Tidak Loyalnya SDM Zaman Now, Bagaimana Solusinya?

Share this
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
business training, communication coaching, communication training, corporate training indonesia, finance skill, Inhouse training, interpersonal training, leadership training, marketing training, public speaking, secretary skill
business training, communication coaching, communication training, corporate training indonesia, finance skill, Inhouse training, interpersonal training, leadership training, marketing training, public speaking, secretary skill

Generasi Milenials, generasi millenials –lahir setelah 1980-1990– adalah bahan pembicaraan sehari-hari di dunia kerja. Tentu saja penggunjingnya adalah para atasan mereka, lahir lebih awal dan masuk dalam kelompok generasi X –lahir pada 1965-1980 yang notabene adalah para pengendali korporasi saat ini.

Manajemen strategik sumber daya manusia sudah selayaknya mengikuti dinamika bisnis yang berubah cepat. Dinamika yang terjadi juga menuntut inovasi dengan siklus putar yang makin pendek, sehingga model bisnis korporasi tetap relevan bagi konsumennya.

Bagi korporasi, memperlakukan generasi ini memang perlu trik khusus. Keluhan bahwa generasi ini tidak tahan banting –karena kebanyakan lahir dari keluarga kelas menengah–dan semaunya sendiri, sebenarnya diimbangi dengan kreatifitas tinggi dan inovatif.

Sebaiknya, korporasilah memahami bahwa generasi ini mempunyai potensi besar, dengan mempelajari dan menggunakan pola dan karakter mereka, bukan sebaliknya. Ini adalah sebuah strategi mempertahankan mereka, dan tentu saja menyiapkan sebuah strategi pengelolaan sumberdaya manusia yang melebihi zamannya.

Namun bagi Anda memiliki para leader perusahaan dari generasi X tapi memiliki komposisi SDM milenials yang lebih banyak, ada beberapa karakter yang wajib melekat pada pada diri para leader perusahaan Anda, sebagai leader di zaman now yang bisa menaklukkan SDM milenials.

Pertama, Agile. Makna agile bukan hanya sekedar lincah atau tangkas tetapi juga, cepat, kuat dan berani. Rhenald Kasali menggambarkan agile seperti seekor Singa. Ia mengutip ungkpan dari diplomat Prancis, Maurice de Talleyrand: “Seratus kambing yang dipimpin oleh seekor singa akan jauh berbahaya ketimbang seratus singa yang dipimpin seekor kambing”.

Dunia berubah dengan kecepatan yang semakin meningkat, untuk itu diperlukan ketangkasan, kecepatan, kekuatan dan keberanian. Ia harus memiliki ambiguity acceptance, bersedia dengan lapang dada menerima ketidakjelasan, kemudian menyederhanakannya, mengerjakannya, memperbaikinya dan terus meningkatkannya menjadi lebih sempurna. Terus menerus melakukan perbaikan bahkan tidak segan-segan melakukan perubahan yang mendasar.

Baca Juga  Selesaikan Kesulitan

Apakah leader perushaan Anda apakah termasuk leader yang agile? Apabila belum dan tidak mau menjadi agile, bersiaplah digantikan kids zaman now yang telah siap memimpin generasi yang sudah old dan lamban merespon perubahan.

Kedua, digital mindset. Leader zaman now, perlu menguasai digital leadership yaitu kemampuan untuk melakukan inisiatif mengembangkan teknologi menjadi sesuatu yang punya value yang tinggi. Selain itu, ia juga perlu memiliki digital capability yakni kemampuan menguasai teknologi digital.

Perkembangan yang bisa dipantau secara real time melalui social media, mendorong seorang leader perlu menguasai pengolahan informasi yang berdampak komersial. Para leader sudah harus berani melibatkan generasi milenial sebagai “penduduk asli” dunia digital dalam pengambilan keputusan strategis.

Ketiga, kolaboratif. Perkembangan teknologi tidak bisa dilawan. Apabila tak bisa dilawan maka rangkulah. Saat ini kita saling tergantung antara satu dengan yang lain, dalam kondisi seperti ini kolaborasi adalah kewajiban. Saling tergantung, saling menciptakan keuntungan. Kalau bahasa old generation dulu, win win solution.

Bisnis memang berkompetisi namun harus diimbangi dengan kolaborasi. Bahkan Apple dan Samsung yang saling berkompetisi kini mereka melakukan kolaborasi. Sesama lembaga penerbangan kini juga melakukan kolaborasi, Indonesia dan Etihad juga bekerjasama dalam pemanfaatan mileage. Sesama usaha travel saling support dan membantu melayani pelanggan meski mereka bersaing mendapatkan pelanggan.

Keempat, latih performa bicara tim leader Anda mampu memengaruhi timnya. Syarat untuk mampu menaklukkan generasi milenials ini adalah skill bicara mereka mampu mendatangkan antusiasme untuk meningkatkan produktivitas. Problemnya adalah skill seperti ini tidak banyak orang yang memiliki, membutuhkan pelatihan khusus dengan treatement berbeda pada setiap individunya.
Speak To Change For Leader, program favorit yang sudah digunakan beberapa perusahaan seperti Kementrian Keuangan dan PT Citarasa Prima (warunk upnormal)

Baca Juga  Leader itu Pelatih

Ternyata untuk menaklukkan SDM milenials itu sebenarnya mudah, lakukan empat tahap diatas secara konsisten dan latih skill bicara leader perusahaan Anda. Namun bilamana Anda masih kesulitan, undang kami untuk melatih para leader perusahaan Anda. Detail info silakan kontak di 0812-1331-710 atau 0812-9032-0101.

“Always treat your employees exactly as you want them to treat your best customer”
— Stephen R. Covey —


Share this
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer