Waktu yang Tepat untuk Bicara

Harri Firmansyah RSeberapa sering seorang pebisnis menahan untuk bicara kepada partnernya ?? pimpinan menahan diri berbicara kepada staffnya ?? Sesering apa seorang ayah menunggu waktu yg tepat untuk menasehati anaknya ??? Atau berapa lama seorang suami menunggu momen yg pas untuk berdiskusi tentang keluarga kepada pasangannya ???

Kondisi bisnis yg lagi naik turun ; Loading pekerjaan yg sedang puncak-puncaknya; ujian sekolah yang kian dekat ; emosi yang sedang tidak stabil karena pms, sedang hamil, baby blues, atau lagi menyusui dan seterusnya bisa saja dijadikan alasan kita untuk menunda “berbicara”.

Jika itu terjadi sebenarnya kita bukan sedang menanti waktu yg tepat, melainkan kita sedang menunggu waktu ideal untuk berbicara..

Memang, ada waktu-waktu ideal untuk berbicara dimana kita harus pandai-pandai menggunakannya. Ketahuilah, Ia hanya hadir di saat-saat tertentu saja. Selebihnya, kita harus benar-benar paham, mana yang akan lebih cepat datang : waktu yg ideal ataukah meledaknya bom waktu hasil endapan emosi yg tak tersampaikan ?

Lantas kapan waktu yg tepat untuk bicara ? Waktu yg tepat itu ada ketika kita memutuskan untuk berbicara dan bersegera menindaklanjutinya dengan benar-benar “berbicara”. Waktu yang tapat itu harus dibuat, bukan ditunggu.

“Bicara” memang pada awalnya ngga mudah, mungkin malah sering jadi salah..namun kita juga harus tahu bahwa “berbicara” adalah “art”, bukan semata-mata “science”. Untuk menguasai seni maka kita butuh “latihan”, perlu “riyadhoh” demi otot-otot kita terbiasa untuk menyampaikan pesan yg ingin kita sampaikan. Don’t worry, sesuatu yang baik pada akhirnya, boleh banget dilakukan salah pada awalnya :).

Satu hal terbesar yang tersisa dari permasalahan “berbicara” pada akhirnya adalah “keberanian” alias “nyali”. Iya, nyali..sebesar apa nyali kita untuk segera memperbaiki kinerja staff kita dan menanggung resiko dicap bossy ? Seberapa besar keberanian kita untuk membiasakan dan mendisiplinkan nilai2 baik agar diterapkan oleh anak-anak kita yg mungkin membuat kita disebelin oleh mereka ? Atau seberapa mau kita jujur didepan pasangan kita untuk sekedar memberi tahu mereka bahwa Anda ingin dipahami, yang bisa saja karenanya Anda di anggap egois dan hanya mau menang sendiri..

Sebesar apapun resikonya, mulailah berani berbicara dan hadapi konsekwensinya. Karena ketika kita mengambil sikap diam sekalipun, ia memiliki resiko dan konsekwensi yg menyertainya..bahkan lebih besar!

So, berani membuat waktu yang tepat untuk berbicara ?

Harri Firmansyah R

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.