Cinta Yang Menyengsarakan

Share this
  • 58
  • 3
  •  
  •  
  •  
    61
    Shares

Cinta itu biasanya identik dengan sesuatu yang indah, membahagiakan, romantic, rindu, dan hal-hal lain yang membuat kita semakin bermakna. Namun faktanya, ada cinta yang justru menyengsarakan, baik bagi yang mencintai maupun yang dicintai. Benarkah?

Ya, cinta yang posesif. Dimana yang mencintai sangat terobsesi dengan pasangannya. Ia percaya, bahwa pasangannya adalah miliknya sehingga terbiasa untuk mengontrol perilaku pasangannya, selalu ingin tahu aktifitasnya dan selalu ingin berada didekat orang yang dicintainya.

Pelaku cinta yang posesif merasa sangat mencintai pasangannya padahal yang terjadi sangat menyiksa dirinya dan membuat yang dicintainya hidup dalam tekanan. Ada ganguan emosi dan mental pada pelaku cinta yang posesif. Boleh jadi ganguan attachment disorder atau gangguan kelekatan yaitu ketika seseorang sangat terikat dengan pasangannya.

Sang pelaku cinta yang posesif juga sering merasakan takut akan ditinggal dan merasa memiliki  kuasa penuh mengatur pasangan hidupnya. Ia juga merasa cemas cemas yang berlebihan.

Itulah cinta yang menyengsarakan, cinta yang posesif.

Bagaimana mengatasi cinta yang posesif?

Pertama, tanamkan dalam pikiran bahwa pasangan kita adalah orang yang bisa dipercaya. Kita menikahi seseorang tentu karena kita yakin bahwa pasangan kita bisa dipercaya. Tanpa trust, cinta tidak akan menetas dan berkembang. Untuk itu, berikan ia kepercayaan untuk melakukan berbagai aktifitas yang bisa membahagiakannya. Percayalah, pasangan kita memiliki iman dan mampu menjaga diri. Pasangan kita sudah dewasa, ia bertanggungjawab atas sikap dan perilakunya. Ia tidak layak untuk dicurigai. Ia sangat layak untuk dipercaya.

Kedua, berhenti stalking. Rasa ingin tahu yang berlebihan membuat kita terkadang kepo terhadap semua aktifitas yang dilakukan pasangan hidup kita. Akhirnya kita disibukkan memantau social media pasangan hidup kita. Tatkala kita membaca atau mengetahui sesuatu yang tidak kita harapkan, kita marah, kita emosi padahal hanya tentang perbedaan persepsi dan sudut pandang saja.

Baca Juga  Mengalami itu Penting

Keempat, intensifkan komunikasi. Berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga adalah masalah komunikasi. Jangan jadikan rumah hanya seperti hotel (tempat menginap) atau laundry (tempat cuci pakaian), minim komunikasi.  Banyak tema yang bisa didiskusikan dengan pasangan. Bisa tentang anak, program bersama, rencana pengembangan diri, finansial, spiritual, keluarga, film, politik, persoalan negara, hubungan dengan saudara dan lain sebagainya. Tidak ada hari tanpa komunikasi, saling menggoda, saling berpendapat, saling berbicara dan saling mendengar.

Kelima, pasrahkan kepada Allah swt. Sesungguhnya, kita tidak bisa bersama atau mengawasi pasangan hidup kita sepanjang waktu. Kita juga tidak tahu isi pikiran dan hati pasangan hidup kita. Serahkan kepada yang Menguasai Hati yaitu Allah swt, agar Dia selalu menjaga, melindungi, dan menolong pasangan hidup kita. Tidak ada yang lebih hebat dari penjagaan Allah swt, maka pastikan setiap hari bermunajat agar pasangan kita selalu dijaga oleh-Nya.

Saya pernah menjadi pelaku cinta yang posesif dan itu sangat menyiksa hidup saya dan membuat saya sangat tidak produktif. Bersyukur karena pasangan dan anak-anak saya segera mengingatkan saya.

Dan obat untuk menyembuhkannya adalah lima hal tersebut di atas. Selamat mencoba, khususnya untuk Anda yang merasa mencintai tetapi justeru menyengsarakan orang yang Anda cintai. Bismillah…

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini
CEO Kubik Leadership
Founder Akademi Trainer
Founder Kampoong Hening


Share this
  • 58
  • 3
  •  
  •  
  •  
    61
    Shares

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer