Hakikat Tentang Sebuah Hikmah…

Share this
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Oleh : Refrinal

Sekitar 20 tahun yang lalu, belum berapa lama lulus dari IPB dan diterima bekerja di sebuah perusahaan asing, saya kemudian mengontrak rumah berlantai dua di Kawasan Pamikul, Indraprasta, Bantarjati, Kota Bogor. Tujuan utama adalah mengajak Mama dan saudara perempuan saya yang kala itu belum menikah tinggal bersama saya, menunaikan janji untuk merawat dan membahagiakan Mama di usia senja.

Pada suatu malam yang selalu saya ingat hingga kini, kala itu saya membuat semacam business research plan untuk salah satu produk di perusahaan, yang harus dipresentasikan di depan rapat direksi besoknya, dan itu adalah malam kesekian saya mempelajari dan memeriksa kembali business plan itu karena saya baru diberi tahu dan diminta langsung memaparkan pada rapat direksi, karena atasan saya sedang berada di luar negeri untuk urusan dinas.

Sebagai alumni IPB tidur larut malam bahkan tak tidur sekali pun adalah hal yang biasa, dan malam itu saya berkali-kali mempelajari materi agar ketika pemaparan berlangsung saya dalam keadaan paham. Saya masih ingat materinya adalah “Brand Mapping & Brand Competitive Mapping” namun tulisan ini tidak ditujukan membahas business research plan tersebut, melainkan peristiwa yang terjadi malam itu.

Malam itu mendadak saya merasa sangat lapar, dan memutuskan turun untuk makan dan memang kalau makan saya suka makan di teras lantai 1, sambil menikmati sejuknya angin malam.

Ketika saya sedang makan, tiba-tiba suasana terdengar sangat riuh, dan saya seperti melihat ada seseorang bersembunyi di belakang mobil saya. Saya dapat melihat anak yang bersembunyi itu adalah anak lelaki berumur sekitar 15 tahun, dalam keadaan ketakutan dan gemetaran. Dan entah mengapa saya kemudian menyuruhnya masuk ke rumah saya, bahkan saya minta dia ke kamar saya.

Baca Juga  Success Trap dalam Film 212 The Power of Love

Kemudian saya turun menemui orang-orang yang ternyata mencari seseorang pencuri yang berhasil mengambil handphone dari sebuah rumah yang jaraknya hanya 8 rumah dari rumah saya.

Entah mengapa saya kemudian memilih meyakinkan orang-orang tersebut bahwa saya tidak melihat orang yang dimaksud, dan Alhamdulillah mereka percaya dan mengalihkan pencarian ke tempat lain.

Anak itu bernama Fulan Bin Fulan (bukan nama sebenanrnya), dikamar saya dalam keadaan ketakutan, pucat pasi bahkan menangis, dia memegang handphone yang dia curi. Saya kemudian membangunkan mama dan entah mengapa Mama kemudian menyuruh anak itu mandi dan kemudian mama menghidangkan makanan untuknya, dan meyakinkan dia bahwa dia dalam keadaan aman dan tak perlu khawatir.

Beberapa baju dan celana saya ternyata pas di badannya, dan dapat saya lihat dari raut wajahnya bahwa dia anak yang baik, lumayan bersih, berkulit terang, terpelajar dan tak cocok jadi pencuri.

Mama dengan lembut kemudian bertanya mengapa dia mencuri? dan kemudian dengan bibir bergetar anak lelaki itu bercerita tentang Ibunya yang sakit parah, sudah beberapa hari tak bisa bangun, sementara tiga adiknya sudah beberapa hari tak makan. Ketika saya bertanya dimana ayahnya, dia menjawab ayahnya telah meninggal sejak dia berumur 11 tahun. Dari binar matanya saya bisa merasakan apa yang dia rasakan, dan akhirnya saya meminta handphone curian itu dan menyuruhnya tidur.

Pagi itu saya berangkat seperti biasa, selepas subuh, bawa mobil Daihatsu Espass yang kala itu menjadi mobil dinas saya. Saya pun mengantarkannya pulang ke rumah karena ternyata dia tinggal di belakang sebuah sekolah di Jalan Binamarga. Sesampai dirumah anak itu entah mengapa terbersit keinginan turun dan singgah kerumah anak itu, dan saya melihat sebuah rumah hang jauh dari layak, sempit, kecil dan hanya berkamar satu. Dan di dalam kamar itu ada seorang perempuan yang terbaring lemah, dan adik-adiknya yang menyambutnya dengan pelukan dan tangisan, rupanya mereka khawatir kakak sulungnya semalam tidak pulang.

Baca Juga  Caleg Konstruktivis

Anak itu kemudian menjadi adik asuh saya sejak kelas 1 Sekolah Menengah Atas. Walau gaji saya kala itu tak besar, namun saya tahu ALLAH itu maha pemurah, dan Alhamdulillah saya tetap bisa memenuhi dan mencukupi kebutuhan rumah termasuk membiayai kursus keahlian saudara perempuan saya. Ketika gajian saya kemudian atas ijin mama, saya memberikan sepertiga gaji saya buat sang ibu untuk modal berusaha, karena menurut anak itu mamanya pandai membuat kue.

Saya sering menemui Ibu itu menjual kue-kue basah di beberapa tempat seperti di depan ngesti, terminal Damri lama, dan memang enak. Sejak itu setiap gajian saya selalu membelikan susu untuk beliau, susu yang sama yang saya belikan untuk mama saya.

Anak lelaki itu kemudian kuliah disebuah PTN ternama di jabodetabek dan lulus tepat waktu, dan yang mengejutkan dia diterima bekerja diperusahaan dimana saya bekerja, dan kemudian menjadi staf saya.

Bisa saya lihat anak itu sangat bersemangat bekerja, cerdas, kontributif, improve dan selalu berprogress, tak butuh waktu terlalu lama dia menjadi supervisor di perusahaan itu, hingga akhirnya saya pindah bekerja dan dia tetap di perusahaan itu.

Saya selalu menolak membahas tentang masa lalunya, karena saya tak ingin masa lalu itu menjadi beban untuknya, pun tiga tahun setelah dia bekerja, mereka membeli rumah di sebuah perumahan di Kota Bogor dengan mencicil, dan sejak itu Ibunya hanya berjualan dirumah, dia mengambil alih tanggung jawab menyekolahkan adik-adiknya.

Tentang handphone yang dia curi, kemudian saya kirimkan kembali ke pemiliknya melalui paket Kantor Pos dan Giro saat itu, dan saya tahu pemiliknya menerima hape itu dengan sangat terperanjat, hingga kini pemilik handphone itu tidak tahu siapa yang mengirimkan handphone itu padanya.

Baca Juga  Kebohongan Bisa Menjadi Kebenaran

Apa yang saya alami dulu mengiang kembali ketika membaca artikel, ketika orang ditangkap mencuri handphone dan diperlakukan tidak manusuaei, padahal Islam mengajarkan jika ada seseorang mencuri dan itu dilakukan karena kelaparan, maka yang bersalah adalah Bani yang berkuasa. Maka tentu harus dilakukan investigasi mengapa mereka mencuri, siapa tahu mereka lakukan karena terpaksa karena kelaparan atau keluarga yang sakit dan hal-hal lainnya.

Maka sudah barang tentu saya menghimbau setiap kita untuk mengedepankan humanisme dibandingkan emosi untuk menghadapi halhal seperti ini, karena kita pun turut berdosa jika benar dia mencuri karena force majeur dalam kehidupannya dan dilakukan karena terpaksa.

Anak itu kini sudah berumur 35 tahun, dia sekarang menjadi Senior Manager disebuah perusahaan consumer goods, rumah yang dulu dia cicil sekarang sudah berubah menjadi rumah yang cukup besar dan lumayan mewah dengan mobil terparkir di garasi. Dia sangat menyayangi Ibunya dan adik-adiknya. Kepahitan dan kegetiran masa lalu telah mengajarkan padanya tentang cinta, kasih sayang dan tanggung jawab.

Dan apa yang dia alami kini mungkin tak akan pernah terjadi jika 20 tahun lalu saya panik dan kemudian berteriak pada orang-orang, pencuri yang mereka cari ada di rumah saya.

20 tahun berlalu sudah, dan rasanya seperti baru kemarin..


Share this
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer