Bangga Dengan Kakak Saya

Share this
  •  
  • 1
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Saat saya kecil, karena kemiskinan orang tua, kami pernah tinggal di tengah hutan di propinsi Lampung. Meski harus pinjam uang ke sana kemari, orang tua saya terus menyekolahkan saya dan kakak saya. Sementara dua adik perempuan saya, biaya kuliahnya sebagian besar ditopang oleh saya dan kakak saya. Kami menjalankan ajaran Ayah “anak lelaki bertanggungjawab atas saudara perempuannya.”

Kini, dua adik perempuan saya menekuni profesi masing-masing. Ada yang menjadi guru sekaligus ustadzah, ada pula yang menjadi PNS Kementerian Agama di Kanwil Propinsi Lampung. Sementara, kakak saya sudah 9 tahun menjadi Kepala Sekolah di SMPN 1 Tanjungsari Lampung Selatan.

Ketika orang tua saya masih hidup, mereka bertiga bisa secara intensif bertemu dengan orang tua saya karena rumah mereka yang berdekatan. Bahkan, adik saya yang paling bungsu sangat beruntung karena kedua orang tua saya memilih tinggal bersamanya hingga akhir hayatnya. Untuk itulah, saya sangat iri dengan saudara-saudara saya khususnya kakak saya. Mengapa saya iri?

Saat orang tua saya memerlukan sesuatu, kakak saya bisa segera datang membantu. Kakak saya bisa melepaskan kangen dan bersendagurau dengan kedua orang tua, kapan saja. Dan rasa iri saya semakin bertambah ketika selama 6 hari saya berinteraksi intensif dengan kakak saya karena meninggalnya ibu kandung saya pada 26 Januari 2021 pekan lalu.

Sebelum meninggal, ibu saya berwasiat yang inti pesannya “bacakan surat Yasin selama 7 malam, dan tiap malam setidaknya yang membaca Yasin 40 orang” Untuk menjalankan wasiat ibu, sayapun tinggal di rumah adik bungsu saya untuk bisa ikut membaca surat Yasin setiap malam bersama warga kampung ibu saya. Hampir semua pekerjaan, saya geser jadwalnya, saya fokus menjalankan wasiat ibu saya.

Baca Juga  Dibalik Foto

Dari 6 hari bersama, saya menjadi tahu lebih dalam sosok kakak saya. Ia yang menggerakkan penduduk kampung untuk hadir setiap malam. Ibu-ibu membaca surat Yasin usai sholat Maghrib sementara para bapak membacanya setelah sholat Isha. Saat yasinan kaum lelaki, kakak saya yang memimpinnya.

Kakak saya mengantar ke pasar untuk berbelanja, pergi ke kota untuk memesan keperluan yasinan, Ia pun masih menyempatkan diri menyapu bagian dalam masjid Jami (utama) di kampung setiap usai sholat Subuh. Sebagai kepala sekolah, ia tentu masih menyempatkan diri datang ke sekolah yang ia pimpin.

Saat saya datang ke SMPN 1 Tanjungsari untuk “meminjam” wifi karena ada sesi webinar, saya melihat sekolah yang asri, sejuk, nyaman dan berbagai piala tersusun rapi di lemari. Ternyata, sekolah yang dipimpin kakak saya pernah mendapat penghargaan Adiwiyata Nasional sebagai Sekolah Hijau, terpilih sebagai kepala sekolah terbaik peringkat ke 2 Nasional dalam tatakelola dana BOS.

Hebatnya lagi, sekolah ini telah mendapat Sertifikasi ISO 9000 : 2015 untuk yang kedua kalinya atas support Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim. Saya yakin, tidak banyak sekolah yang punya prestasi seperti ini, apalagi sekolah di kampung kecil di kecamatan yang baru.

Prestasi yang berlimpah tidak membuat kakak saya tinggi hati, penampilannya sangat sederhana dan bersahaja. Ia menjadi pemimpin yang hebat di profesi yang ditekuninya. Suaranya pun enak didengar saat menjadi pemimpin (imam) sholat. Namun di waktu yang lain, ia bersedia menjadi rakyat biasa yang mau pergi ke pasar dan membersihkan masjid dengan penuh suka cita.

Masya Allah, saya bangga dengan kakak kandung saya yang bernama Kaolan. S.pd, MM.

Pelabuhan Bakauheni Menuju Jakarta

Baca Juga  Pikiran Anda itu Doa Anda

01 Februari 2021

Jamil Azzaini      

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer