Peran Leader Dalam Remote Working

Share this

Sudah dua tahun, Pandemic Covid-19 telah mendistrupsi hidup kita. Kehidupan kita “dipaksa” berubah oleh makhluk kecil yang tidak tampak oleh kasat mata. Mobilisasi kita di publik dibatasi, penggunaan masker menjadi kebiasaan wajib dalam interaksi sosial, kesadaran terhadap higenitas yang semakin meningkat, cara kita bekerja juga dituntut berubah.

Perubahan pola kerja yang sangat umum kita kenal adalah WFH atau Work From Home. Beberapa perusahaan besar dunia seperti Facebook, Twitter, Slack, Shopify sudah memutuskan untuk menjalani pola kerja WFH secara permanen. Survey dari PWC pun menyebutkan 50% dari respondennya yang merupakan pemimpin perusahaan di Indonesia telah mempernanenkan pola kerja WFH.

Nah, pertanyaan saya, bagaimanakah pengalaman Anda setelah 2 tahun menjalani WFH? Apakah Anda merasa lebih nyaman karena tidak harus melakukan perjalanan ke kantor setiap harinya? Apakah Anda lebih leluasa bekerja dari rumah? Ataukah sebaliknya? WFH selama 2 tahun justru telah membuat Anda mengalami stres atau Digital Fatigue? Apa itu Digital Fatigue?

Digital Fatigue merupakan kelelahan secara mental yang disebabkan terlalu lama menggunakan perangkat digital, seperti laptop, handphone, desktop, ataupun tablet. Ternyata, hal ini sering menjadi penyebab buruknya kesehatan mental dan well-being karyawan. Selama pandemi, fenomena ini meningkat drastis dikarenakan intensitas screen-time yang juga meningkat.

Bagaimana tidak, setiap hari Anda harus menghadiri online meeting yang tiada henti, belum lagi jika ada jadwal yang berbarengan kita harus secara paralel menatap dua devices yang berbeda. Bahkan beberapa manager curhat ke saya, mereka harus menggunakan 4 device untuk menghadiri meeting yang berbeda. Apabila hal ini di biarkan begitu saja, bukan tidak mungkin nantinya akan mengarah stress berat yang bisa jadi berdampak pada kondisi fisik Anda.

Baca Juga  Berterima Kasihlah Kepada Istri

Sebuah studi yang dilakukan oleh O.C. Tanner di Canada menunjukkan bahwa pandemi membuat  52% orang-orang di Canada merasa kelelahan secara fisik dan emosi. Menarikanya yang membuat seperti itu, bukanlah chaos yang disebabkan oleh Covid-19 melainkan karena ketergantungan terhadap teknologi.

Disinilah peran kita sebagai seorang Leader diuji. David Pachter dalam bukunya Remote Leadership: How to Accelerate Achievement and Create a Community in a Work-from-Home World (2021) menyatakan bahwa Leaders kerap kali salah langkah dengan masih menggunakan cara yang dahulu terbukti berhasil. Padahal sudah jelas, kondisi saat ini sangat berbeda dengan sebelum pandemi. Kebutuhan dan ekspektasi dari tim yang bekerja dari rumah sangat berbeda dengan saat mereka bekerja dari kantor.

Sehingga, sikap yang tim butuhkan dari Leader-nya juga berbeda sama sekali. Apabila Anda tetap bersikap/menggunakan cara yang lama, bukan tidak mungkin Anda dan tim Anda akan mengalami Digital Fatigue yang nantinya akan berdampak pada kesehatan fisik dan mental Anda dan juga tim Anda.

Sebaliknya, apabila Anda sebagai Leaders mampu menemukan formula yang tepat untuk mengawal pola kerja remote-working maka dapat dipastikan produktivitas tim Anda akan meningkat melebihi sebelum pandemi. Seperti studi yang dilakukan oleh Standford kepada 16.000 pekerja selama 9 bulan menemukan bahwa remote-working dapat meningkatkan produktivitas sebesar 13%.

Pertanyaanya, peran seperti apa yang dapat seorang Leader lakukan untuk mengawal pola kerja remote-working ini agar efektif dan less-stressful? Setelah membaca banyak artikel ilmiah dan saya sendiri mengawal pola kerja remote-working di perusahaan saya. Akhirnya saya mensintesakan  3 Kunci yang bisa dijalankan oleh seorang Leader.

Pertama, Trust. Saat ini posisinya Anda sedang berjarak dengan tim Anda, Anda tidak tahu bagaimana mereka bekerja di rumahnya, Anda tidak mengetahui apa yang sedang dihadapi dan dikerjakannya. Maka tidak ada jalan lain selain memberikan trust kepada tim Anda. Anda tidak dapat mengharapkan tim Anda bekerja secara efisien jika tidak memberikan trust kepada mereka. Jika Anda secara berkala bertanya apa yang sedang dikerjakan oleh tim Anda, maka waktu yang mereka miliki akan banyak tersita untuk Anda.

Baca Juga  Istri itu Bidadari Dunia

Maka David Pachter dalam bukunya mengingatkan kepada Leaders untuk “manage results, not actions.”  Dengan berorientasi pada hasil akhir akan membuka ruang diskusi, memungkinkan anggota tim merasa lebih engaged, serta memungkinkan mereka mengkomunikasikan kesulitan atau kebutuhan yang mungkin mereka temui. Dibandingkan Anda rajin “checking-in” tim Anda melaui chat/telepon tentang tugas yang sama secara berulang. Hal ini akan menimbulkan situasi yang membuat stress tim Anda dan menimbulkan kesan bahwa Anda tidak trust terhadap mereka.

Kedua, Communication. Kita memahami komunikasi face-to-face memang sangat berbeda dengan telepon atau bahkan videocall. Ketidakmampuan kita memahami body language dan ekspresi wajah pada telepon/chat sangat mungkin menimbulkan kesalahpahaman dan engagement dalam berkomunikasi. Kini Anda harus menemukan cara agar komunikasi tersebut dapat tersampaikan dengan tepat dan ekspresif.

Dalam sebuah artikel di HBR, menyatakan bahwa remote-working akan lebih efisien dan menyenangkan jika Leaders berkomunikasi dengan timnya frekuensi dan durasi, tujuan, serta paltform dan waktu terbaik untuk berkoordinasi. Seperti menggunakan video conferencing untuk memeriksa pekerjaan harian, menggunakan Internal Memo untuk sesuatu yang urgent. Anda pun sebagai Leader juga diharapkan memberitahukan kepada tim Anda dengan cara apa dan kapan waktu terbaik untuk mereka dapat menghubungi Anda.

Ketiga. Building Culture. Sama halnya dengan bekerja secara offline bersama, membangun budaya dalam remote-working juga sangat penting. Mengingat kita harus bekerja secara berjarak, maka bisa jadi ada kebiasaan atau aturan baru yang perlu diterapkan. Salah satunya ialah interaksi sosial yang dirasa berkurang karena tidak dapat bertemu face-to-face.

Maka Anda sebagai seorang Leader bisa menginisiasi pertemuan rutin untuk tim dapat bersosialisasi satu sama lain tanpa harus membahas pekerjaan, seperti Virtual Office Party atau jika memungkinkan untuk bertemu dan makan bersama secara informal. Kebiasaan seperti ini memang terlihat dibuat-buat, namun sebuah studi melaporkan bahwa event macam ini sangat membantu mengurangi perasaan loneliness dan meningkatkan sense of belonging.

Saya harap, 3 kunci remote-working di atas membantu kerja Anda efektif dan less-stressful. Selamat mencoba, sampai Anda menemukan formula yang benar-benar tepat untuk tim Anda.

Baca Juga  Pesona Dewa: Jualan

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
Inspirator SuksesMulia

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer