Tidak Angker

Pekan lalu saya berkesempatan roadshow ke Purworejo, Jogyakarta, Delanggu dan Sragen.  Kegiatan ini memadukan tiga kepentingan; keluarga, bisnis dan sosial.  Salah satu kegiatan sosial yang saya lakukan adalah memberikan training secara cuma-cuma kepada para penghuni lembaga pemasyarakatan (Lapas) Baharuddin Lopa, Purworejo.

Semula saya berpikir, pasti di dalam Lapas itu angker dan suasananya menengangkan.  Tetapi ternyata saya mendapatkan suasana yang berbeda.  Selain antar penghuni sangat akrab, mereka sangat antusias mendengarkan materi training dari saya, suasananya begitu hidup.  Kita tidak bisa membedakan mana yang dipenjara karena pembunuhan atau karena urusan politik, semuanya menjadi satu. Suasananya tidaklah seangker yang saya bayangkan. Bahkan diantara mereka banyak yang saya lihat meneteskan air mata ketika saya bercerita tentang pentingnya cinta dalam kehidupan.

Saya bertanya-tanya, jangan-jangan yang membuat mereka angker adalah kita yang di luar penjara.  Memberi stempel: jahat, bejat, kasar, tak bermoral dan sebagainya.  Padahal kehidupan itu berproses, orang yang baik tidak selamanya terus baik.  Begitupula sebaliknya, orang yang diputuskan bersalah oleh Pengadilan, tidak selamanya berbuat salah, atau jangan-jangan pengadilanlah yang salah memutuskan.  Saya berbicara dan berdiskusi dengan para penghuni, saya tidak melihat ada kata-kata atau tatapan jahat dari mata mereka. Haruskah kita memberi label “mantan napi” begitu mereka keluar kelak? Jangan-jangan mereka justeru lebih bijak, arif dan lebih baik dari kita setelah mereka keluar dari penjara.

Ibarat baju putih yang terkena tinta, kita sering melihat tinta yang ada di baju itu.  Padahal warna putihnya jauh lebih dominan. Mari biasakanlah melihat warna putih agar kita tidak mudah memberikan stempel negatif kepada orang-orang di sekitar kita, terutama mereka yang pernah dipenjara. Menurut saya, lebih baik orang yang keluar dari penjara tapi berusaha untuk tumbuh normal dan lebih baik daripada kita yang tidak pernah dipenjara tetapi sering memberikan stigma negatif kepada orang lain.

Salam SuksesMulia

Jamil Azzaini, Inspirator SuksesMulia

Bagikan:

2 thoughts on “Tidak Angker”

  1. nice post pak! Jadi inget lagunya ebiet yang kalian dengarkan keluhanku, ‘apakah bila terlanjur salah, akan tetap dianggap salah? Tak ada waktu lagi benahi diri. Tak ada tempat lagi untuk kembali.’

  2. Nice post kek. Saya baca postingan awal kek Jamil 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.