Tak Perlu Ijazah

Ir Soekarno, presiden RI pertama, mengisahkan pengalaman yang menggugah ketika beliau di wisuda di Technische Hoogeschektor Hoogeschool (sekarang ITB). Ketika Rektor menyerahkan ijazah insinyur kepada Bung Karno, secara mengejutkan Rektor berkata,”Ir Soekarno, ijazah ini suatu saat dapat robek dan hancur menjadi abu. Dia tidak abadi, ingatlah bahwa hal yang abadi adalah karakter seseorang dan ilmunya. Atas ucapan tersebut bung Karno mengatakan, “Kenangan terhadap karakter dan ilmu itu akan tetap hidup, sekalipun dia mati. Aku tak pernah melupakan kata-kata ini”.
 
Ijazah atau sertifikat merupakan hal yang penting sebagai bukti bahwa kita sudah memiliki kompetensi tertentu yang diakui. Apalagi di tengah masyarakat yang masih ‘mendewakan’ sertifikat atau ijazah tentu kepemilikan ijazah dan sertifikat mutlak diperlukan. Kadang-kadang ada orang yang membabi buta mengambil jalan pintas yaitu dengan membeli ijazah atau sertifikat, tanpa memperdulikan apakah memiliki kompetensi tersebut atau tidak.
 
Ketika kita di anugerahi suatu ijazah atau sertifikat tertentu, sebenarnya itu merupakan suatu legalitas bahwa kita memiliki kompetensi yang diakui karenanya hal itu mesti menjadi dorongan kuat pada diri kita untuk menguasai kompetensi tersebut. Jangan sampai terjadi kita dianugerahi sertifikat yang menyatakan bahwa kita ahli dalam bidang tertentu tapi ternyata kita malah tidak bisa apa-apa. Ada rekan saya yang lulus jadi sarjana teknik mesin tapi dia sama sekali buta terhadap mesin, sungguh sangat disayangkan.

 
Ketika kita mengikuti suatu kuliah atau training tertentu kita mesti bertekad untuk dapat menyerap ilmunya dengan mempraktekkannya sebisa mungkin, jangan hanya sekedar berharap sertifikat/ijazah saja. Untuk menjadi expert tak perlu ijazah.

 
Saya memiliki kiat tersendiri agar dalam setiap materi pelatihan/kuliah/khotbah agar bisa terserap ilmunya yaitu dengan menjadikan materi tersebut sebagai ilmu yang harus kita sampaikan (transfer) lagi kepada orang lain sehingga kita benar-benar bersemangat menyimak setiap materi yang disampaikan dan terhindar dari rasa kantuk atau malas apalagi bila materi tersebut materi yang sesuai dengan passion kita atau materi gue banget.
 
Kiat lain adalah dengan menerapkan HKE (Hukum Kekekalan Energi) bahwa yang saya dapat harus sesuai dengan yang saya keluarkan, saya telah bayar mahal untuk kuliah atau untuk mengikuti training ini sehingga saya harus mendapat ilmu setara dengan yang saya keluarkan, serta berusaha untuk mempraktekan ilmu tersebut..

 
Dalam WBT 11 lalu juga saya bertekad menyampaikan kembali semua materi dari mas Jamil dan fasilitator mas Aidil kepada orang lain dengan sedikit modifikasi tentu saja atau ATM (Amati Tiru dan Modifikasi). Sehari pasca WBT, kebetulan saya ditawari untuk mengisi training LDK kepada siswa SMA dan langsung saya iyakan meski belum jelas materi apa yang akan saya sampaikan, tapi minimal kepercayaan diri saya sudah semakin meningkat untuk tampil menjadi trainer pasca WBT.

 
Lantas bagaimana kalau kita terlanjur kuliah pada bidang tertentu tetapi kita merasa tidak sesuai dengan minat kita, sementara kita pun belum mengetahui bakat kita sesungguhnya apa, maka saran saya cobalah cintailah setiap pekerjaanmu sekarang. Niscaya bila engkau merasa enjoy dan tumbuh. Anda calon orang hebat sehebat orang yang berbakat”.

 
 
Bila di sodori pilihan mau sertifikat saja atau ilmunya ? Tentu saya akan memilih ilmu dan sertifikat. Tapi kalau pilih satu saja, maka saya akan memilih ilmu dari pada sertifikat. Artinya tidak Karena dengan memiliki ilmu kita akan dapat survived di tengah kerasnya kehidupan.

 
Alkisah Tono adalah seorang pekerja pembuat jagung bakar disebuah restoran.Dia bekerja sudah lama. Suatu ketika, manager restoran tersebut membuat peraturan yang mengharuskan pegawainya minimal punya ijazah SMA. Tak pelak,hal ini membuat Tono pusing 7 keliling karena Tono cuma tamatan SD.
 
Singkat cerita Tono pun memundurkan diri karna sudah nggak mungkin lagi sekolah sampai lulus SMA. Tono pun pulang kerumah dan menceritakan kepada anak istrinya. istrinya kaget,namun istrinya punya ide. Atas ide istrinya, Tono berjualan jagung bakar didepan rumahnya,karena menggunakan resep jagung bakar direstoran tempat dia bekerja sebelumnya. Jagung bakar buatan Tono terasa sangat enak dan disukai pembeli.
 
Setiap hari pembeli semakin banyak dan Tono memutuskan membuka cabang. Semakin hari usahanya tumbuh pesat dan Tono membuka banyak cabang dan menambah pegawai baru.
 
Akhirnya bisnis jagung Tono makin laris. Kini secara kekayaan Tono sukses, punya mobil, rumah gede dan bisa menyekolahkan anaknya ke bangku kuliah. Akhirnya anaknya lulus dan diwisuda, Tono dan istrinya menghadiri acara wisuda anaknya. Disaat tersebut Tono ditanya oleh dosen anaknya.
 
Dosen: Bapak kerja dimana?
Tono: di rumah saja,jualan jagung bakar.
Dosen: ijazah bapak apa?
Tono: SD pak.
Dosen: Hanya lulus SD bisa membuat anak bapak sarjana, mungkin kalau bapak lulus SMA, anak bapak udah jadi profesor.
 
Tono: kalau saya lulus SMA, mungkin saya tetep bekerja sebagai pegawai resto yang gajinya pas-pasan. Dan mungkin anak saya gak bisa kuliah.
 
Dosen:# terdiam
 
 
Tulisan dikirim oleh Tito Dewanto

Bagikan:

34 thoughts on “Tak Perlu Ijazah”

  1. Denni Candra says:

    Setuju sekali mas, jangan sampai kita menggadaikan kehidupan dan masa depan kita kepada selembar kertas yang bernama ijazah. Memang tak dapat dipungkiri kalau saat ini ijazah/sertifikat itu penting, tetapi hendaknya jangan dijadikan sebagai patokan berilmu atau tidaknya seseorang. Ibarat masakan hendaknya ijazah/sertifikat itu hanya sebagai bumbu pelengkap untuk pemanis bukan sebagai bahan racikan utama.

    Salam SuksesMulia

    1. Betul mas Deni ijazah itu hanya sebagai bumbu pelengkap untuk pemanis bukan sebagai bahan racikan utama. Ilmu yang utama sementara ijazah sebagai npelengkap.

  2. princess amanda @holistic_center says:

    kerOn…
    bener banget sy juga klw disuruh milih ilmu atau ijasah sy mah pilih dua2nya…tp jikapun hny ilmu saja tanpa ijazah..sy pun akan tetap mengejar ilmunya….

    alhamdulillah sy beruntung kuliah sesuai dengan passion sy…

    tulisannya keren bgt mas tito…
    murid grandpa jamil gitchu looh…

    salam suksesmulia…

    1. Iya saya beruntung ikut WBT kemarin karena di bimbing langsung oleh pakarnya mas Jamil (dari dulu saya biasanya manggilnya mas Jamil biar awet muda, meski ilmunya sangat dalam).

  3. Tulisan ini benar-benar keren, menunjukkan kualitas penulisnya. Ayo segera jadi trainer profesional mas. salam SuksesMulia

    1. Terima kasih mas Jamil. Saya mah belum ada apa-apanya di banding mas Jamil. Mohon bimbingannya mas Jamil, kalau memungkinkan saya mau silaturahmi ke rumah mas jamil nanti untuk memperdalam ilmu training.

      1. Dengan senang hati mas, semoga waktunya ada yang cocok dan pas

  4. Muantep! Saya paling suka jawaban Pak Tono ke dosen anaknya. Jawabannya menunjukkan pemikiran yang sangat matang & tidak basa-basi.

    1. Betul mas Rosyadi, jawaban apa adanya bukan ada apanya.

  5. Orang bijak ada yang berkata, “do what you love” sehingga kita bisa benar-benar total menghasilkan hal positif dari apa yang dikerjakan, karena yang kita lakukan adalah sesuatu yang kita cintai.

    Lanjutannya “and love what you do”, mencintai setiap hal yang kita lakukan, Insha Allah akan menimbulkan keikhlasan, hingga yang semula dirasakan sempit menjadi lapang. Yang semula dirasakan terpaksa melakukan, menjadi begitu menikmati apa yang dilakukannya.

    KerON mas tulisannya, salam kenal dan salam suksesmulia…

    1. Salam kenal juga mas Andy. Salam Sukses Mulia

  6. Walo ceritanya pernah saya denger tapi tulisan ini benar-benar menggugah! Membangunkan saya yg selama ini buta ijazah. Mas Tito pantas jadi trainer profesional 🙂

    1. Terimakasih mas Dindin, mudah-mudahan terkabul keinginan saya menjadi trainer profesional.

  7. mantap.. mencerahkan.. 😀

  8. Mas Wantik says:

    Subhanallah, makasih pak Tito ilmunya, sgt inspiratif….

    Kebetulan sy kenal baik dg pak Tito di WBT#11 lalu walaupun tdk satu kelompok, dari tutur katanya yg ramah dan mengesankan, sy yakin pak Tito bs jd motivator yg handal

    Slmt berjuang pak, salam hangat dari SOLO

    http://maswantik.com

    1. Apa kabar mas Wantik ? .Tulisan mas Wantik juga sangat inspiratif terutama I love my job.

  9. Indra fernanda says:

    kerON biangeeet… 🙂
    I like it

  10. senang membaca tulisan ini,.. serasa mendapat pembenaran ketika saya memutuskan sebaiknya menyobek saja ijazah sarjana dari UGM yg saya dapatkan selama 8 tahun 3 bulan kuliah di Yogyakarta… alhamdulilah, keputusan Sobek Saja Ijazahmu adalah keputusan yang sangat benar,… sebab, kita tidak boleh percaya sama Ijazah, sekali saja percaya sama Ijazah, sama artinya itu musyrik,… percayalah kepada Allah SWT,, bukankah demikian kawan?

    1. Loh kenapa disobek ijazahnya mas? Bukankah ijazah perlu untuk melanjutkan kuliah, untuk mengurus sertifikasi dll, disamping itu sebagai bukti legal bahwa kita sudah memiliki kompetensi pada bidang tersebut. Keberadaan ijazah yang kita pegang juga sebagai dorongan kuat pada diri kita untuk menguasai bidang tersebut, malu kan misalnya bila kita ijazahnya lulusan sastra inggris tapi kita tidak bisa bahasa inggris sama sekali. Dalam artikel ini saya menekankan untuk lebih mementingkan ilmu ketimbang ijazah, tapi tetap ijazah perlu kita miliki. ‘Bila di sodori pilihan mau sertifikat saja atau ilmunya ? Tentu saya akan memilih keduanya ilmu dan sertifikat. Tapi kalau pilih satu saja, maka saya akan memilih ilmu dari pada sertifikat. Karena dengan memiliki ilmu kita akan dapat survived di tengah kerasnya kehidupan.’

      1. pertama, kata om bob sadino, pelajaran di sekolah itu ilmunya sampah. jadi ijazahnya juga sampah, jadi disobek saja dan dibuang ke tong sampah. kedua, nabi muhammad nggak pernah punya ijazah, tapi hidupnya mulia. makanya bill gate dan mark zukenberg dan steve jobs ngikutin perilaku nabi muhammad deh, nggak mau punya ijazah apalagi gelar tertera di ijazah, sehingga akhirnya sukses mulia juga. ketiga, memang kita nggak boleh percaya sama ijazah, apalagi percaya bahwa ijazah itu bisa menjamin masadepan, wah itu namanya musyrik deh… krn percaya itu hanya boleh pada Allah SWt jangan sampai menduakan Allah sama ijazah… lagipula kalo saya sih gelar ijazah memang tidak penting, yang penting adalah gelar barang dagangan seperti yg dilakukan Khadijah dan Muhammad sepanjang hidupnya,… sampai hari ini meskipun nggak bisa bahasa ingris, nggak punya ijazah sastra ingris, tetep bisa sampe ingris kok. sedangkan dosen-dosen sastra ingris yg gelarnya berjibun dan percaya betul gelarnya adalah masa depannya malah sampe tua belum pernah ke ingris… absurd kan? makanya sama adik-adik kelas, saya selalu bilang, kuliahlah tapi begitu wissuda langsung Sobek Ijazahmu. itu baru namanya lelaki sejati… hahahahaha

        1. Dina Aftani says:

          Pemikirannya mas among memang AJAIB…
          kagum deh sama prinsipnya, pengen bakar ijazah juga tapi takut emak murka :))
          Pokoknya saya setuju bahwa ijazah tidak boleh kita imani…
          aku saja yang alumni akuntansi sekarang malah jualan produk perawatan rambut tetap bisa survive dan hidup nyaman kok…

  11. mantap jaya….
    Ijazah bkn barang yg wah.. yg penting sdhkah ilmu it brmanfaat unt org lain

    salam dari jogja..

    1. Betul yang penting ilmu yang bisa memberikan manfaat buat orang lain.

  12. BisnisBajuYuk says:

    Tulisan yang sangat menyadarkan betapa ilmu lebih penting dari ijazah yang hanya selembar kertas…

    1. Semoga bisa menginspirasi dan bermanfaat tulisan ini.

  13. heri smile says:

    kereeennn, setuju.

    Ini baru lulusan WBT, apalagi ikut TBn C. mantap surantap, jos markojoss, sip markusip heheehe

    salam smile

    1. Pengen bgt sih mas Heri, tapi belum ada dananya saat ini.

  14. Ramon says:

    Seorang sarjana tapi tidak menguasai ilmunya adalah memalukan,
    tetapi seorang bukan sarjana yang expert melebihi sarjana adalah membanggakan.

    Ijasah mengingatkan kita akan tanggung jawab ilmu yang harus dikuasai.

    1. Setuju mas, lebih baik expert yang melebihi sarjana. Mantap bro.

  15. andriansyah says:

    Benar Mas Tito, Kadang Ijazah membuat kita berhenti belajar karena puas…ternyata….saat kita Menerima Ijazah dan berhenti Belajar,,, maka program pembodohan mulai di install dalam mindset pikiran kita…

    1. Betul saya setuju mas Andriansyah.

  16. Dina Aftani says:

    Saya setuju dengan tulisan mas tito semakin hari rasanya Ilmu yang tepat lebih penting daripada ijazah.
    * Curhatan dari alumni akuntansi yang sekarang malah jualan produk perawatan rambut :)) *

    1. Yah kadang yang kita inginkan berbeda dengan kenyataan yang ada. Tapi selama kita bisa bersyukur niscaya kita merasa enjoy dengan apa yang kita kerjakan sekarang.

  17. Aditya says:

    Kerooon… SO INSPIRING…!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.