Fenomena Quiet Quitting – Salah siapa?

Share this

Sejak pandemi Covid-19 hingga kini batasan antara pekerjaan dan kehidupan personal kita semakin blur (tidak jelas). Hustle-bustle culture semakin dianggap wajar, orang bangun tidur langsung ng-cek e-mail, malam masih diminta report. Bahkan saat family time pun masih harus menanggapi telepon klien, pulang kerja sudah malam, pagi harus datang lebih awal. Fenomena-fenomena ini sebetulnya sudah lama terjadi, namun semakin intens beberapa tahun belakangan. Akibatnya, baru-baru ini muncul gerakan baru, yakni Quiet Quitting yang berusaha menolak budaya hustle tadi dan mengembalikan ke titik keseimbangan.

Istilah Quiet Quitting ini mulai ramai dibicarakan di berbagai kanal media sosial. Bryan Creely, seorang warga U.S. lah yang mulai mempopulerkan istilah ini di TikTok sejak April 2022. Quiet Quitting sendiri merupakan sebuah gagasan yang menekankan bekerja bukanlah menjadi fokus kehidupan seseorang. Sehingga gerakan ini mengajak orang-orang, untuk memiliki batasan waktu terhadap pekerjaan dan kehidupan personalnya secara strict. Dalam kasus yang ekstrim, bahkan mereka hanya perlu bekerja sesuai dengan job-desc-nya, tidak lebih. Atau bahkan mereka sangat anti dengan “going extra miles”, memberi usaha lebih, terhadap apa yang dikerjakan.

Bukan tanpa alasan istilah ini muncul ke permukaan dan menjadi booming. Banyak alasan yang melatarbelakangi Quiet Quitting muncul. Salah satunya kasus burn-out yang semakin tinggi sejak pandemi datang. Sebuah survey di tiga negara yakni Singapura, Filipina, dan Indonesia yang dilakukan perusahaan consumer research Southeast Asian, Milieu Insight, berkolaborasi dengan Intellect menemukan bahwa 50% dari keseluruhan partisipan pernah mengalami burn-out, setidaknya sekali dalam 3 tahun belakangan.

Jack Zenger dan Joseph Folkman dalam Harvard Business Review, menganalisa data leadership assessment 360° selama 1 dekade terakhir, untuk mencari akar penyebab seseorang memilih untuk Quiet Quitting. Menariknya, yang menjadi alasan mendasar dan paling utama dari Quiet Quitting ternyata bukan berasal dari burn-out karyawannya itu sendiri. Melainkan karena kemampuan atasannya, dalam membangun hubungan dengan karyawannya. Leader yang dinilai kurang efektif, memiliki setidaknya 4x lebih banyak anggota tim yang terindikasi Quiet Quitting dibanding Leader yang efektif. Sehingga, jika si karyawannya merasakan burn-out tapi sang atasan mampu membantu, ia tidak akan memilih untuk Quiet Quitting.

Sebetulnya, menurut saya, tidak salah jika kita dan tim memiliki batasan antara pekerjaan dengan kehidupan personal. Itu adalah salah satu usaha untuk tetap be mindful terhadap apa yang sedang kita lakukan. Namun, apabila batasan itu muncul karena ketidaknyamanan kita terhadap kehidupan pekerjaan, maka kita harus segera luruskan benang kusutnya. Di Amerika  sendiri, dari hasil survey Gallup terhadap pekerja diatas 18 tahun pada Juni 2022, setidaknya 50% diantaranya adalah Quiet Quitters. Karena memang istilah ini cukup ramai digembor-gemborkan oleh Gen Y dan Z. Nah, sekarang coba Anda berefleksi sejenak. Apakah ada diantara anggota tim Anda yang mengarah ke Quiet Quitting? Bekerja hanya tupoksinya saja, ogah lembur dikit atau datang lebih awal, meeting maunya yang mandatori saja.

Baca Juga  CEO dan Cucu

Lalu, bagaimana cara Anda sebagai seorang Leader dalam menanggapi fenomena ini? Apakah Anda akan pura-pura tidak tahu dan berharap yang bersangkutan resign? Ingat, mencari orang baru adalah solusi yang mahal dan time consuming.

Setidaknya ada 3 tips yang akan saya bagikan kepada Anda para Leader, agar Anda dapat segera bersikap secara aktif menghentikan fenomena ini. Setidaknya untuk tim Anda. Jangan lupa share ke sebanyak-banyaknya rekan Anda ya agar fenomena ini dapat segera berakhir.

Pertama, Temukan alasan dibalik semua sikapnya.

Kesalahan terbesar seorang Leader yang sering ditemui ialah membuat asumsi, saat mengetahui ada anggota timnya yang terlihat de-motivasi atau mulai menjauh. Kemudian berusaha untuk memperbaikinya. Padahal, sebenarnya bukan itu yang jadi masalah utamanya. Daripada Anda salah, lebih baik Anda cari tahu terlebih dahulu. Ajak “ngopi” atau ngobrol santai saat jam kerja. Bangun hubungan yang hangat dan positif secara personal. Bahasa tubuh, intonasi dan cara Anda berkomunikasi perlu diperhatikan agar anggota tim Anda tidak merasa sedang di introgasi oleh Anda. Dari obrolan ini, Anda bisa menemukan alasan dibalik semua sikap yang selama ini terjadi. Setelah ditemukan alasan yang sesungguhnya, Anda bisa membuat kesepakatan yang menguntungkan perusahaan dan juga menguntungkan anggota tim tersebut.

Kedua, Reshape Mindset Anda

Mungkin sejauh ini Anda sudah dibekali dengan berbagai ilmu tentang millennials ataupun gen Z. Tidak ada salahnya melalui obrolan tadi Anda mengkonfirmasi apa yang telah Anda ketahui. Karena bisa jadi tidak semua memiliki karakteristik yang sama seperti yang tertulis dalam banyak jurnal dan literatur. Fakta yang kita temukan dalam keseharian lebih akurat dibandingkan apa yang tertulis dalam buku maupun jurnal ilmiah.

Baca Juga  Hatiku Merasakan Surga

Selain itu, dibanding Anda menuntut anggota tim Anda untuk selalu “On” setiap saat yang bisa berujung pada burn out. Anda dapat membantunya untuk mengelola pekerjaannya sehingga lebih terkelola dengan baik.

Ketiga, Cek dan Tawarkan Bantuan/Dukungan

Nah dari pada Anda hanya menanyakan kabar saat anggota tim terindikasi Quite Quitting, kenapa tidak Anda jadikan sebagai kebiasaan? Dengan demikian, anggota tim tidak merasa harus stress dahulu, untuk mendapat perhatian dan dukungan dari Anda. Apabila kebiasaan ini sudah terbentuk dan menjadi budaya dalam tim, bukan tidak mungkin psychological safety akan terbangun di tim Anda. Oiya, perhatikan betul ya untuk kalimat tanya yang Anda akan utarakan. Sebisa mungkin pertanyaan ini bersifat netral dan tidak memunculkan sikap defensif dari anggota tim Anda.

Itulah ketiga tips yang bisa saya bagikan ke Anda. Jauh lebih mudah untuk menyalahkan mereka yang Quiet Quitting sebagai pemalas atau orang yang tidak punya motivasi. Dibandingkan melihat lebih dalam dan memahami apa yang sebetulnya menjadi concern untuknya.

Simon Ahuja, seorang strategic consultant perusahaan-perusahaan yang masuk Fortune 500 mengingatkan, “It’s on leaders to genuinely and authentically understand where people are coming from.” Memang sudah jadi tugasnya Leader untuk mau memahami latar belakang setiap anggota timnya secara tulus. Seperti pepatah yang mungkin pernah Anda dengar “orang seringkali meninggalkan pemimpinnya, bukan tempat kerjanya.” Nah sekarang kendalinya ada di tangan Anda sebagai seorang pemimpin.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
Inspirator SuksesMulia

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer