Kun Rabaniyyan Walaa Takun Ramadhaniyyan

Share this

Oleh: Budi Handrianto

Siapa saja yang pernah belajar ilmu manajemen atau pernah bekerja di perusahaan yang well-managed, niscaya paham istilah POAC (Planning, Organizing, actuiting, Controlling). Di perusahaan lebih dikenal singkatan PDCA (Plan, Do, Check, Action) atau Siklus PDCA. Mengapa disebut siklus? Karena ia berputar. Dimulai dari awal tahun kita melakukan perencanaan (plan) lalu kita kerjakan rencana kita (Do), kemudian ada mekanisme review untuk melakukan check and recheck terhadap pekerjaan kita dan hasil evakuasi tadi menjadi perbaikan bagi pekerjaan berikutnya (Action). Lalu tahun berikutnya kembali merencanaan, tentu dengan target yang lebih tinggi.

Perputaran roda P-D-C-A tidak berputar menggelinding atau mendatar, tapi naik ke atas. Kami sering membuat ilustrasi roda PDCA naik anak tangga satu tingkat demi satu tingkat. Ketika kita sudah meningkatkan kualitas pekerjaan, roda tersebit naik ke anak tangga berikutnya dan kita “ganjal” agar tidak jatuh atau menggelinding ke belakang. Pada prakteknnya, pekerjaan mengganjal itu adalah membuat standar pekerjaan yang biasanya dituangkan dalam SOP. Tahun depannya kita naikkan lagi kualitasnya ke anak tangga berikutnya dan kita ganjal lagi dengan SOP dan seterusnya.

Bulan Ramadhan ini adalah momen untuk kita menetapkan standar yang tinggi bagi kualitas hidup kita terutama aspek ibadah. Di bulan Ramadhan setiap hari kita puasa, shalat malam, tilawah quran, sedekah, umrah dan sebagainya, semua itu adalah standar ibadah untuk setahun ke depan. Artinya, setelah Ramadhan berakhir bukan balik lagi ke kondisi sebelum Ramadhan, tapi minimal sama atau kalapun turun tidak banyak. Berarti ibadah-ibadah di bulan Ramadhan itu harus diteruskan, bukan hanya di bulan Ramadhan saja.

Baca Juga  Khas atau Unik Itu Penting

Maka, para ulama mengatakan “Kun rabbaniyan, walaa takun ramadhaniyyan. Jadilah engkau hamba Allah, bukan hamba Ramadhan.” Hamba Allah beribadah konsisten sepanjang tahun, hamba Ramadhan hanya beribadah ketika bulan Ramadhan saja.

Jika SOP mengganjang kebiasaan baik di perusahaan agar tidak balik lagi ke kebiasaan lama yang kurang baik, maka pembiasaan kita dalam beribadah setelah Ramadhan merupakan “ganjal” agar kita tetap menjadi hamba Allah, bukan hamba Ramadhan.

Apalagi, effort kita di bulan Ramadhan ini tidak ringan. Kita capek-capek berpuasa menahan lapar dan hawa nafsu, shalat malam meskipun badan sudah lelah seharian berpuasa dan kerja di kantor, mata yang sudah mengantuk tetap kita paksakan baca quran demi meraih kemuliaan, uang yang kita kumpulkan setahun kita ikhlaskan untuk bersedekah dsb. Masak perjuangan seberat itu dibiarkan luntur lagi?

Firman Allah dalam al-Quran. “Walaa takunuu kallati naqadhat ghazlaha min ba’di quwwatin ankatsa. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS an-Nahl: 92) Kita sudah membangun ketaatan kepada Allah, membangun kemampuan mengendalikan diri (al-imsak), pandai mengatur waktu, merasakan kebersamaan dalam kelaparan dan kebahagiaan, produktif dalam ibadan dan sebagainya, sayang kalau kemudian kita tinggalkan setelah bulan Ramadhan, seperti perempuan yang sudah memintal benang lalu diurai lagi. Ramadhan tahun depan memintal, lalu diurai lagi. Begitu seterusnya. Tidak ada progress, tidak ada improvement, tidak ada kaizen. Naudzu billah min dzalik.

Padahal Ramadhan sering disebut sebagai kawah candradimuka tempat menggembleng kaum muslimin menjadi “sakti”. Bagi yang suka cerita wayang pasti paham dengan kawah candradimuka. Ini adalah satu kawah gunung di kahyangan tempat tinggal para dewa. Ketika bayi Gatotkaca (putra Werkudara/Bima dengan Dewi Arimbi) lahir (nama sebelum menjadi Gatotkaca adalah Tetuko, dulu pesawat terbang produksi IPTN pertama dinamai Tetuko) dimasukkan ke dalam kawah candradimuka yang panas membara, ia mengalami proses pendewaasaan dan bertambahnya kekuatan. Akhirnya keluarlah ia dari kawah tsb sebagai seorang pria gagah perkasa dan sakti mandraguna. Dialah sang Gatotkaca yang terkenal kesaktiannya.

Baca Juga  Sudah Sembuhkah Penyakit Hatiku?

Tentu Gatotkaca setelah itu menjadi sakti seterus. Bukan setelah keluar dari kawah balik lagi menjadi bayi yang lemah. Bahkan dia makin sakti sampai akhirnya terbunuh dalam membela kebenaran. Demikian pula, orang Islam yang puasa, tentu setelah melewati bulan Ramadhan tambah shalih, rajin dan giat beribadah serta tidak kembali ke kondisi semula, apalagi lebih buruk dari sebelum Ramadhan

Kalau kita sudah bekerja bertahun-tahun di sebuah perusahaan lalu ada karyawan junior yang baru gabung bertanya tentang sejarah kondisi awal perusahaan kira-kira 10-20 tahun lalu, kita akan menjawab bahwa dulu perusaahaan ini kacau. Nggak ada standar kerja, nggak ada SOP dan orang kerja serampangan nggak ada target. Sekarang perusahaan kita sudah jauh lebih baik dan tertata rapi. Dulu sering merugi dan sekarang alhamdulillah sudah untung (profit) dan berkembang (growth).

Mestinya kita pun demikian. Menengok diri kita ke belakang 10-20 thn lalu, seharusnya sekarang jauh lebih baik secara spiritual.

Tulisan ini hanya untuk mengingatkan diri saya sendiri di akhir-akhir Ramadhan. Kadang saya tidak seperti yang digambarkan tulisan di atas. Tapi saya sungguh sangat ingin memperbaiki diri sehingga dengan ditulis saya akan memaksa diri sendiri dan merasa punya beban moral apabila tidak melakukannya. Dan ingat firman Allah, “Kabura maqtan indallahi an taquluu maalaa taf’alun. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS As-Shaff:3)

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer