Tukang Tuduh

tuduh.jpg

Dalam pengamatan saya selama 11 tahun berkecimpung di dunia pengembangan SDM (sumberdaya manusia) di berbagai perusahaan, ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati. Salah satunya adalah tentang karyawan bermasalah. Ternyata, di perusahaan terbaik sekalipun hampir selalu ada orang jenis ini, walau jumlahnya bervariasi.

Salah satu ciri utama karyawan bermasalah ini adalah tukang tuduh, bahasa kerennya blame alias sering menyalahkan orang lain. Saat ada pekerjaan tidak beres, ia akan menyalahkan teman kerja, sistem, sarana dan prasarana bahkan ia berani menuduh dan menyalahkan pimpinannya.

Sayangnya, kebanyakan mereka juga pengecut atau kurang gentle. Banyak membicarakan hal buruk dengan sesama rekan kerja “di belakang”. Saat bertemu pengambil keputusan atau pimpinan, mereka diam seribu bahasa atau enggan berdiskusi mencari solusi.

Berdasarkan kajian Colin dkk (2008) yang dimuat di jurnal Leadership & Organization Developmnet, tukang tuduh ini kepuasaan kerjanya rendah, kinerjanya di bawah raya-rata dan tingkat stresnya tinggi. Dan waspadalah, hal ini bisa menular kepada karyawan lain.

Hindari menjadi tukang tuduh. Jadilah orang yang bertanggungjawab. Di setiap ketidakberesan tim kita di situ juga ada peran dan kontribusi kita, sekecil apapun itu. Maka ubahlah yang semula tukang tuduh menjadi tukang kontribusi perbaikan khususnya di aspek-aspek yang berada di kendali kita.

Saat kita sadar bahwa ada peran dan kontribusi kita dalam tim maka pada saat itu kita lebih menikmati pekerjaan, menghasilkan pekerjaan yang lebih baik, lebih mudah mempengaruhi orang lain dan aktif mencari ilmu dan informasi yang berkaitan dengan pekerjaan yang kita geluti. Tentu Anda tahu dampak selanjutnya, kan?

So, jauhilah menjadi tukang tuduh, jadilah orang yang bertanggungjawab dan siap berkontribusi.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

2 thoughts on “Tukang Tuduh”

  1. kasman says:

    Benar tu, kinerjanya dibawah rata2, tingkat stresnya tinggi.

    1. Jamil Azzaini says:

      Hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.