Terkadang Kita Perlu Tuli

karir.jpg

Bila selama hidup kita selalu mendengar ucapan orang tanpa punya pendirian maka hidup kita akan berantakan. Lakukanlah sesuatu karena pilihan dan kesadaran Anda bukan karena “omongan” orang. Sebab apapun yang kita lakukan pasti ada yang memberi komentar bahkan mungkin cacian.

Dulu, ketika saya memilih ingin fokus di PNS alias menjadi abdi negara, teman-teman saya banyak yang mencela. Ada yang bilang, “Gak bakal kaya kamu, kecuali kamu korup.” Tapi saya punya banyak bukti bahwa banyak juga pegawai negeri yang kaya tanpa harus korupsi. Saya tidak tergoda dengan ledekan teman saya. Saya memutuskan keluar atas pilihan dan kesadaran saya.

Saat saya bersama mas Erie Sudewo dan kawan-kawan berhasil mengembangkan dan memajukan Dompet Dhuafa Republika, ada juga yang berkomentar, “Malu ah, kamu hidup cukup tapi pakai uang zakat dan sedekah. Itu uang untuk orang miskin.” Saya bertahan dan terus mengembangkan lembaga ini selama 12 tahun. Saya punya alasan, “Kan, ada hak amil (pengelola).” Saya memutuskan keluar atas pilihan dan kesadaran saya.

Ketika orang tahu bahwa saya juga punya beberapa bisnis, ada beberapa yang komentar, “Gak mungkin bisnismu maju kalau gak suap sana dan suap sini.” Saya pun balik bertanya kepada mereka, “Anda pernah bebisnis?” Saya menjalani bisnis tanpa harus suap kanan-kiri dan alhamdulillah bisnisnya tetap berjalan. Bahkan “haram” hukumnya di perusahaan kami menyuap atau menerima suap.

Perusahaan kami sering menang tender tanpa harus memberi “amplop” atau menyuap orang-orang di perusahaan atau institusi yang menjadi calon klien. Sampai sekarang saya masih punya beberapa bisnis bahkan akan terus saya tambah.

Begitupula saat saya terjun di dunia training. Ada juga yang berkomentar, “Insinyur pertanian kok jualan abab (omongan)?” Ada juga yang sinis, “Inspirator itu kebanyakan ngomong tapi jarang action. Hobinya teriak-teriak di atas panggung.” Yang lebih sinis lagi ada yang berkata, “Sok alim, hidupmu belum sempurna saja sudah berani nasehatin orang.” Padahal, sampai meninggal pun tak ada orang yang sempurna. Hehehe…

Celotehan mereka saya jadikan cambuk untuk terus belajar ilmu pengembangan diri dan memperbanyak amal nyata yang memberi manfaat kepada banyak orang. Saya akan terus berjalan dan melangkah berbagi inspirasi melalui dunia training.

Andai semua omongan orang saya dengar, mungkin kehidupan saya tidak sampai pada titik seperti yang saya jalani sekarang. Saya sudah menemukan “karpet merah” saya untuk terus berjalan dan melangkan serta berproses menuju puncak kehidupan terbaik SuksesMulia yang tertinggi.

Hidup terkadang memang perlu tuli dari suara-suara negatif yang berseliweran di sekitar kita.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di FB

Bagikan:

6 thoughts on “Terkadang Kita Perlu Tuli”

  1. Emi Afrilia says:

    Itulah gunanya filter dlm diri untuk menyaring omongan yg masuk ke telinga. Puja puji dr orang tidak melenakan apalagi membuat tinggi hati. Kritik dan cacian tidak membuat kita jadi lemah apalagi sedih tapi jadi lecut utk terus memperbaiki diri, betul gak kek jamil?

    1. Jamil Azzaini says:

      Betul…

  2. gazalie rachman says:

    “Perlu sedikit tuli…”

  3. Lailatul Hamidah says:

    Itu yang sering saya alami, berusaha untuk tuli dengan yang negatif kek 🙂

  4. Rudi hermawan says:

    Mantaf kek, terimakasih

  5. irawan says:

    Ternyta msh ad juga yg om yg krja jujur seprti ni, salut bngt buat om 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.