The Power of Kepepet

Tito DewantoSelama 4 hari dari tanggal 5-8 Mei 2014 saya diminta Dinas Pendidikan Kota Bogor untuk membina tim olimpiade Matematika SMA (OSN) Kota Bogor untuk mengikuti OSN Matematika tingkat Propinsi Jawa Barat.

Awalnya saya tidak yakin dan berniat menolak mengingat yang saya bina adalah para siswa juara OSN Matematika Kota Bogor (sebagian besar siswa SMAN 1 sisanya siswa SMAN 2 dan SMAN 3), apalagi setelah melihat soal-soal OSN tingkat Propinsi dan Nasional yang sebagian besar diluar kurikulum, namun akhirnya saya menerimanya dengan 2 alasan,
Pertama karena yang meminta adalah atasan saya Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah saya, Kedua karena saya akan mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas keilmuan saya terutama dalam OSN Matematika.

Saya teringat pernyataan dalam buku The Power of Kepepet karya Jaya Setiabudi yang intinya bahwa dalam kondisi terpaksa atau terdesak seringkali potensi luar biasa seseorang akan nampak terlihat. Semua orang hebat disekitar kita selalu keluar kualitas utamanya karena terdesak atau karena kepepet oleh suatu keadaan. Saya pun menerima kehormatan tersebut dengan maksud sambil menyelam minum air, sambil membina sekaligus meningkatkan pemahaman dan pengetahuan saya tentang materi OSN Matematika.

Saya juga meyakinkan diri saya bahwa saya mampu dan bisa karena sebelumnya saya juga pernah diminta oleh instansi lain untuk membina OSN Matematika, meski untuk level yang lebih rendah yaitu level OSN Matematika SD, yang awalnya juga tidak yakin, namun akhirnya setelah melewati proses yang lama dan melelahkan akhirnya alhamdulillah siswa yang saya bina tersebut tembus di tingkat Propinsi dan juara harapan 1 di tingkat nasional. Namun bagi saya itu adalah suatu pencapaian yang sangat besar.

Saat pembinaan tanggal 5-8 Mei tersebut saya sampaikan kepada para siswa tersebut bahwa forum ini lebih tepatnya disebut forum sharing bukan pembinaan, mengingat mereka adalah para juara OSN, disamping ada soal yang saya ketahui namun ada juga soal yang saya tidak bisa, demikian pula dengan mereka.

Saya sampaikan pula ungkapan George Bernard Shaw tentang the power of sharing, “ If I have an apple you have an apple and we exchange the apple so each of us will have an apple, but if I have a knowledge you have a knowledge and we exchange the knowledge so each of us will have two knowledges’.

Terus terang karena ini pengalaman pertama membina OSN tingkat Kota, maka saya berusaha mempersiapkannya dengan baik. Setiap malamnya selama 4 hari saya harus belajar memahami sulitnya soal OSN untuk saya sampaikan kepada mereka, saya telaah semua buku OSN yang saya miliki, saya juga melakukan netbrowsing dengan harapan di luar sana ada pakar yang sudah membahas soal-soal OSN Provinsi dan Nasional sebagai bahan referensi saya, saya juga mengajak diskusi rekan sejawat bila ada soal yang sulit.

Bahkan saya juga ‘belajar’ dari para siswa cerdas tersebut, dan faktanya memang mereka mampu menjawab soal-soal yang bagi saya awalnya sangat sulit, pokoke segala cara di tempuh. Saya juga ingat pepatah malaysia yang berbunyi, ‘na seribu dayung, ‘ta ‘na seribu dalih’ kalau ada kemauan akan ada seribu cara diusahakan tapi bila tak ada kemauan maka akan ada seribu alasan, dan itu terjadi terutama ketika kita dalam kondisi terpaksa atau terdesak.

Dalam forum tersebut saya merasakan manfaat besar karena saya tidak hanya ‘dipaksa’ untuk membaca dan menelaah soal OSN dari berbagai sumber baik dari segi konsep ataupun variasi soal. Namun saya mendapatkan pelajaran lain bahwa saya harus menciptakan ‘keterdesakan’ atau ‘keterpaksaan’ tersebut sesering mungkin atau seawal mungkin sehingga potensi terbaik akan terus menerus teroptimalkan dan akan siap kapan saja bila sewaktu-waktu di minta lagi.

Well, Saya berharap para siswa juara OSN Kota Bogor untuk lebih meningkatkan lagi motivasinya , dan jangan cepat merasa puas untuk terus berlatih dan belajar agar berhasil pada OSN Matematika level Provinsi dan Nasional yang akan diadakan pada awal bulan Juni ini dan sekaligus menjadi kebanggaan Kota Bogor.

Tito Adi Dewanto

Bagikan:

9 thoughts on “The Power of Kepepet”

  1. Tapi lebih baik mengejar kesempatan daripada dikejar/dipepet kesempatan. 😀

    1. Betul mas Selamet. Tapi saya kira mengejar kesempatan sama dengan tulisan diatas ‘bahwa saya harus menciptakan ‘keterdesakan’ atau ‘keterpaksaan’ tersebut sesering mungkin atau seawal mungkin sehingga potensi terbaik akan terus menerus teroptimalkan dan akan siap kapan saja bila sewaktu-waktu di minta lagi’.

  2. Taufik says:

    Bagus sekali tulisannya Pak Tito. Saya selalu kagum dengan guru yang senang sharing dengan muridnya. Nampak dan terpancar kenikmatan saat mereka membagi ilmu dengan muridnya. Semoga dilancarkan kan dalam tugasnya. Salam

    1. Terima kasih atas tanggapannya mas Taufik. Salam Kenal

    1. Thanks mbak Amanda. Semua tulisan mbak Amanda juga kerON2 semua.

  3. Dirimu memang hebat, ayo sering2 keluar kandang mas 🙂

    1. Tapi tidak sehebat mas Jamil yang sudah berkaliber Internasional. Mohon bimbingannya mas Jamil.

  4. Ruangguru says:

    keren sekali mas! semoga anak-anak semakin berjaya di Olimpiade baik tingkat SD-SMA hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.