Pemimpin Tiga Periode

Share this

Kata “Tiga Periode” hingga sekarang masih hangat dibicarakan. Hal ini terkait wacana perpanjangan masa jabatan presiden Joko Widodo dari  2 periode menjadi 3 periode. Dari 10 tahun menjadi 15 tahun. Namanya wacana, tentu ada yang pro dan ada yang kontra.

Pada kesempatan ini, mari kita kesampingkan terlebih dahulu pro dan kontra wacana 3 periode ini. Saya bukan ahli hukum, bukan politisi dan bukan ahli konstitusi. Saya tidak akan mengomentari dari 3 aspek tersebut, tapi saya akan coba membahas dari sisi Leadership.

Merujuk kepada pendapat John Kotter dari Harvard University, Tugas utama seorang pemimpin ada 3 yaitu menepatkan arah, memotivasi atau menginspirasi dan menyelaraskan atau menguatkan sinergi. Terinspirasi dari pakar leadership ini, maka untuk menilai seseorang layak atau tidak memperpanjang masa jabatannya, setidaknya bisa dilihat dari 4 hal, yaitu: visi, inspirasi, sinergi dan tentu rekam jejaknya.

Dalam hal visi, orang-orang yang dipimpin bisa mengajukan pertanyaan kepada sang leader: seperti apa masa depan yang diperjuangkan sang leader? Apakah masa depan tersebut  baik untuk siapapun yang berada di dalamnya? Apakah masa depan tersebut mampu menjawab perubahan yang terjadi begitu cepat dan susah diduga?

Saya menjadi teringat ketika Jack Welch memimpin General Electric, Ia menyampaikan masa depan GE dengan kalimat pendek “Number one or number two.” Apa pesan yang disampaikan Jack Welch kepada timnya? Ia menyampaikan, semua produk atau layanan yang menggunakan nama GE wajib menjadi nomor satu terbaik di dunia atau setidaknya nomor dua di dunia. Yang tidak bisa menjadi nomor satu atau nomor dua di level dunia, produk, layanan atau perusahaan tersebut akan dijual kepada pihak lain atau perusahaan tersebut ditutup   

Baca Juga  Proposal Hidup (2)

Pemimpin yang berkualitas dan layak melanjutkan kepemimpinanya adalah pemimpin yang menginspirasi dan memotivasi. Inspirasi dan motivasinya dalam rangka menyemangati sekaligus melindungi orang-orang yang dipimpinnya. Orang-orang yang dipimpinnya terinspirasi dan termotivasi dari ucapan dan tindakan sang pemimpin serta merasa ayem dan tentrem (tenang dan damai).

Ada inspirasi berharga diperlihatkan oleh Bob Chapman, seorang CEO dan pemilik dari perusahaan manufaktur, Barry-Wehmiller Companies, Inc. Saat resesi ekonomi Amerika Serikat terjadi di 2008, dimana banyak perusahaan bisa kehilangan 30% pendapatan mereka dalam semalam. Angka yang fantastis bagi sebuah perusahaan manufaktur yang memiliki ribuan karyawan di pabrik-pabrik mereka. Sebuah “meeting darurat” diselenggarakan untuk mendiskusikan Langkah perusahaan menghadapi masa resesi di masa itu. Para petinggi perusahaan, top management, termasuk pula Bob Chapman duduk Bersama dalam meeting tersebut.

Seperti yang kita semua tahu, ketika sebuah perusahaan goyah, entah dikarenakan faktor eksternal ataupun internal, apa kira-kira langkah yang akan diambil? Umumnya petinggi perusahaan akan mengambil Langkah efisiensi, dengan merumahkan sebagian karyawannya. Itu pula yang awalnya terlintas di benak petinggi Barry-Wehmiller Companies, Inc. yang mengusulkan pemecatan pegawai untuk melakukan penghematan sebesar 10 juta USD.

Namun Bob Chapman, sebagai seorang Leader, mengeluarkan ide yang sangat “out of the box”. Dibanding merumahkan pegawainya, beliau mewajibkan untuk semua karyawan, dari level CEO hingga staf untuk mengambil “cuti tidak berbayar” (unpaid leave) selama 4 minggu, dan cuti ini boleh diambil kapan saja sepanjang tahun, tanpa harus 4 minggu berturut sekaligus.

Tidak hanya inisiatifnya yang luar biasa, tapi juga cara beliau mengumumkan hal ini kepada seluruh karyawannya. “Saya rasa, lebih baik kita semua merasakan sedikit penderitaan dibandingkan sebagian kecil dari kita merasakan penderitaan yang mendalam”. 

Baca Juga  Bagaimana Bila Tak Diterima?

Dampaknya? Moral karyawan meningkat pesat dan perusahaan berhasil menghemat 20 juta USD. Lebih dari itu, terbangun rasa saling percaya dan sifat kooperatif antar karyawan. Sebagian karyawan saling bertukar dalam pengambilan “cuti tidak berbayar” tersebut. Karyawan yang kondisinya lebih mampu menawarkan untuk mengambil cuti lebih banyak dan berkorban untuk karyawan yang lebih membutuhkan. Sehingga di banyak kasus ada karyawan yang mengambil cuti 5 minggu, sehingga rekannya hanya perlu cuti 3 minggu.

Perusahaan Barry-Wehmiller Companies, Inc. dapat terus berkembang dan berinovasi, dari sebuah perusahaan local dengan valuasi 20 juta USD di tahun 1975, hingga saat ini bernilai lebih dari 3 miliar USD, dan Bob Chapman tetap menduduki jabatan CEO meskipun telah berusia 76 tahun!

Seorang leader yang keberadaannya perlu dipertahankan, tentu juga seorang sosok yang bisa menyelaraskan berbagai perbedaan yang ada. Ia tidak berpihak kepada satu golongan dan melemahkan golongan yang lain. Perbedaan yang ada justeru bisa digunakan untuk saling melengkapi dan saling menguatkan. Bukankah taman yang indah itu karena banyak aneka warna bunga yang berbeda?

Dalam bukunya, The Five Dysfunction of Team, Patrick Lencioni mengatakan bahwa perbedaan bisa membuat kita bertumbuh jauh lebih cepat, selama perbedaan yang ada ditangani secara konstruktif dan win win solution.

Bagi leader yang incumbent (yang sedang berkuasa) tentu rekam jejaknya bisa menjadi pertimbangan apakah ia layak melanjutkan atau cukup sampai masa jabatannya berakhir. Maka, mari kita ajukan beberapa pertanyaan untuk leader  tersebut. Hal-hal positif apakah yang sudah dihasilkan dan dikerjakan? Apakah selama kepemimpinannya, “nilai” perusahaannya meningkat? Apakah perusahaannya makin membesar? Harga sahamnya melonjak, kepercayaan investor meningkat dan tentu yang lebih penting adalah pertanyaan apakah kesejahteraan, kebahagian dan kekompakan anggota tim meningkat? Apakah perusahaan memiliki kemampuan untuk terus tumbuh dan berkembang?

Baca Juga  Motivasi 3.0 Plus

Itulah empat kriteria yang sering saya gunakan untuk menilai apakah seorang leader mampu menduduki jabatannya untuk periode berikutnya. Tentu, apa yang saya bahas di atas cocok untuk kontek bisnis dan perusahaan. Boleh jadi tidak tepat untuk kepemimpinan bangsa sebesar Indonesia. Pasti banyak faktor lain yang mungkin perlu dimasukkan untuk menilainya.

Namun, apa yang saya tawarkan bisa menjadi alternatif sebagai bahan diskusi untuk menilai kepemimpinan pak Jokowi. Apa visi beliau tentang Indonesia masa depan? Tindakan-tindakan apa saja yang selama ini menginspirasi dan memotivasi masyarakat? Bagaimana ia menyatukan berbagai elemen bangsa di negeri ini? Bagaimana rekam jejak beliau dalam memajukan bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertanahan keamanan?

Silakan Anda menjawab sendiri pertanyaan – pertanyaan tersebut di atas dengan pikiran dan hati yang jernih. Terima Kasih, semoga kita semua terus bisa menjadi pemimpin yang benar-benar memimpin, bukan hanya sekedar pimpinan.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
Inspirator SuksesMulia

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer