Tragedi Paling Menyedihkan

Rahman Patiwi“Hal yang paling menyedihkan bukanlah Kematian secara fisik, Tetapi membiarkan bakat anak mati-terbantai di tangan anda, itulah tragedi paling menyedihkan”

Membaca pernyataan saya diatas, mungkin boleh jadi anda terkaget jika berlebihan dikatakan shock. Pasalnya, segudang pertanyaan pasti menggelayut dalam pikiran kita. “Adakah orang tua yang tegah menjadikan bakat anak mati-terbantai di tangannya sendiri?” Atau “Bukankah setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi yang terbaik?” Atau “Bukankah orang tua bekerja habis-habisan demi untuk melihat masa depan anaknya lebih baik, Mas Rahman?”

Yap.. Pertanyaan anda saya Amini, jika kita bicara di tataran teori. Namun jika kita mencoba menguak akan faktanya yang berserakan ditataran praktek, sayangnya cerita menjadi lain. Sebagai seorang praktisi parenting dan pemerhati pendidikan, Dalam kenyataan saya menemui ternyata ada saja orang tua yang tegah “membantai” bakat anaknya sendiri, “merenggut” masa depannya, hingga anak menjadi depresi.

Untuk memahami lebih jauh akan fakta itu, ijinkan saya mengutip tulisan menggugah yang pernah di posting oleh sahabat saya, Dinar Aprianto di TL ini. Dalam kapasitas profesinya sebagai Pendidik.

“Aku masih belum yakin dengan berita di koran itu. Kubaca berulang-ulang, seperti tidak percaya. Dia adalah murid saya, sejak dulu dia masih duduk di kelas akselerasi di SMA dan saat saya membaca berita itu, dia tengah menyandang gelar Mahasiswa Kedokteran di sebuah Universitas Negeri ternama di Jawa Tengah. Bagaimana saya tidak kaget, dalam berita itu di kabarkan bahwa murid saya tersebut mengalami gangguan jiwa beberapa bulan ini, dan karena penyakit yang dideritanya, pihak kampus mengembalikan dia ke rumah orang tuanya.”

“Menyakitkan… Menyakitkan… Menyakitkan..” Kata itu mungkin lebih tepat untuk meyematkannya. Kesimpulan dari kisah sahabat saya itu adalah Orang tua yang tegah memaksa anaknya masuk pada kedokteran, yang sebenarnya anak tak minat dengan itu. Demi untuk menyenangkan orang tua “paksaan” itupun dijalankan meski harus ditebus dengan depresi anak yang harus berhubungan dengan rumah sakit jiwa.

Kisah seperti itu bukalah satu satunya. Sebagai praktisi parenting dan pemerhati pendidikan saya kerap banyak menemukan fakta memiriskan ini di profesi saya. Hingga sejujurnya terasa cukup menggertak sisi emosi saya untuk berkata:

“Hai para orang tua yang suka memaksa..! Maaf, mari kita hitung-hitungan. Sebenarnya hebat mana memaksakan anak pada sesuatu yang kelihatannya mentereng di matamu, atau membiarkan anak pada kesungguhan pilihannya, meski itu nampak kacangan sekalipun di mata anda.”

Akhirnya, Ijinkan saya mengenal anda lebih dekat, follow saya di Twitter @RahmanPatiwi

Salam Metamorfosa…!

Rahman Patiwi

Pakar Parenting Pendidikan

Bagikan:

One thought on “Tragedi Paling Menyedihkan”

  1. Tito Adi dewanto says:

    Mantap mas Rahman, Mudah-mudahan kita terhindar dari menjadi orang tua yg memaksakan kehendak. Thanks

Leave a Reply

Your email address will not be published.