Uang Bukan Nomor Satu

uang.jpg

Ada yang pernah bertanya kepada saya, “Benarkah bapak ikut melahirkan pengusaha? Saya sudah baca buku bapak, nonton video bapak dan ikut seminar bapak tetapi tidak ada satu pun yang mengajarkan mengejar-ngejar uang. Padahal pengusaha itu identik dengan uang.”

Ya, saya memang tidak pernah mengajarkan orang untuk mengejar-ngejar uang, tetapi saya mengajarkan agar orang agar dikejar-kejar uang. He he he… Dalam pikiran saya, uang semakin dikejar akan semakin menghindar. Kalaupun ada yang sekarang sibuk mengejar uang dan mendapatkannya kemungkinan besar ia kehilangan yang lain. Boleh jadi kehilangan sesuatu yang berarti, seperti keluarga, rasa bahagia, harga diri, sahabat, integritas dll.

Orang-orang yang dulu sangat sibuk mengejar karir, bergonta-ganti profesi hanya sekedar demi uang yang didapat, senang dengan sesuatu yang instant bernama kekayaan akhirnya banyak yang menyesal di masa tua. Saya tahu hal itu karena sebagiannya ada yang datang kepada saya, curhat kepada saya. Uang yang dulu dikejar-kejarnya telah menjadikannya ia lemah, letih dan tak berdaya di saat ia tua.

Apabila Anda ingin mendapatkan hidup yang semakin hidup, semakin tua semakin bahagia dan penuh makna, jangan jadikan uang sebagai prioritas yang pertama. Peringkat pertama, bekerjalah karena makna yang terkandung di dalamnya. Bekerja bukan hanya sekedar bekerja. Karena, bila kerja hanya sekedar kerja pada hakikatnya Anda adalah robot berwujud manusia.

Bekerjalah karena ada nilai ibadah di dalamnya. Bekerjalah karena Anda ingin berbuat sesuatu untuk dunia. Bekerjalah karena banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh banyak orang karena pekerjaan Anda. Bekerjalah karena panggilan jiwa.

Prioritas kedua, bekerjalah karena Anda ingin expert di profesi Anda. Saya belum pernah menemukan orang-orang yang ahli (expert) bergonta-ganti profesi. Mereka menekuni profesinya, mengasahnya, mengajarkannya dan menyebarluaskannya. Dan, hebatnya, semakin seseorang expert maka rezeki akan berebut mendatanginya. Ia tidak perlu mengejar-ngejar rezeki, ia justru dikejar-kejar rezeki.

Begitu Anda menjalankan prioritas yang pertama dan kedua maka semakin tua Anda akan merasakan kehidupan yang membahagiakan. Uang pun akan datang semakin berlimpah. Tidak percaya? Bacalah biografi orang-orang kaya dan berpengaruh di dunia. Mereka tidak menjadikan uang sebagai prioritas pertama. Mereka bekerja karena ada nilai di dalamnya dan mereka ingin expert di bidang yang ditekuninya.

So, jangan tertipu dengan tawaran ingin cepat kaya, bro…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

17 thoughts on “Uang Bukan Nomor Satu”

  1. kang arip says:

    Asslamu’alaikum pa Jamil, salam sejahtera utk bapa n keluarga, saya terkesan dgn pemikiran2 tulisan bapa, saya baru kenal Bapa sekitar akhir 2010 di training Dompet Dhuafa di Ciputat, tpi maaf kbetulan saya tdk punya 1 pun buku bapa, hehe.. tpi saya senang mengamati aktifitas Bapa yg sepertinya sejuk, damai, penuh rasa keluarga. kebetulan lgi ada problem selaras dgn tulisan Bapa yg satu ini, saya sudah berkeluarga dan sedang bekerja, umur 25 thn, tpi kebetulan pekerjaan yg sedang saya geluti bukan passion jati dari pribadi, tapi di balik itu saya butuh akan penghasilan dri pekerjaan tsb apalagi mungkin saya sudah brkeluarga. sebenernya saya terkesan menjadi entrepreneur seperti Bapa, yg mungkin saat ini belum terwujud.. Mohon arahannya ya pa bisa start menggeluti profesi seprti Bapa atau jadi pengusaha local lah minimal.. berkenan mudah2an comment saya bisa terbaca, Terimakasih sebelum dan sesudahnya wssalm, kang Arip 082122733168

    1. Jamil Azzaini says:

      Kang Arip, silakan berguru dengan para pengusaha di sekitar bapak itu lebih dahsyat dibandingkan dengan saya yang jauh. Semua orang adalah guru

  2. muhammad akram says:

    InspiriON bwget kek artikelnya pagi, ini sy semakin mantap tuk cepat resign insaa Allah ingin hijrah tuk profesi yg lebih berkah…

    Mohon doakan ya kek…

    1. Jamil Azzaini says:

      Lho? Saya gak nyuruh resign lho ya 🙂

  3. eko wardhana says:

    setuju bannget masss , o ya tanggal 30 jadi mengisi acara dompet dhuafa di bandung ?

    1. Jamil Azzaini says:

      In sya Allah jadi…

  4. Selamet HARIADI Online Strategist says:

    Hatur Nuhun Pak… Menggunakan WAKTU secara Optimal dalam bekerja agar EXPERT di bidangnya.

    Semoga bisa ketemu Pak Jamil ya tahun ini… 🙂

    1. Jamil Azzaini says:

      Peluk dari jauh, ayo ikut WBT mas…

  5. Idiq Abinafis says:

    subhanallah….kena dihati neh p.jamil…. saatnya introspeksi lg dan betulin niatnya… HATURNUHUN pisan… peluk sayang dari anak utk p.jamil

    1. Jamil Azzaini says:

      Peluk dari jauh….

  6. pawit budiarsih says:

    Kek..apa pendapat Kek Jamil kalau saya PNS tetapi juga ingin berbisnis?

    1. Jamil Azzaini says:

      Lanjutkan…

  7. Dauz says:

    Pak saya jualan surabi, nilai apa yg saya bisa berikan selain rasa surabi yg enak pak hehe

    1. Jamil Azzaini says:

      Kesehatan bagi yang mengkonsumsi….

  8. Muhammad Abduh says:

    Mas Jamil, saya punya atasan yang zholim. yang menyuruh saya berbuat tidak baik. Saya mau keluar tapi bisnis saya belum mencukupi untuk kebutuhan saya. Bagaimana sikap saya sebaiknya?

    1. Jamil Azzaini says:

      Perintah dari siapapun bila itu batil atau maksiat tak wajib ditaati…

  9. HALOnetizen.com says:

    sangat suka yang bagian ini kek “Peringkat pertama, bekerjalah karena makna yang terkandung di dalamnya. Bekerja bukan hanya sekedar bekerja. Karena, bila kerja hanya sekedar kerja pada hakikatnya Anda adalah robot berwujud manusia.”

    🙂 saya bisabekerja lebih baik kek

Leave a Reply

Your email address will not be published.