Tiga Pertanyaan Mendasar

question.jpg

Saat saya menunggu bagasi di bandara Soekarno-Hatta tadi malam, terdengar seorang lelaki perlente, klimis, mengenakan berbagai asesoris mahal sedang berbicara melalui handphonenya. Tampaknya, lelaki ini sedang berdiskusi dengan saudaranya tentang ibunya. Lelaki ini merasa, ia sudah berkorban banyak untuk ibunya tetapi ibunya tidak tahu berterima kasih kepadanya. Setiap bulan, lelaki ini sudah transfer ke rekening ibunya senilai satu juta rupiah.

Menurut Anda satu juta rupiah besar? Sangat besar untuk orang tertentu dan sangat kecil untuk kelompok yang lain. Tetapi melihat penampilan dan kemampuan lelaki ini naik pesawat Garuda di kelas bisnis, seharusnya nilai satu juta rupiah setiap bulan untuk ibunya itu sangat kecil.

Kejadian ini mengingatkan saya akan nasihat seorang guru. “Apabila seseorang tidak mampu menjawab tiga pertanyaan mendasar maka hidupnya akan dipenuhi kegalauan, kebingungan, kegelisahan dan arah hidup yang tidak jelas. Ketiga pertanyaan itu adalah: Dari mana kita? Untuk apa kita hidup? Dan mau kemana setelah kehidupan?”

Dari mana kita? Dari pertemuan sel sperma dan sel telur yang kemudian terus tumbuh dan berkembang. Di dalam proses kehamilan ini Allah SWT meniupkan ruh kehidupan kepada janin yang terus terjaga sempurna di dalam kandungan sang ibu hingga kemudian terlahir. Singkatnya, kita semula tak ada, kemudian menjadi ada diciptakan oleh Allah SWT, Sang Maha Pencipta.

Untuk apa kita hidup? Ibarat produksi barang elektronik, saat mereka menciptakan produk maka mereka juga menciptakan manualnya. Ikuti petunjuk dalam manual tersebut agar barang elektronik tersebut tidak mudah rusak. Begitu pula saat Sang Maha Pencipta menciptakan alam semesta dan manusia, ia juga menurunkan petunjuknya. Ikutilah petunjuk-Nya maka hidup kita akan terjaga.

Dan salah satu petunjuk-Nya adalah muliakan dan hormati ibumu. Maka orang yang memahami makna ini, ia tidak akan pernah merasa berat saat membantu ibunya. Ia yakin, dengan memuliakan dan menghormati ibunya, ia pun akan dimuliakan penduduk bumi dan penduduk langit. Tidak perlu bertransaksional dengan seorang ibu yang telah melahirkan kita.

Mau kemana setelah kehidupan? Tergantung hidupnya di dunia. Apabila kita mentaati dan mengikuti manual dari-Nya, selamatlah kita. Dan tentu surgalah hadiahnya. Tetapi bagi mereka yang lebih banyak memilih mengingkari dan mengabaikan petunjuk dari-Nya, ia pun harus bersedia menerima konsekwensinya, yaitu ditempatkan ke dalam neraka yang siksanya sangatlah pedih.

Kehidupan abadi setelah dunia memang sangat ditentukan oleh pilihan-pilihan dan tindakan-tindakan kita saat kita di dunia yang sebentar ini. Untuk itu, memilih dan bertindaklah dengan tepat dan bijak untuk segala hal. Termasuk bagaimana kita memperlakukan seorang ibu. Karena perlakukan kita kepada seorang ibu sangatlah menentukan di tempat mana kelak kita di tempatkan. Wallahu’alam…

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di facebook

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.