Complacent Leadership

Share this

Tiga disrupsi, yakni digital, milenial, dan pandemi yang datang bertubi-tubi membuat sebagian besar kita mengalami goncangan. Mendadak kita dipaksa beradaptasi dengan berbagai situasi baru, cara kerja baru, kebijakan-kebijakan baru, dan hal-hal baru lainnya. Banyak pihak memasuki mode “survival,” di mana sangat terasa perjuangan kita dalam melewati kondisi tersebut. Saat memasuki new normal, telah kita saksikan banyak perusahaan yang tidak dapat bertahan, gulung tikar.

Namun, banyak juga perusahaan yang berhasil melalui badai, masih berdiri kokoh,  mungkin termasuk perusahaan tempat Anda bekerja, hal itu sangat patut disyukuri. Tentu ini tidak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan oleh para pimpinan dan tim di dalamnya. Meski perusahaan kita masih kokoh seyogyanya kita tetap tidak boleh lengah, karena tantangan-tantangan yang berbeda masih terus saja bermunculan untuk ditaklukkan.

Ketika seorang pemimpin merasa sudah puas dengan pencapaiannya, dengan posisi perusahaannya yang sudah “aman” karena berhasil melalui badai atau new normal inilah yang disebut dengan “complacent leadership.” Beberapa pakar menyebutkan complacent ini adalah “silent business killer,” Mengapa disebut demikian? karena seringkali mereka terlena dalam kenyamanan, tidak menyadari perubahan baru yang begitu cepat dan tiba-tiba menghancurkan dirinya dan menghancurkan perusahaan tempat ia bekerja. Waspadalah

Kabar baiknya, tanda-tanda “complacent” ini bisa dikenali. Coba Anda cek, apakah hal itu ada pada diri Anda? Banyak tanda complacent, tiga diantaranya adalah

Pertama, berkurangnya perasaan ingin berkompetisi dan berkolaborasi dalam diri Anda. Merasa sudah “aman” membuat kita tidak lagi ingin berusaha keras, kurang peka dengan keadaan di sekitar, menganggap bahwa orang lain sudah saya lampaui dan tidak mungkin menyusul saya.

Baca Juga  Merantaulah

Kedua, Anda mulai mentoleransi performa rata-rata atau “mediocre”. Tidak ada bedanya bekerja bagus atau bekerja “biasa-biasa saja”. Ini menjadikan anggota tim kita juga menurun kecepatannya, menurun standarnya, dan pada akhirnya menurun juga kinerjanya. Mereka akhirnya punya persepsi PGPS; “Pinter Goblok Penghasilan Sama.” Yang menjadi rujukan justeru mereka yang kinerja rendah bukan yang berkinerja tinggi.

Ketiga, Anda mulai kehilangan orang-orang terbaik di sekeliling Anda. Kurangnya tantangan akan menjadikan anggota tim terbaik Anda merasa jenuh, tidak berkembang, dan memilih untuk pergi. Mereka mencari tantangan baru di tempat yang baru. Dan boleh jadi tempat baru tersebut adalah kompetitor Anda. Begitu pula dengan merekrut orang baru menjadi sama sulitnya karena tugas, pekerjaan, atau suasana kerjanya kurang menarik.

Apabila hal itu dibiarkan lama, tiba-tiba saja semuanya sudah terlambat. Kompetitor semakin maju dan kita sangat mungkin tertinggal bahkan baru menyadari bahwa kita tertinggal. Itulah bahaya dari complacent. Wajar apabila Rupert Murdock mengingatkan: “Saat ini, bukan yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi yang cepat mengalahkan yang lambat.”

Lalu, bagaimana caranya untuk mengantisipasi complacent leadership ini?

Pertama, Perjelas Kembali visi Anda. Pemimpin yang complacent biasanya kehilangan visinya, sehingga bersikap dan bertindak longgar terhadap bisnis. Ingat, anggota tim Anda membutuhkan panduan dan Teladan terbaik adalah diri Anda. Jadilah contoh, bagaimana Anda ingin tim Anda bersikap dan berperilaku. Anda adalah role model-nya, selalu ingat visi besar Anda agar tidak terjebak rutinitas. Visi besar jugalah yang akan menjaga sikap dan perilaku Anda.

Kedua, Mintalah feedback dari tim Anda. Complacent bisa menular ke anggota tim, saat Anda sudah merasa complacent, anggota tim Anda akan juga merasa nyaman. Maka dari itu challenge kembali mereka untuk memberikan pendapat dan masukan. Dorong mereka untuk punya ide dan gagasan liar. Mereka perlu merasa aman saat mereka gagal dalam melakukan pekerjaan yang baru. Mereka adalah orang yang paling tahu persis bagaimana eksekusi bisnis selama ini berjalan, dengan demikian kita perlu terbuka menerima pandangan mereka. Jangan takut terhadap umpan balik. Dan tidak sampai di situ saja, tentukan aksi nyata berdasarkan umpan balik tersebut.

Baca Juga  NeuroLeadership: Otak Sehat itu Membuat Hidup Tenang

Ketiga, Perbaharui rencana bisnis Anda. Boleh jadi Anda terlewat dengan sesuatu selama beberapa waktu terakhir. Anda juga sudah mendapatkan umpan balik dari tim Anda dan memiliki serangkaian aksi. Oleh karena itu, Anda dapat melanjutkan langkah berikutnya untuk menetapkan fokus bisnis Anda saat ini. Jangan lupa bahwa bisnis terus berubah, terus berkembang. Buat rencana bisnis yang flexible dan siap berubah kapanpun menjadikan Anda tetap relevant dalam bisnis yang Anda tekuni.

 

Mari kita simak pendapat seorang yang expert di bidang Leadership, Chris Ruisi. Penulis buku yang juga executive coach ini mengatakan “self improvement is one of the best antidotes to fight off complacency.”  Memperbaiki kualitas diri adalah cara terbaik mengatasi complacent. Oleh karena itu, selalu lakukan refleksi, lihat ke dalam diri Anda sendiri: Seberapa complacent saya saat ini?

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
Inspirator SuksesMulia

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer