Leaders, Mari Bersiap Memasuki Era Metaverse

Share this

Pada Oktober tahun lalu, Facebook resmi berganti nama menjadi Meta sebagai tekad memasuki bisnis baru teknologi digital yang berbasis virtual and augmented reality (VR/AR) atau sering disebut metaverse. Metaverse pada hakikatnya adalah jagat raya baru yang dibangun di dunia virtual. Kata awalan meta diambil dari bahasa Yunani yang berarti “lebih dari” atau “melampaui” sepadan dengan kata beyond dalam bahasa Inggris. Dalam jagat raya baru ini, kita bisa bertemu secara virtual dengan pengguna lain yang sedang daring dalam dunia digital 3D (tiga dimensi). Diri kita akan “diwakili” avatar 3D, demikian juga pengguna lainnya. (Yandra Arkeman (2022), IPB University)

Secara fisik kita bisa tiduran di rumah menggunakan celana pendek dan baju tidur, namun kita bisa menghadiri suatu pertemuaan dengan menggunakan avatar yang menggunakan jas lengkap, berkacamata dan sepatu bermerek. Inilah yang membedakan metaverse dengan internet dua dimensi saat ini.

Perbincangan metaverse semakin viral, setelah Founder CIAS yang juga sahabat saya yang sama-sama menjadi founder Kubik Leadership, Indrawan Nugroho menyampaikan di chanel youtubenya tentang metaverse ini. Ternyata, meski metaverse adalah dunia virtual, kelak banyak peluang bisnis baru di dunia virtual ini.  Orang-orang dapat berinteraksi seperti di dunia nyata, bisa memiliki tanah (space) kemudian menjualnya, kita bisa punya bisnis di sana, menyewakan lapak,  memasang iklan di billboard, menjual dan membeli produk atau jasa yang tersedia, berinvestasi, melakukan simulasi 3D, dan kegiatan lain di dunia virtual tersebut.

Memang saat ini, metaverse yang digagas pendiri Facebook ini, belum begitu nyata bentuknya. Namun, raksasa teknologi digital seperti Meta, Google, Microsoft dan lainnya saat ini sedang berpacu menyiapkan diri untuk merajai bisnis metaverse yang kemudian akan menjualnya ke negara ketiga dan kita semua berada di dalamnya. Sebagai seorang leader yang selalu berpikir masa depan, tentu kita perlu menyiapkan diri kita, bisnis kita dan tim kita untuk siap berkompetisi di dunia nyata maupun di metaverse sehingga kita bisa menjadi pemenang di dua dunia, yaitu dunia nyata maupun dunia virtual atau metaverse.

Baca Juga  Bugar dengan Energi Ekstra

Lantas, apa yang perlu disiapkan? Menurut saya adalah yang paling utama adalah SDM. Sebab, secanggih-canggihnya teknologi, tetap membutuhkan pengoperasian dan sentuhan manusia dengan serangkaian keterampilan yang perlu terus dikembangkan menyesuaikan perkembangan yang terjadi. Sebagai seorang pemimpin, karakter seperti apa yang perlu kita siapkan agar kita mampu memimpin perubahan, membawa SDM yang kita pimpin mampu menjadi pemain utama dalam dua dunia, yaitu dunia nyata dan metaverse? Berdasarkan renungan dan kajian saya, setidaknya ada tiga karakter yang perlu melekat dalam diri kita.

Pertama, Resilien. Tahu apa itu resilien? Menurut pendapat banyak ahli, bila diringkas resilien itu artinya “memiliki kemampuan untuk bangkit kembali dari berbagai tekanan dan perubahan.” Ibarat bola basket, saat jatuh ke lantai ia akan memantul ke atas. Semakin keras lemparan bola kita ke lantai, semakin tinggi ia memantul. Seorang yang memiliki karakter resilien, ia akan muncul atau berkembang lebih tinggi justeru saat mendapat tekanan yang tinggi atau adanya perubahan yang sangat besar.

Dunia yang baru tentu banyak hal baru, kita pun perlu juga mencoba banyak hal yang baru. Dan tentu peluang gagalnya pun cukup besar. Seorang yang resilien tidak akan terpengaruh dengan kegagalan, ia menganggap itu hal yang wajar dan biasa. Kegagalan yang terjadi akan dijadikan modal untuk memperbaiki dan menyempurnakan langkah selanjutnya.

Selain itu, seorang yang resilien juga terlatih memberikan respon positif saat bertemu dengan hal-hal yang tidak diharapkan. Ia juga sangat flexible dan mudah beradaptasi dengan perkembangan yang terjadi. Pivot, atau beralih kepada sesuatu yang sama sekali baru adalah hal yang biasa.

So, orang yang gampang baper, takut kepada gagalan, kaku atau enggan berubah dan tidak mampu mengelola respon dengan baik, bersiaplah terkubur di dunia metaverse. Latihlah otot Resilien Anda dari sekarang. Mau? Caranya sederhana, jangan takut gagal dan saat Anda gagal anggaplah itu bagian dari proses kehidupan yang Anda jalani, menikmati perubahan atau berdamai dengan perubahan yang terjadi, membiasakan respon yang positif dan menjadi orang yang flexible dimanapun dan kapanpun.

Baca Juga  Generasi Multitasking

Kedua, Kolaboratif. Metaverse adalah era partisipatoris, perlu peran banyak pihak untuk bisa berinovasi dan meraih kesuksesan. Anda dan saya, tidak bisa berdiri sendiri perlu berkolaborasi dengan banyak pihak agar mampu tetap berada dunia virtual tersebut. Kita perlu memiliki mental abundance (berkelimpahan) untuk senang berbagi keahlian, berbagi ide dan gagasan, berbagi pengalaman, membantu banyak orang agar kita bisa membangun kolaborasi yang saling menguntungkan. Metaverse adalah dunia to give yang lebih dominan dibandingkan to get. Orang-orang yang enggan berkolaborasi akan terlempar dari metaverse. Mari melatih otot Kolaboratif kita dari sekarang. Siapa saja orang yang akan Anda bantu? Siapa saja orang yang akan Anda support? Siapa saja orang yang mau Anda ajak kerjasama?

Ketiga, Komunikatif. Di ruang virtual tersebut, kita perlu memiliki kemampuan berkomunikasi yang optimal. Dunia metaverse adalah dunia tanpa batas, kita bisa berkomunikasi dengan ragam orang dengan asal-usul dan latar belakang yang sangat berbeda. Kita perlu lebih empatik, memahami keanekaragaman perbedaan, terbiasa berbeda pendapat namun tetap saling menghormati satu dengan yang lainnya. Kemampuan ini pun perlu disiapkan dari sekarang.

Dua kemampuan utama komunikasi yang perlu dilatih dari sekarang adalah kemampuan mendengar dan kemampuan mengajukan pertanyaan. Stephen Covey mengingatkan “pengaruh kita akan semakin kuat apabila kita memiliki kemampuan untuk mendengar” Setelah mendengar maka kita perlu memiliki kemampuan mengajukan pertanyaan. Dan menariknya, 80 persen pertanyaan yang kita ajukan, seyognya bersumber dari proses mendengar. So, menjadi pendengar yang baik dan kemampuan mengajukan pertanyaan yang memberdayakan sangat diperlukan di ranah pergaulan metaverse. Latihlah otot mendengar dan bertanya mulai hari ini.

Dunia terus berubah, bila kita tidak ikut berubah maka kita akan punah. Mulailah melatih otot resilien, otot kolaboratif dan otot komunikatif kita untuk menyongsong dua dunia, dunia nyata dan metaverse. Siap?

Baca Juga  Anakku, Allah Selalu Bersamamu

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
Inspirator SuksesMulia

1 comments On Leaders, Mari Bersiap Memasuki Era Metaverse

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer