Crazy Rich Flexing vs Leaders Flexing

Share this

Istilah flexing sebenarnya sejak dari dulu sudah ada, namun istilah ini semakin populer setelah salah satu yang menyebut dirinya Crazy Rich dilaporkan ke Polisi dengan tuduhan penipuan. Dan sang Crazy Rich pun menuntut balik sang pelapor dengan tuduhan pencemaran nama baik. Pembahasan tentang flexing pun akhirnya semakin semarak di dunia maya dan social media.

Flexing itu maknanya adalah pamer kekayaan. Dalam jagad social media sering juga disebut Crazy Rich atau Sultan. Menurut Profesor Renald Kasali, orang melakukan Flexing karena ada beberapa kebutuhan. Pertama, agar dilihat mampu oleh orang lain. Biasanya yang dipamerkan adalah kekayaan dan pekerjaan yang bergengsi.

Kedua, untuk menunjukkan kredibilitas atas suatu kemampuan. Dalam hal ini yang dipamerkan bukanlah harta kekayaan tetapi sertifikat, gelar, penghargaan dan sejenisnya. Ketiga, untuk mendapatkan pasangan dengan level keuangan sultan.

Untuk ketiga kebutuhan tersebut, para pelaku flexing berani menyewa sesuatu yang mahal demi sebuah konten yang akan diupload di sosial media. Mereka membuat skenario pemotretan dengan pemilihan sudut tertentu sehingga terkesan kaya, bergengsi dan menunjukkan kemewahan. Hasil pemotretan kemudian diedit sehingga sesuai harapan, setelah itu diupload di social media. Ia ingin mengesankan orang yang kaya, sukses, berkelimpahan, berkelas sehingga layak disebut Crazy Rich atau Sultan.

Bagaimana flexing dikaitkan dengan leadership? Menurut saya, seorang pemimpin dapat saja “memamerkan” sesuatu, namun tentu saja bukan dalam bentuk pamer kekayaan, melainkan dengan cara menunjukkan bahwa ia memiliki gaya kepemimpinan yang baik, gaya yang flexible atau gaya yang sesuai dengan tuntutan kondisi dan situasi.

Sang pemimpin bisa “memamerkan” unjuk kinerja yang bisa disaksikan oleh anggotanya untuk memberikan teladan dan semangat mewujudkan tujuan bersama. Sang pemimpin juga perlu “memamerkan” bahwa perilakunya sejalan dengan purpose, values, norma dan kebijakan yang sudah disepakati. Jadi, pamernya seorang pemimpin itu dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan, memotivasi, mensinergikan dan menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya.  

Baca Juga  Tiga Pengawas

Daniel Goleman (2020) mengemukakan bahwa fleksibilitas seorang pemimpin pada dasarnya bersumber dari kecerdasan emosinya. Seseorang yang cerdas secara emosi akan lebih mudah untuk berhenti sejenak, berefleksi, mengevaluasi diri, dan menemukan solusi terbaik.

Dengan demikian, pemimpin yang terbaik bukanlah pemimpin yang hanya mengenal satu gaya kepemimpinan, melainkan menguasai beberapa gaya yang layak “dipamerkan” kepada orang-orang yang dipimpinnya. Dengan “memamerkan” beberapa gaya yang bisa diperankan oleh sang pemimpin, maka orang-orang yang dipimpin semakin yakin dengan kemampuan dan kredibilitas sang pemimpin sehingga pengaruh sang pemimpin semakin meluas dan menguat.

Apa saja gaya kepemimpinan versi Daniel Goleman yang perlu dipamerkan kepada orang lain? Pertama, Coercive – “Do What I Tell You” : ini gaya tradisional, pemimpin cenderung top down, berguna pada saat darurat atau pengambilan keputusan yang berat. Namun jika digunakan berlebihan, dapat merusak budaya kerja dan membuat anggota tim merasa direndahkan. Gunakan gaya ini dengan jumlah terbatas.

Kedua, Visionary – “Come With Me” : pemimpin mengajak orang yang dipimpin membicarakan tentang strategi dan langkah ke depan. Gaya ini sangat berguna pada saat penyelarasan tim dan berbagai situasi lainnya. Namun jika anggota tim belum “buy in”, gaya ini bisa menjadi tidak efektif dan hanya membuang-buang waktu, biaya dan energi.

Ketiga, Affiliative – “People Come First” : sang pemimpin perlu mengenali semua anggota tim, sering memberi pujian, dan apresiasi. Gaya ini berguna untuk menciptakan rasa kepemilikan, harmoni di dalam tim, dan membangun hubungan yang baik. Namun jika digunakan sebagai gaya satu-satunya, gaya ini berisiko memunculkan performa yang buruk dari anggota tim (karena merasa dimaklumi). Merasa satu keluarga, nyaman bekerja namun buruk dalam performa.

Baca Juga  Doa dari Tanah Suci

Keempat, Democratic – “What Do You Think?” : pemimpin banyak mendengarkan dan merangkul. Gaya ini berguna saat tugas-tugas berjalan baik, untuk membangun trust dan respect, serta menguatkan komitmen. Namun, apabila digunakan berlebihan, karyawan menjadi terlalu asyik berbincang, ngobrol, menghabiskan waktu, tidak ada keputusan jelas. Senang diskusi namun lemah dieksekusi.

Kelima, Pacesetting – “Do As I Do, Now” : pemimpin memberi contoh/standar, menunjukkan langsung kepada anggota tim tentang bagaimana tugas harus dilakukan dan hasil yang diharapkan seperti apa. Gaya ini berguna pada saat ada tugas/tantangan baru, mengajak anggota tim melakukan suatu hal yang benar-benar baru. Namun jika digunakan berlebihan trust anggota tim kepada pemimpin semakin menurun. Anggota tim tidak berkembang bahkan bisa menjadi selalu “yes man” atau selalu “oke bos”

Keenam, Coaching – “Try This” : sang pemimpin lebih banyak bertanya dan mendengar. Gaya ini cocok dan berguna saat pemimpin ingin mengembangkan anggota tim. Namun, tidak semua orang mudah dan bersedia untuk diajak berbagi atau memang tidak semua orang mau dengan sukarela mengembangkan diri. Mereka sudah menikmati zona nyaman yang sudah dinikmati selama ini.

Diantara enam gaya tersebut, mana yang perlu kita “pamerkan” atau mana yang lebih baik? Tidak ada satu gaya yang lebih baik dibandingkan dengan yang lain, melainkan digunakan secara fleksibel dalam situasi dan kondisi yang tepat. So, pamerkan enam gaya tersebut dalam takaran yang tepat maka kepemimpinan Anda pun akan mempengaruhi orang-orang yang Anda pimpin. Pengaruh Anda,  jauh melebihi para crazy rich dan para sultan dijagad sosial media.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
Inspirator SuksesMulia

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer