Ustadz Musiman

ceramah.jpg

Di bulan Ramadhan permintaan ceramah di berbagai acara meningkat, mulai dari masjid hingga ke perkantoran. Yang ceramah pun tidak harus ustadz yang selama ini sudah terbiasa memberikan tausiyah (nasihat). Masyarakat awam pun mendapat giliran memberikan ceramah, termasuk saya.

Tetapi tidak semua permintaan saya penuhi karena saya ingin lebih banyak berbuka puasa dengan keluarga. Saya hanya pilih beberapa saja, diantaranya Pegadain, SMA Dian Didaktika, Indosat, Majalah Swa, Universitas Binus, Kementerian Keuangan, Daarut Tauhiid, Masjid Istiqlal, At Tien dan JPMI. Tentu bagi saya lebih mudah memberikan training di perusahaan dibandingkan ceramah Ramadhan.

Dikisahkan, seorang awam yang tidak pernah ceramah agama diminta memberikan kultum (kuliah tujuh menit) di kantornya, Tidak tanggung-tanggung, ia diminta memberikan tiga kali selama Ramadhan, yaitu setiap hari Rabu. Akhirnya, ia membaca banyak buku. Setelah menemukan banyak referensi, ia terinspirasi dengan cerita Nasruddin Hoja.

Di Rabu pekan pertama, saat ia mendapat giliran kultum, di atas mimbar ia bertanya kepada jamaahnya, “Apakah Anda semua sudah tahu apa yang hendak saya sampaikan?” Semua jamaah kompak menjawab, “Belum!” Maka orang ini kemudian menutup ceramahnya dengan mengatakan, “Kalau begitu, sekarang kembali ke ruangan masing-masing untuk belajar terlebih dulu. Rabu depan kita jumpa lagi.”

Di Rabu pekan kedua, saat laki-laki ini mendapat giliran kultum, ia bertanya lagi kepada jamaahnya, “Apakah Anda sudah tahu apa yang hendak saya sampaikan?” Semua jamaah menjawab, “Sudah!” Maka sang penceramah berkata, “Kalau begitu buat apa saya kultum, kan Anda semua sudah tahu.”

Berdasarkan pengalaman itu, di pekan ketiga, sebelum ceramah dimulai jamaah sepakat. Apabila ada pertanyaan yang sama, sebagian menjawab sudah dan sebagian menjawab belum. Dan ternyata benar, saat sang penceramah naik mimbar ia membuka dengan pertanyaan, “Apakah Anda sudah tahu apa yang hendak saya sampaikan?”

Maka sesuai kesepakatan, sebagian jamaah menjawab “sudah” dan sebagian menjawab “belum”. Mendengar jawaban itu, sang pencermah terdiam sejenak kemudian berkata, “Kalau begitu yang sudah tahu memberitahu yang belum tahu.” Penceramah pun turun mimbar sambil berbisik, “Yes, akhirnya tugasku sudah selesai.”

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

10 thoughts on “Ustadz Musiman”

  1. Ora Dadi Opo says:

    Cerdik mengakali tuh kek orang awamnya….

    1. Jamil Azzaini says:

      Hehehehe, pengalaman ya 🙂

  2. ahmad mutaqin habibi says:

    Hahaha

  3. ali samsudin` says:

    YESSSS!!! saya tersenyum.

  4. Arfani says:

    kayaknya orang itu perlu ikut WBT sm TBnC kek 🙂

    1. Jamil Azzaini says:

      Ayo tawarin 🙂

  5. R. Widyananto says:

    Ditunggu lagi artikelnya tentang ” Jamaah Musiman” dari Kek Jamil.

    1. Jamil Azzaini says:

      Ayo dibuatin mas 🙂

  6. winda fevlona says:

    Ralat kek bukan Hoja, tapi Joha :),
    makasih untuk Setiap tulisan kek jamil selalu menghibur dan menginspirasi

    1. Jamil Azzaini says:

      Saya bacanya Hoja 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.