Belajar Empati

Share this
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Inspirasi dan Doa Bersama Berdamia Dengan Covid 19

Ketika saya sedang menjalani isolasi mandiri, ada seseorang yang menyebarkan video tentang betapa tidak bahayanya Covid-19, itu hanya seperti flu biasa. Usai menonton video tersebut, saya langsung japri sang pengirim video dan menyampaikan keberatan saya.

Begini isi japri saya “Mas, saya sudah merasakan Covid-19. Itu bukan flu biasa. Saya tahu bedanya, karena saya sudah pernah merasakan keduanya. Covid-19 itu sangat menyiksa. Dada tiba-tiba sakit atau sesak, tiba-tiba menggigil dan tulang-tulang sangat ngilu seolah hampir lepas dari tubuh, tiba-tiba pusing dan sebagainya.  Dalam dua bulan terakhir, saya juga kehilangan puluhan sahabat yang meninggal dalam kondisi terpapar Covid-19. Kita perlu berlatih “empati” kepada banyak orang di sekitar kita. Tidak layak video seperti itu disebar.”

Sang pengirim video menjawab “terima kasih coach Jamil, saya hanya ingin memperkaya sudut pandang banyak orang tentang Covid-19, agar obyektif melihat kenyataan.” Saya kemudian jawab “setuju mas, namun tidak harus melakukan kebohongan dengan mengatakan bahwa Covid-19 itu flu biasa. Perlu diketahui mas, saya juga membuat gerakan untuk tetap berpikir positif (positive vibes) berkaitan dengan Covid-19 agar meningkatkan imunitas dan sehat mental banyak orang.”

Ketika diskusi mengarah kepada debat kusir, saya pun menghentikan diskusi. Pikiran saya langsung melayang ke masa lalu, saat Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah (pemimpin negara), menantu Rasulullah ini kurang lebih pernah berkata seperti ini: “Saya menjadi khalifah, susahnya hanya satu yaitu menghadapi orang bodoh yang rajin ibadah atau menghadapi orang berilmu yang jahat.”

Mengapa demikian? Karena orang yang rajin ibadah itu biasanya kharismanya naik sehingga punya pengikut. Dan saat pengikutnya mengajukan pertanyaan, sang ahli ibadah yang bodoh ini menjawab dengan kebodohannya sehingga jawabannya menyesatkan banyak orang. Sebaliknya, orang yang berilmu yang jahat juga membahayakan karena ia bisa melakukan kejahatan dengan ilmu yang dimilikinya.

Baca Juga  Budayakan Menitipkan Anak

Menurut saya, seseorang yang aktif di social media dan tidak punya ilmu yang memadai tentang Covid-19 kemudian ia berbicara tentang Covid-19 adalah seperti orang bodoh yang rajin ibadah. Termasuk di dalamnya tentu menyebarkan informasi tentang Covid-19 yang dibuat oleh mereka yang bukan dari ahlinya. Keduanya sangat berbahaya dan menjerumuskan.

Memang bagi orang bodoh, ada sensasi tersendiri saat menyebarkan informasi  “nyeleneh” atau sesuatu yang berbeda. Ia tidak menyadari bahwa perbuatannya itu sebenarnya menguatkan “personal branding” tentang kebodohannya. Dan yang pasti, perbuatan itu tidak layak ditiru karena itu menunjukkan bahwa empati sang pelaku sangat rendah, khususnya kepada para penderita Covid-19 dan keluarganya.

Dalam sitauasi Covid-19 yang penyebarannya semakin menggila, kita perlu melatih empati kita. Melatih empati bisa dengan banyak cara, salah satunya tidak memposting sesuatu yang kita tidak punya ilmu mendalam tentangnya atau tidak menyebarkan informasi yang dibuat oleh orang yang bukan ahlinya. Setuju?

By the way, Selasa malam 29 Juni 2021, saya dan Sofie Beatrix serta Ustadz Zulfikarullah akan berbagai ilmu, inspirasi dan Zikir Syifa agar kita bisa menaklukkan Covid-19. Kami bertiga sudah pernah menjadi penyintas Covid-19 dan atas izin Allah swt, kami diberi kesembuhan. Acara ini gratis, silakan bergabung klik link berikut ini https://t.me/joinchat/ZAUSrqGIaGVhYmQ1

Salam SuksesMulia

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer