Virus Fragmentasi

Saat ini masyarakat terjangkit dengan apa yang disebut oleh fisikawan David Bohm sebagai “Virus Fragmentasi”. Itu ditandai dengan meningkatnya kehancuran unit keluarga inti, pemutusan ikatan antara anak-anak dan orang tuanya sehingga mengakibatkan banyak keluarga yang terbelah serta banyaknya orang yang memilih hidup sendiri. Kita menjadi masyarakat yang “kehilangan keterhubungan”.

Gambaran kesibukan kita saat ini adalah kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, KELUARGA, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, KELUARGA, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, TEMAN-TEMAN, kerja, kerja, kerja, kerja, kerja, KELUARGA, kerja, kerja, kerja.

Kita begitu sibuk bekerja sehingga terkadang lupa dengan diri sendiri, keluarga dan teman-teman kita. Kita menyadari bahwa keluarga adalah nomor satu. Namun, saat ada acara keluarga kita ingin acara itu buru-buru usai. Kita menyadari bahwa teman itu penting dalam kehidupan, namun kita sering tidak punya waktu menemani mereka di momen-momen penting.

Kondisi demikian melahirkan generasi “aku” tidak memberi banyak tempat kepada “kita”, dan “kami”. Bila itu berlangsung lama maka kita akan menjadi manusia kesepian di tengah keramaian.

Kini, saatnya kita sebagai manusia hidup sesuai dengan fitrah dan kodratnya: Punya energi yang cukup untuk keluarga, teman-teman dan lingkungan sosial.

Ibarat listrik yang memerlukan saklar untuk menyalakannya, saat ini kita memerlukan banyak “saklar” untuk menyambung dan menyalakan kehidupan sosial yang telah mulai memudar. Saya yakin Anda punya banyak koneksi dan hubungan. Mulai saat ini, cobalah itu disambungkan dan dihubungkan agar kehidupan satu dengan yang lain saling tersambungkan, menyalakan kehidupan sosial yang semakin menggairahkan.

Untuk memulainya, coba amati kesenjangan di sekitar Anda. Ada lelaki dewasa dan mapan yang hidup sendiri, ada pula perempuan yang malu bila berinteraksi dengan lelaki. Pertemukanlah keduanya menjadi keluarga. Coba amati pula, ada orang yang memiliki kemampuan/skill tetapi miskin modal sementara ada orang lain yang berkelimpahan namun bingung mau investasi apa. Pertemukanlah mereka menjadi satu unit bisnis yang saling menguntungkan.

Jadilah “saklar” atau “makelar kebaikan” yang mengikis kesenjangan kehidupan yang ada di sekitar kita untuk menghalau virus fragmentasi. Sebab, apa yang dikatakan David Bohm tentang virus fragmentasi terbukti telah merusak tatanan sosial dan menjauhkan hidup kita dari fitrah dan kodrat kita sebagai manusia. Menyedihkan..

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

18 thoughts on “Virus Fragmentasi”

  1. Widar says:

    Sentilan yang mengena.. straight to my heart.. jleeeebbb!! Terima kasih kek buat sentilannya. ^.^

  2. erickazof says:

    Dan “makelar kebaikan”pun suka tidak suka, mau tidak mau akan kecipratan rezekinya kan kek? Hehe.. 😀 smgt brbuat kebaikan! Great wednesday!

  3. Anggit Setyaningsih says:

    Setujuu!!!
    Seringkali kita sibuk dg urusan kita sendiri, sampai2 jauh dg kluarga & teman2.
    Semuanya itu harus seimbang 🙂

  4. mustika yanti says:

    Jiaaa. . .managemen waktu harus ditingkatkan, porsi kegiatan hrs seimbang. Tks pak sdh mengingatkan

  5. Utty Maulida says:

    WOW

  6. Nikke says:

    Hemm…WAJIB introspeksi diri nih!
    Tengs pak Jamil 🙂
    Jzkmlh…

  7. eka sugeng ariadi says:

    alhamdulillah terima kasih inspirasinya ustadz

  8. Great…. Silaturahmi connecting people…

  9. MdarulM says:

    Hem..menarik sekali tentang prinsip sakelar ini..sungguh keren pak 🙂

  10. airyz says:

    syedih dengernya 🙁

  11. @3mnz says:

    Sentilan yang sentilun 😉

    Ayo kita comblangin sekitar kita 😉

  12. Betul kek,
    Virus itu telah menjalar dan mengubah kita menjadi mesin yang terprogram untuk kerja, kerja, kerja, kerja, dan kerjaaaaa….

    sehingga keluarga, teman, dan kehidupan sosial kita terlupakan dan menjelma menjadi makhluk individu.
    hakikat kita sebagai makhluk sosial pun terlupakan.

    mari belajar untuk menjadi “saklar” yang menghubungkan individu yang satu dengan individu lainnya sehingga kita bisa menjadi makhluk sosial yang sebenar-benarnya.

    Terima kasih kek sudah mengingatkan,

    Salam

  13. mirza says:

    Tajam. Langsung pada inti. Terima kasih 🙂

  14. ali says:

    yang ini ni, seperti tertinju, pas sasaran. 😮 thx bang Jamil

  15. Pratama Puji Widiyanto says:

    INSPIRING, mATURNUWUN BANYAK KEK 🙂
    SEBARKAN EPOS DAN JADI MAKELAR KEBAIKAN 🙂

  16. Nazarudin says:

    saklar jodoh = mak/pak comblang
    saklar modal = maklar
    saklar ilmu = ?????

  17. dwinur77 says:

    mangtab…makasi

  18. juned says:

    josh…

Leave a Reply

Your email address will not be published.