Monday Knowledge: Virus Corona dan Kepemimpinan

Share this
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kubik Leadership / Lead for Impact

Beberapa waktu belakangan ini dunia tengah dibuat waspada dengan hadirnya sebuah virus baru yang berasal dari China, tepatnya di kota Wuhan. Dilansir dari kompas.com, hingga kemarin (2/2/2020), update jumlah korban virus corona telah mencapai 305 pasien meninggal dan 14.568 kasus infeksi di seluruh dunia, terutama di China. Lalu dilansir dari South Morning China Post, satu korban meninggal berasal dari Filipina, dan ini menjadi kasus pertama yang terjadi di luar daratan utama China.

Satu hari sebelumnya, tepatnya tanggal 1 Februari 2020, melansir berita yang ditulis di TEMPO.CO, dituliskan bahwa telah terjadi hari paling mematikan di Cina oleh wabah virus corona. Dan hal tersebut terjadi justru setelah pengumuman status darurat internasional oleh WHO. Pada hari pengumuman itu, Kamis 30 Januari 2020, sebanyak 40 pasien meninggal. Keesokan harinya, Jumat 31 Januari, lebih banyak lagi kasus fatal akibat infeksi virus yang sama yakni 46.

Ya, virus ini menjadi demikian menggemparkan karena faktanya hingga hari ini vaksin untuk virus tersebut masih belum ditemukan. Hal inilah yang membuat tidak sedikit negara yang mengeluarkan travel warning menuju Provinsi Hubei, termasuk ibu kotanya, Wuhan. Termasuk Indonesia yang secara resmi mengeluarkan travel warning pada tanggal 28 Januari 2020 lalu.

Lantas apa hubungan antara virus corona dan kepemimpinan? Bukankah virus corona adalah urusan kesehatan dan nyawa manusia?

Jika kita cermati lebih dalam, virus corona yang datang mendadak dan memiliki ‘daya serang’ yang cepat bahkan mematikan manusia, adalah ibarat hal-hal yang datang dan mendisrupsi tim dan organisasi yang kita pimpin. Apa pun itu. Baik berwujud munculnya kompetitor baru dari arah yang tak terduga, terjadinya perubahan demand dari customer yang tidak terprediksi, munculnya aturan dan kebijakan baru, dan lain sebagainya.

Baca Juga  Seminar dan Pelatihan di PT Bank Negara Indonesia (BNI)

Kesamaan lainnya adalah, terbukti bahwa tak sedikit tim dan organisasi yang kemudian mengalami ‘sakit’ dan pada akhirnya mati berguguran ketika ‘virus-virus’ tadi semakin masuk dan menyebarkan daya rusak kepada tim dan organisasi yang kita pimpin.

Lho kalau begitu, jika tim dan organisasi yang saya pimpin akhirnya ‘sakit’ dan bahkan mati, itu adalah takdir dong? Ibaratnya seperti orang yang terkena virus corona yang toh pasiennya tidak bisa berbuat apa-apa. Hmm… apakah demikian?

Tim medis memberikan kode kepada salah satu pasien virus corona. Dokter di Wuhan mengisahkan bagaimana suka duka mereka dalam merawat pasien yang positif terkena virus.(Xinhua via SCMP)
https://www.kompas.com/tren/read/2020/02/02/145652165/update-wabah-virus-corona-305-orang-meninggal-14568-terinfeksi.

Ya, adalah benar bahwa terkena dan tidak terkena virus corona adalah sesuatu yang berada di luar kontrol diri kita. Karena nyatanya, tidak semua orang di kota Wuhan terkena virus corona. Dan malah ada orang yang berada di luar kota Wuhan, yang justru terkena virus tersebut.

Fakta lain yang ternyata juga terjadi adalah, bahwa meski virus ini masih belum ditemukan obatnya, namun ada sejumlah orang yang bisa sembuh dari penyakit yang muncul akibat virus corona. Loh kok bisa?

Dilansir dari kompas.com (02/02/2020), Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono, mengatakan bahwa sampai sekarang belum ada obat untuk virus corona. Ia memperkirakan, pasien-pasien tersebut sembuh karena self limiting disease atau sembuh dengan sendirinya.

Keterangan lain disampaikan juga oleh dokter spesialis paru Erlina Burhan dalam laman tempo.co. Ia menyebutkan bahwa terdapat tiga faktor yang bisa berpengaruh pada kesembuhan pasien.

Pertama, faktor seberapa banyak jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh seseorang. Apakah jumlahnya masuk dalam kategori rendah, sedang, atau parah.

Baca Juga  Fokus itu 80:20

Kedua, faktor imunitas tubuh. Faktor imunitas tubuh yang tinggi bisa cepat menyembuhkan diri dari berbagai masalah kesehatan, termasuk virus corona. Dokter Erlina menjelaskan bahwa sistem imun bekerja untuk mematikan virus. “Kalau imunitasnya rendah, pasti akan susah sembuh karena ibaratnya tidak ada pertahanan yang membentengi tubuh dari penyakit. Kalau imunitas baik, virusnya dilawan dan bisa sembuh,” ungkapnya.

Terakhir, riwayat kesehatan pasien juga sangat berpengaruh. Menurut dokter Erlina, seseorang yang tidak memiliki berbagai riwayat penyakit bawaan akan lebih mungkin sembuh. “Berdasarkan kasus-kasus yang sudah ada, mereka yang meninggal kan karena sudah ada kanker atau hipertensi dan penyakit bawaan lain, itu memang memperburuk kondisi. Jadi selama tidak ada riwayat, kemungkinan sembuh tinggi,” tuturnya.

Nah, sekarang mari kita kembali pada tim dan organisasi yang kita pimpin. Kita gunakan tiga faktor yang disampaikan oleh dokter Erlina untuk menelaah seberapa besar potensi tim dan oranisasi kita bisa sembuh (baca:survive) dari serangan ‘virus-virus’ yang hadirnya tidak bisa kita duga dan tidak bisa kita kendalikan.

Pertama, seberapa besar ‘virus’ yang datang telah masuk dan memberikan dampak kepada tim dan organsasi kita? Pertanyaan lanjutannya adalah, apakah kita memiliki kadar awareness yang tinggi sehingga kita mampu mendeteksinya sedini mungkin, atau kita justru memilih untuk menutup mata dan telinga atas ‘ancaman’ yang telah hadir?

Kedua, seberapa kuat imunitas diri (baca: tim dan organisasi) yang kita pimpin? Seberapa orang-orang di dalam organisasi kita siap menghadapi perubahan, dan bersedia melakukan hal-hal yang bahkan baru atau berbeda sama sekali dengan apa yang saat ini dilakukan? Dan seberapa kita memiliki mentalitas yang lebih kuat ketimbang kuatnya gempuran ‘virus’ yang datang?

Baca Juga  Bermartabat

Ketiga, seberapa kita saat ini memiliki ‘penyakit bawaan’ sebelumnya. Apa misalnya? Bisa jadi berupa sikap kerja yang buruk yang kita terus ‘pelihara’ di dalam tim dan organisasi kita, pola komunikasi dan kerjasama antar tim yang selalu bermasalah tiada berkesudahan, dan lain-lain.

Nah, seperti apa pun jawabannya di tiga faktor di atas, saran saya segeralah Anda sebagai pemimpin untuk mengambil keputusan bertindak ke arah ‘kesembuhan’. And do it now! Karena jika kematian seorang manusia saja dapat menghadirkan lubang yang besar bagi banyak orang di sekitanya, maka seberapa besar kiranya yang akan hadir ketika yang mati adalah tim dan organisasi yang Anda pimpin?

Doa terbaik saya untuk pertumbuhan dan kemajuan kita semua, salam bertumbuh, salam SuksesMulia!

Keep Sharing & Inspire Your Lovable Friends

Penulis: Tim Kubik Leadership


Share this
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer