Pendidikan Berkualitas Memutus Rantai Kemiskinan

Share this

Saya baru saja menuntaskan roadshow ke berbagai negara. Roadshow pertama pada 25 – 31 Mei disponsori Bank BCA, Sinergi Foundation dan Friendraising, saya berbagi ilmu di Uni Emirat Arab, Kuwait dan Oman. Selama di UEA, saya berbagi ilmu di 4 tempat di Dubai. Acara pamungkas diadakan di KJRI Dubai, peserta membludak di pelataran gedung KJRI.

JA-Roadshow
Keterangan foto (searah jarum jam): Berbagi ilmu di Korea. Bersama Duta Besar RI untuk Oman (sebelah kanan saya) dan sebagian peserta seminar. Berfoto dengan peserta seminar di Kuwait. Peserta meluber hingga pelataran gedung KJRI di Dubai.

Sementara selama di Kuwait, saya berbagi ilmu di KBRI dan Masjid Jami di Kuwait. Senang karena saat acara du KBRI, bapak Duta Besar RI untuk Kuwait bisa ikut dari awal hingga tuntas. Bahkan di malam hari saya dijamu makan malam di Kuwait Tower. Begitupula saat acara di Oman, bapak Duta Besar RI untuk Oman bisa ikut hingga acara rampung.

Roadshow kedua, berlangsung 5 – 7 Juni 2016 ke Korea disponsori oleh Dompet Dhuafa. Saya berbagi inspirasi di tiga tempat di negara gingseng ini. Saat roadshow di Midle East dan Korea ini, saya lebih banyak bertemu dengan para pekerja Indonesia yang berpenghasilan puluhan juta hingga ratusan juta rupiah per bulan, dari pekerja hingga profesional. Senang mendengar para profesional asal Indonesia menduduki berbagai posisi penting di negeri orang.

Apa yang membedakan mereka? Sama-sama orang Indonesia, ada yang menjadi pembantu, pekerja biasa tetapi ada juga yang menjadi profesional serta punya jabatan di negeri orang. Jawabnya singkat: Pendidikan. Ya, pendikan bisa sangat membantu meningkatkan derajat orang. Pendidikan bisa memutus rantai kemiskinan, saya termasuk di dalamnya.

Itulah mungkin yang membuat saya menangis tiada henti saat mendengar kabar bahwa banyak calon mahasiswa IPB yang diterima melalui program Bidik Misi gagal masuk lantaran tidak memiliki biaya. Ternyata anggaran pendidikan untuk program itu dikurangi. Kemisikinan bakal berlanjut di keluarga tersebut. Kartu pintar yang dulu dikampanyekan ternyata belum bisa menampung anak cerdas namun miskin untuk bisa kuliah. Mereka harus mencari cara lain untuk memutus rantai kemiskinan di keluarganya.

Baca Juga  Self Leadership: Menahan Marah

Sambil berharap pemerintah sangat serius menampung anak cerdas namun tak berpunya, upaya-upaya kecil yang dilakukan oleh banyak pihak seperti Dompet Dhuafa (DD) perlu kita dukung. Acara saya di Korea memperkenalkan salah satu program DD, Sabah Bridge Project. Program beasiswa bagi anak-anak TKI yang cerdas namun tak berpunya untuk menempuh pendidikan berkualitas. Mereka diharapkan menjadi pemutus rantai kemiskinan di keluarganya.

Saya berharap pemerintah sangat serius menggarap dunia pendidikan agar kelak tenaga kerja profesional kita lebih banyak tersebar di berbagai mancanegara. Mereka mengangkat harkat dan martabat keluarganya sekaligus mengangkat hartkat dan martabat bangsanya. “Bangsa Indonesia bangsa yang terdidik. Bangsa Indonesia adalah bangsa pemimpin dimana warganya mampu menduduki posisi-posisi penting di negara manapun.” Itulah harapa dan impian saya.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer