Bloon Tapi Tidak Sadar Kalau Bloon

Share this
  • 71
  • 1
  •  
  •  
  •  
    72
    Shares

Ada beberapa orang yang sharing di group WhatsApp (wa) tentang sesuatu yang keliru. Orang tersebut kemudian saya japri tentang kekeliruannya. Ia pun membalas “kan bukan saya yang membuat, saya cuma sharing, kalau salah ambil hikmahnya saja.” Diskusi pun berlanjut tanpa ujung, saya akhiri karena teringat pesan guru saya “jangan pernah diskusi dengan orang bodoh karena itu bisa merusak hatimu.”

Di era social media saat ini, banyak sekali orang yang sharing sesuatu tanpa didasari ilmu. Apapun yang sesusai dengan sudut pandangnya dibagikan tanpa melihat kebenaran, baik dan buruknya serta kegunaan informasi tersebut. Fenomena ini oleh Prof Tom Nichols disebut, Matinya Kepakaran, The Death of Expertise.

Internet, menurut hipotesis Tom Nichols, justru memperlemah kemampuan orang, termasuk intelektual dalam melakukan penelitian dasar (hlm. 132). Orang percaya kepada mesin pencari google tanpa konfirmasi kepada pakarnya (ahlinya).

Kita semua memiliki bias konfirmasi, yaitu cenderung hanya menerima bukti yang mendukung hal yang sudah kita percayai. Kita lebih mencari konfirmasi ketimbang informasi. Ini yang disebut Efek Dunning-Kruger. Inilah mengapa banyak orang yang sebenarnya bloon tetapi tidak sadar bahwa dirinya bloon.

Agar kita tidak ikutan bloon, Tom Nichols menganjurkan beberapa hal.

Pertama, rendah hatilah untuk hal-hal yang kita tidak punya ilmu tentangnya. Jangan mudah komentar, gemar sharing, apalagi nyinyir untuk sesuatu yang kita sangat tidak paham. Sebab bila kita melakukannya sebenarnya kita sedang membuat iklan “eh saya bloon tapi tidak merasa bloon.”

Kedua, kurangi sinisme. Ada kecenderungan alamiah bila seseorang sudah membenci sesuatu, maka informasi yang negatif tentang sesuatu tersebut cenderung ditelan mentah-mentah. Sementara kalau ada kebaikannya, orang tersebut cenderung seolah-olah buta dan tuli atas kebaikan tersebut.

Baca Juga  Ciptakan Alasan yang Kuat

Sebaliknya, bila ada keburukan pada sesuatu yang orang tersebut dukung atau cintai, orang tersebut seolah buta dan tuli. Dan bila ada sedikit saja kebaikannya, orang tersebut cenderung membesar-besarkannya. Inilah sindrom yang oleh sahabat saya mas Ahmad Faiz Zainuddin disebut sindrom “tahi kucing rasa coklat”.

Ketiga, selektif dalam menerima dan menyebarkan informasi. Di waktu-waktu tertentu, lakukanlah “puasa” social media agar otak dan hati Anda tidak kebanjiran sampah informasi.

Saat Anda hendak menyebarkan informasi pastikan Anda melakukan saringan 3B: Informasi tersebut BENAR, isinya BAIK dan BERMANFAAT bagi yang menerimanya. Ingat ya, baik dan bermanfaat bagi yang menerimanya, bukan hanya bagi Anda.

Lakukan tiga hal tersebut di atas agar kita tidak terlihat bloon.

Salam SuksesMulia
Sumedang, 22 Februari 2021

Jamil Azzaini
Inspirator SuksesMulia

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer