Terbang Buta ke Akherat


Share pelajaran berharga dari Prof.Dr.Ing.Fahmi Amhar :

Perjalanan kita ke akherat itu mirip pilot yang sedang terbang buta, terbang malam hari menembus kepekatan awan cumulonimbus. Dia tidak bisa melihat apa-apa yang ada di depan. Dia juga tidak bisa mencoba dua kali manakala gagal. Karena waktu tidak bisa mundur. Maka apa yang ada di akherat yang bisa kita masuki setiap saat, itu juga tidak bisa kita lihat dengan mata kita, dan hidup juga tidak bisa kita ulang jika kita telah mati.

Satu-satunya yang dapat dipegang oleh pilot adalah instrumen, yaitu radar, GPS, INS, alat komunikasi ke ATC dan flightplan yang sudah diupdate dengan data cuaca terbaru. Sebelum berangkat, seorang pilot harus meyakini bahwa semua instrumen dan data itu akurat. Kalau dia ragu, lebih baik dia jangan terbang. Keputusan ada di pilot.

Demikian juga, dalam terbang buta ke akherat, ketika kita tidak bisa melihat apapun yang menunggu di sana, satu-satunya yang dapat kita pegang adalah informasi dari sana, seperti Kitabullah dan Sunnah Rasul. Karena itu, menjadi taruhan kita untuk meyakini informasi akurat dari akherat itu. Boleh jadi di dunia ini ada “berbagai tawaran instrumen dan data akherat”. Ada yang “murah”, ada yang “mahal”. Ada yang “top-quality”, ada yang “kw”. Tugas kita untuk menguji, mana yang pantas kita imani. Inilah thoriqul iman untuk mencapai aqidah. Dan kalau itu sudah kita imani, kita tidak perlu ragu untuk “terbang buta malam hari menembus awan cumulonimbus”.

Bedanya dengan pilot, seorang pilot bisa menolak terbang kalau dia ragu. Tetapi kita tidak bisa menolak terbang ke akherat. Kita ragu ataupun yakin, pesawat yang bernama usia memaksa kita untuk terbang ke sana. Tinggal pilihan kita, mau memakai instrumen dan data yang mana …

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published.