Kematian: Sebuah Perjalanan

Share this
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : M. Kholid  Ismail

“…
Pesan Nabi tentang mati
Janganlah minta mati datang padamu
Dan janganlah kau berbuat
Menyebabkan mati

Pesan Nabi tentang mati
Jangan takut mati karena pasti terjadi
Setiap insan pasti mati
Hanya soal waktu
… ”

Penggalan bait dari lirik lagu Bimbo diatas sangat terasa dan pas dengan keadaan beberapa waktu terakhir ini. Lagu yang dirilis 24 Maret 1999 oleh PT. Musica Studios ini sungguh memberi kesan dan pelajaran yang mendalam dan berharga bagi kita. Sudah 22 tahun usia lagu ini, namun nilai-nilai yang terkandung dalam bait-baitnya rasa-rasanya akan berlaku untuk selamanya.

Apalagi jika melihat situasi beberapa waktu  belakangan ini, kabar atau berita duka cita begitu banyak beredar di beberapa medsos yang saya ikuti, di beberapa grup whatshapp, ada di beranda FB dan juga di instagram. Bahkan suara “toa” masjid disekitar tempat tinggal saya pun terasa lebih sering terdengar pengumuman “innalillah” – bahasa masyarakat sekitar tempat tinggal saya, jika menyebut kabar duka (kematian).

Kematian bagi kita sebagai manusia dan sudah tentu juga berlaku untuk makhluk hidup lainnya adalah merupakan suatu kepastian. Bahwa semua yang bernyawa pasti akan mati, yakni ditandai dengan lepasnya nyawa (ruh) dari badan. Apalagi bagi seorang muslim, kematian adalah pintu masuk (awal) bagi kehidupan/alam baru yakni alam akhirat, dimana semua yang ada di dalam nya akan abadi (kekal) selamanya. Dan inilah sesungguhnya yang menjadi terminal/tujuan akhir kehidupan kita sebagai manusia.

Tiga tahun terakhir ini frekuensi ‘mudik’ saya ke Bangkalan Madura menjadi lebih sering dibanding dibanding sebelumnya. Kalau sebelumnya saya pulang satu atau dua kali dalam setahun, akan tetapi dalam tiga tahun terakhir ini bisa lebih dari tiga kali. Apalagi dengan adanya jalan tol, maka jarak Boyolali Bangkalan terasa sangat dekat dapat ditempuh dengan waktu 4-5 jam. Jika melewati jalan non tol harus ditempuh dalam waktu 7-8 jam.

Baca Juga  Hidup yang Tersandera

Perjalanan menjadi lebih singkat, namun demikian ditengah-tengah perjalanan hampir dipastikan saya akan mampir atau berhenti sejenak di rest area. Biasanya untuk istirahat sejenak dengan tujuan antara lain mendinginkan mesin mobil, ke toilet dan sekaligus mengisi bahan bakar mobil. Saya perhatikan keadaan di rest area, dengan bermacam-macam orang yang mampir, dapat dipastikan beranekaragam pula kegiatan yang dilakukan. Ada yang terlihat sedih yang bisa terjadi selama perjalanan mengalami mual-mual (mabuk), atau karena ada masalah dengan mobilnya sehingga terpaksa berhenti di rest area untuk memperbaikinya. Ada juga yang senang dan bahagia karena sudah lama menahan diri untuk ke toilet, atau seneng banget karena akan bisa ‘mengisi perut’ dengan menimati makanan dan minuman yang ada di rest area tersebut.

Seperti itulah gambaran kehidupan yang kita jalani di dunia ini. Akhir perjalanan yang menggambarkan kehidupan akhirat adalah kota tujuan perjalanan kita. Semetara kehidupan dunia ini adalah tempat transit atau pemberhentian sementara, seperti hal nya rest area tersebut. Selama di rest area ada yang merasa sedih dan ada pula yang merasa bahagia. Selama hidup di dunia pasti ada yang mendapat musibah, pun tidak sedikit yang memperoleh nikmat dari Allah SWT. Namun yang perlu diingat bahwa keduanya bisa jadi adalah ujian dari Allah SWT.

Kata orang Jawa : neng dunya iki, mung mampir ngombe

(Kehidupan dunia ini, hanya mampir untuk minum saja)

Bagi seorang muslim, seyogyanya kehidupan setelah kematian itulah yang perlu mendapat perhatian serius. Apa dan bagaimana amal perbuatan kita yang akan diperlihatkan dan dipertanggungjawabkan dihadapan Yang Maha Pencipta. Dan itu semua hanya bisa dilakukan ketika kita berada di kehidupan dunia ini.

Baca Juga  Bagaimana Membuat Kesan WOW! di 5 Menit Pertama di Depan Audience

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al Anbiya : 35).

Menyiapkan bekal (amal perbuataan) yang baik dan berkualitas adalah menjadi keharusan bagi kita sebagai muslimin sekaligus mukminin. Dan kehidupan di dunia ini menjadi ‘opportunity’ bagi kita untuk bisa mengumpulkan dan menabung sebanyak-banyaknya amal sholeh. Dengan demikian maka jangan sampai kita semua bertindak dan menyebabkan bahkan mempercepat datangnya kamatian. Apalagi ditengah-tengah suasana pandemi covid ini, ikhtiar yang lebih harus menjadi ‘effort’ kita bersama, salah satunya adalah dengan menerapkan prokes yang baik. Wallahua’lam….  

Pengging, 15 Juli 2021

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer