan feedback yang biasa kita terima, seringkali tidak cukup jelas, untuk membantu menentukan improvement seperti apa yang harus dilakukan.

Mengapa demikian? Jeff Haden, dalam artikelnya untuk majalah Inc.com menuturkan sebuah penelitian yang menunjukkan, apabila feedback itu diminta, bukan sukarela diberikan, maka nantinya feedback tersebut tidak cukup mendalam dan kurang jelas. Selain itu, manusia secara alaminya memiliki kecenderungan ingin berbuat baik. Sehingga, sangat mungkin ada tendensi tidak ingin menyakiti perasaan orang lain. Akhirnya, feedback yang diberikan pun tidak cukup menggambarkan kemampuan/hasil kita saat ini. Atau ekstrimnya bisa kita katakan, feedback hanyalah sekedar basa-basi, formalitas. 

Lalu, jika tidak meminta feedback apa yang dapat kita lakukan? Mulailah meminta FeedForward saran perbaikan atas pekerjaan yang telah Anda lakukan. Ini mungkin sangat kontradiktif dengan keyakinan pada umumnya selama ini. Namun, pendekatan ini tidak datang dengan sendirinya. Studi dari Harvard Business School melalui empat kali eksperimennya, menunjukkan masukan yang diterima responden lebih efektif, saat mendapat FeedForward dibandingkan feedback dari atasan/orang yang lebih expert.

Selain itu, para responden yang menerima FeedForward, menunjukkan 34% lebih banyak area improvement-nya dan 56% lebih banyak menemukan cara untuk melakukan improvement, dibandingkan mereka yang menerima feedback

Baca Juga  Jernihkan Tujuan

Mari kita lihat lebih dalam lagi, memang apa si sebenarnya perbedaan feedback dan FeedForward? Kita mulai dari feedback yaa. Feedback sendiri sering dikaitkan dengan hasil evaluasi terhadap performa ataupun kemampuan kita. Karena dikaitkan dengan evaluasi, sering kali pemberi feedback fokus pada penilaian performa orang lain. Karena bentuknya evaluasi, maka fokusnya pun ke masa lalu atau saat ini, bukan opportunity yang bisa dilakukan di masa depan. Sehingga, feedback kurang dapat memberikan actionable input atau tindak lanjut atas performa yang telah Anda lakukan. 

Nah sekarang FeedForward?  Apa itu FeedForward? dapat kita artikan sebagai saran atau petunjuk sifatnya lebih actionable, untuk perbaikan dan peningkatan ke depan. Kalo feedback, Anda mungkin akan memintanya dengan kalimat: Bagaimana performa/hasil kerja saya? Sedangkan FeedForward, kalimatnya begini “apa yang dapat saya tingkatkan/perbaiki untuk berikutnya? Direct, fokusnya langsung ke hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan performa.

Satu lagi, menariknya, saat Anda meminta FeedForward kepada orang lain, artinya Anda membuat orang yang bersangkutan merasa dihargai, dihormati, dan dipercaya. Sehingga, ia akan memberikan semacam petunjuk yang Anda butuhkan untuk berkembang dengan tulus. Sementara Feedback lebih terkesan penghakiman atau kritikan yang bisa melemahkan semangat para penerima feedback.

Pertanyaan selanjutnya, lalu bagaimana cara untuk meminta feedforward agar tepat sasaran dan impactful terhadap performa Anda? 

Pertama, Tentukan Orang yang tepat

Anda tidak mungkin meminta feedforward kepada setiap orang atau seluruh jajaran atasan Anda. Riset Hayley Blunden, dari Harvard Business School menunjukkan dengan meminta feedforward kepada banyak orang akan membuat Anda terlihat tidak kompeten dan mereka yang pendapatnya tidak Anda ikuti, bisa jadi akan tidak senang dan menghindari Anda.

Baca Juga  Keturunan Tidak Jelas

Lalu apa saja kriteria memilih orang yang tepat? Beberapa studi, menyarankan kita untuk meminta kepada orang yang memang dekat, atau mampu membuat kita merasa nyaman. Perhatikan juga expertise yang dimilikinya. Jangan sampai Anda bertanya kepada mereka yang bahkan tidak memiliki pengalaman terhadap topik Anda. Kalau istilah saya meminta pendapat dari satu orang ahli itu jauh lebih baik dibandingkan meminta pendapat dari seribu orang yang tidak ahli.

Perlu Anda ketahui, sebagai bentuk apresiasi terbaik kepada orang yang memberikan feedforward kepada Anda adalah Anda menjalankan apa yang mereka sarankan. Karena feedforward bukanlah wadah untuk sekedar menambah wawasan namun dorongkan agar Anda melakukan aktivitas yang lebih berkualitas. 

Kedua, Tentukan Ekspektasi Anda

Anda perlu menganalisa terlebih dahulu, sejauh mana, dan apa saja yang menjadi permasalahan Anda. Serta output seperti apa yang Anda  ekspektasikan. Apabila yang Anda minta terlalu luas itu juga membingungkan orang yang memberikan feedforward kepada Anda. Jadi, pastikan sebelum menemui ahlinya, Anda sudah menentukan hal utama apa yang Anda harapkan mendapat saran dari orang tersebut.

Nah outputnya yang Anda terima bisa berupa rekomendasi atas beberapa pilihan, panduan dalam menghadapi situasi yang kompleks, ataupun panduan untuk meningkatkan skill yang Anda miliki. Output yang Anda harapkan ini, nantinya akan menentukan kalimat seperti apa yang tepat untuk ditanyakan. Ingat yaa, tanyakan juga kesediaan yang bersangkutan untuk mau/tidak memberikan feedforward kepada Anda. Keahlian Anda mengajukan pertanyaan akan sangat menentukan kualitas saran yang diberikan oleh orang yang memberikan feedforward kepada Anda.

Ketiga, Persiapkan Data-data yang mungkin dibutuhkan

Kita tidak boleh berasumsi orang yang bersangkutan memahami keseluruhan permasalahan Anda. Oleh karena itu, Anda perlu membawa data yang mungkin dibutuhkan. Terpaling penting, dengan meminta feedforward, bukan berarti Anda membiarkan orang lain yang berpikir dan Anda tinggal menjalankannya loh yaa. Nanti Anda terlihat bloon dan akhirnya saran yang keluar dari orang yang Anda minta juga saran untuk orang bloon, tidak mau khan? Anda sudah harus melakukan analisa mendalam terhadap topik yang Anda ajukan. Sehingga diskusinya mengalir dengan enak.

Baca Juga  Waspadalah Bila Hidup Anda Mudah

Istilah yang sering digunakan, “jangan datang dengan kepala kosong” Saat Anda sudah menyiapkan diri dan nyambung saat diajak diskusi maka saran yang Anda terima adalah saran yang penuh gizi dan itu sangat membantu mempercepat pertumbuhan diri Anda.

Tetaplah menjadi pemimpin yang benar-benar memimpin dengan meminta feedforward secara berkala kepada mereka yang expert di bidang yang Anda tekuni.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
Inspirator SuksesMulia

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer