Tamu Istimewa

Mas WantikDi rumah, saya sering mendapat kunjungan ‘tamu istimewa’. Bukan orang kaya atau terkenal, bukan pula orang yang punya jabatan tinggi. Tapi ini sebaliknya. Orang sakit yang butuh biaya untuk berobat, orang yang terlilit hutang harus segera bayar. Atau orang yang butuh dana untuk membayar ujian anaknya. Dan biasanya masih banyak lagi lainnya.
 
Semoga saya selalu diberikan kesempatan untuk terus bertemu dengan mereka. Karena saya bersyukur dan merasa beruntung dengan seringnya dapat ‘tamu istimewa’ itu. Bisa jadi inilah cara saya untuk bisa hidup memuliakan mereka. Dengan cara membantu bagi mereka yang terkena musibah atau membutuhkan bantuan dana.
 
Padahal banyak sekali orang yang jauh lebih mampu dari saya. Terhadap kehadiran tamu istimewa ini saya termasuk orang yang paling tidak bisa berkata ‘tidak’. Saya tetap berusaha bagaimana caranya membantu mereka tanpa meninggalkan tujuan mendidik mereka.
 
Kali ini tamu istimewa saya adalah seorang anak muda tetangga desa saya. Namanya Tarto, umur 21 tahun. Saya tahu persis seperti apa masa kecil hingga deawasanya Tarto ini. Dia lahir dari keluarga yang tidak mampu. Ayahnya sudah meninggal sejak dia masih bayi. Tinggalah dia dengan ibu dan satu kakaknya. Sudah lama ibunya jatuh sakit dan harus rutin berobat ke rumah sakit. Kakaknya bekerja di pabrik yang hasilnya hanya cutup untuk makan dia sendiri dengan ibunya. Bisa dikatakan Tarto bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
 
Tarto kini bekerja dengan berjualan di warung angkringan di Juwiring Klaten. Dia menyewa tempat di sana. Belum lama ini dia mendapat ujian. Sepulang bekerja dia ditabrak orang dan pelakunya kabur. Dia sempat pingsan beberapa saat lalu dirawat di rumah sakit selama sehari semalam. Untungnya hasil rontgen dan CT Scan dia dinyatakan tidak apa-apa. Namun, motornya rusak lumayan parah.
 
Tarto langsung mengutarakan maksud dan tujuan dia datang ke rumah saya. “Saya mau pinjam uang ke njenengan Pak,” kata Tarto. Langsung saya tanya dia,” Berapa Le?”. Di kampung saya sering menggunakan sebutan ‘thole’ untuk anak-anak muda yang umurnya jauh di bawah saya. Dan ternyata mereka senang jika saya memanggil mereka dengan ‘thole’ karena merasa disayang oleh yang lebih senior. “Saya mau pinjam 2 juta Pak,”lanjut Tarto. Segera saya tanya dia,”Koq banyak banget, untuk apa?”, tanya saya.
 
Rupanya uang sebanyak itu akan digunakan untuk keperluan menikah dan sebagian memperbaiki motornya yang rusak.”Saya mau menikah Pak, besok tanggal 31 Desember. Uang tersebut akan saya gunakan untuk membeli perlengkapan nikah dan biaya lainnya. Saya juga butuh uang untuk servis motor saya yang rusak akibat tabrak lari kemarin. Karena motor rusak, saya sekarang tidak bisa bekerja untuk belanja kebutuhan warung saya. Habis tahun baru akan saya kembalikan Pak”.
 
Mendengar penuturan Tarto ini saya menghela nafas panjang,”Ya Allah, anak ini yatim sejak bayi, saya tahu persis seperti apa masa kecilnya. Sekarang dia mau menyempurnakan Islamnya tapi tidak punya uang. Ibu, satu-satunya orang tua yang dia punya sekarang sakit dan sudah tidak bisa bekerja. Kakaknya tidak bisa membantu. Anak ini harus ditolong. Saya tahu bener dia anak yang tidak neka-neka”.
 
Saya tanyakan ke Tarto, apakah niat menikah ini sudah disampaikan kepada keluarga yang lainnya. Dijawabnya sudah, dia tinggal punya keluarga yakni budhe, kakak dari ibunya saja. Diapun tidak bisa membantu karena keadaannya juga setali tiga uang dengan ibunya. Budhenya hanya bisa mendoakan semoga nanti proses pernikahannya lancar.
 
“Besok tanggal 31 saya minta tolong Bapak antar saya ke Klaten, saya tidak mengundang banyak orang. Dari sini hanya sekitar 10 orang saja. Di keluarga calon istri saya juga tidak ada resepsi besar-besaran. Hanya mengundang 1 RT saja. Habis ijab qabul dilanjut acara sederhana, sudah cukup”, terang Tarto dengan suara terbata-bata, kurang lancar. Saya iyakan undangan Tarto ini.
 
Belum terlaksana saja saya sudah merasa sangat bahagia bisa mengiyakan permintaan Tarto. Saya lihat dia merasa lega dengan jawaban yang saya berikan. “Ya Le, insya Allah besok tanggal 31 aku bisa antar kamu ke Klaten”, jawab saya mengakhiri pertemuan malam itu.
 
Dalam hati saya berdoa,”Ya Allah lancarkanlah acaranya Tarto, jadikanlah keluarganya bahagia di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak. Aamiin.
 
 
Tulisan dikirim oleh Mas Wantik

Bagikan:

5 thoughts on “Tamu Istimewa”

  1. Subhanallah.. berbagi memang selalu indah dan mengispirasi..

    Makasih atas ceritanya Mas..

    Salam Sukses Mulia

  2. Terharu mas dengan ceritanya. Moga mas Wantik makin berlimpah hartanya, semakin manfaat hidupnya.

    Mas Tarto, jadi keluarga sakinah mawaddah warohmah. Moga dimudahkan & dilapangkan rejekinya.

  3. Salut mas, saya peluk dari jauh. Bangga padamu

  4. Didit Widiana says:

    Terima kasih mas atas berbagi ceritanya yang bermanfaat.
    Senasib mas Wantik, saya juga suka kedatangan tamu istimewa.
    Tapi sebenarnya kita yang membutuhkan mereka. Bersyukur rumah kita kedatangan tamu seperti itu.

    Semoga kita semua dapat terus istiqomah berbagai kebagikan. Aaamiiin.

  5. Subhanallah, saya selalu tersentuh saat membaca artikel mas Wantik yang sarat dengan ilmu dan menebar manfaat ke sesama. Semoga Allah senantiasa memuliakan dan memberikan barokah kepada mas Wantik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.