Tidak Punya Apa-apa

Aris Ananda“Tidak punya apa-apa” adalah sebuah ungkapan yang entah muncul secara verbal atau sekadar melintas dalam pikiran menandai sebuah kondisi mental seseorang yang merasa rendah diri level parah.

“Saya tidak punya apa-apa. Bisnis saya runtuh. Dalam sekejap semuanya hilang karena ditipu seorang rekanan. Bisnis yang saya bangun susah payah selama lebih dari 5 tahun lenyap hanya dalam hitungan hari, malah menyisakan hutang milyaran sehingga bisa dibilang saya dalam kondisi minus .”

Begitu kata seorang pengusaha yang sedang mengalami kebangkrutan. Rasa percaya dirinya runtuh. Dia menyatakan tidak punya apa-apa supaya orang paham dia menderita. Tapi dengan cepat orang lain bisa melihat dia masih punya apa-apa. Perusahaan si pengusaha itu benar tutup, tapi uang pribadinya masih aman. Selain itu, keluarganya masih utuh. Istri dan anak-anaknya bisa menerima kebangkrutannya. Bukankah selama ada keluarga kita sebenarnya tidak kehilangan apa-apa ? Itu saja sudah menunjukkan bahwa masih ada hal berharga yang dipunyainya.

“Saya tidak punya apa-apa sekarang. Sejak saya kena PHK, dunia sepert kiamat. Satu per satu barang saya jual untuk menyambung hidup. Istri saya kabur dengan membawa anak kami. Saya tidak punya apa-apa lagi selain numpang pada orang tua saya.” Kata seorang pegawai swasta umur 40 tahun.

Sepertinya orang ini memang menderita sekali. Hampir mendekati gambaran tidak punya apa-apa yang sempurna ketika dia menyebutkan kehilangan istri dan anak-anaknya. Memprihatinkan memang. Tapi apakah benar tidak punya apa-apa ? Toh dia tetap punya orang tua yang mau memberinya tumpangan hidup. Toh dia mempunyai orang tua yang menyayanginya. Tetap masih bisa didaftar apa saja yang dipunyainya.

Orang yang lain lagi bilang: “Saya tidak punya apa-apa. Begitu kebakaran hebat melanda rumah saya, saya kehilangan semuanya. Bahkan identitas mengenai diri dan keluarga saya ikut lenyap. Saya menjadi bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa” kata seorang bapak yang meratapi nasibnya karena kebakaran hebat di perkampungan padat wilayah Jakarta Pusat.

Kita yang mendengarnya pasti bisa dengan cepat mempercayainya. Kasihan sekali melihat orang hanya mempunyai sepasang pakaian yang dikenakannya dalam situasi telantar. Kita sepakat bahwa ini adalah musibah ekstrem untuk seorang individu, tapi tetap tidak sepenuhnya benar ketika dia mengatakan “tidak punya apa-apa”. Si bapak masih punya kerabat untuk memberi bantuan sekadarnya. Masih mempunyai pimpinan pemerintah daerah yang mengusahakan tempat penampungan. Masih punya reputasi baik sehingga mendapat santunan sewajaranya dari kantor tempat dia bekerja. Masih punya peluang untuk menata hidup meski kesannya begitu lambat.

Teman kita yang lain lagi mengatakan, “Saya tidak punya apa-apa. Begitu keluar dari penjara semua orang menjauhi saya. Istri kembali ke orang tuanya dan tidak bersedia saya temui. Orang tua saya mengusir saya sebagai anak yang telah mencemarkan nama baik orang tua. Bahkan nama baik pun saya tidak punya. Semua orang mencap saya sebagai narapidana.”

Ketika reputasi baik rusak, rasanya memang tidak punya apa-apa. Tapi, dalam situasi seperti itu pun tetap bisa ditelisik bahwa ada sesuatu yang dipunyainya. Dia punya badan sehat untuk memulai peruntungan sebagai pekerja kasar di sebuah tempat. Dia punya kesempatan untuk mengontak para pemuka agama yang bisa memahami pertobatannya. Dia punya kesempatan untuk membuktikan bahwa dia telah berubah.

Keempat contoh di atas adalah pernyataan “tidak punya apa” akibat sebuah pengalaman ekstrem. Kita yang berada dalam situasi normal tak jarang merasa “tidak punya apa-apa” ketika berhadapan dengan orang yang lebih sukses, lebih ternama, lebih banyak prestasinya.

Ketika berhadapan dengan orang-orang sukses itu kita cenderung memandang diri kita “tidak punya apa-apa” dibandingkan dengan mereka. Seakan-akan kita ingin merayakan penderitaan dengan menyatakan “tidak punya apa-apa”. Tapi secara faktual, apakah benar kita tidak punya apa-apa ? Tidak. Secara faktual, banyak sekali yang kita bisa daftar sebagai hal yang kita punyai. Saya sendiri ketika berada dalam situasi “tidak punya apa-apa” saya berusaha mengingatkan diri saya untuk ingat 2 hal mendasar yang saya punya. Pertama, iman (keyakinan bahwa kita dipunyai Tuhan sehingga kita pun mempunyai Tuhan sebagai tujuan akhir kita). Kedua, kreativitas (manusia diberi kemampuan menghasilkan ide-ide baru untuk memecahkan problem dan merealisasikan harapan-harapan).

Sehingga sebelum melontarkan ungkapan “tidak punya apa-apa”, siapkan kertas dan pensil untuk menuliskan apa-apa saja yang memang masih anda punyai. Dan itu banyak !

Aris Ananda

Bagikan:

3 thoughts on “Tidak Punya Apa-apa”

  1. Sahiri says:

    Sebenarnya kita memang tidak punya apa-apa, sebab apa yang ada di diri kita adalah sebatas titipan, yang mana kita tentu sedari awal sudah siap manakala titipan itu di ambil. namun demikian saat titipin di ambil tentu tidak boleh menjadikan kita putus asa dari rahmat-Nya. Keberadaan kita di dunia sebatas memainkan peran yang telah ditentukan durasi waktunya. Tentu akan dilihat siapa yang paling baik dalam memainkan perannya selama di dunia, apakah dia pantas di beri imbalan kebaikan atau diberi hukuman.

  2. Agus Siswoyo says:

    Sebenarnya kita memang tidak punya apa apa.Bahkan kita lahir telanjang.Kemudian kita diberi apa apa oleh Tuhan melalui orang tua kita,pakaian,makanan,pendidikan,sampai dewasa kita bisa punya pekerjaan,punya rumah,punya mobil,punya istri,anak anak.itu semua tidak bisa kita miliki.kita hanya bisa menikmati takkan pernah bisa MEMILIKI bahkan Nyawa kita….

  3. Riski Aditia says:

    share yang sangat bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published.