Tak Mungkin Terbalas

Dua hari ini saya sakit gigi. Rasa sakitnya luar biasa. Saya yakin yang menyanyikan lagu “dari pada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini…” pasti belum pernah sakit gigi. Saya pernah sakit hati, diputus oleh tunangan saya.  Sakit? Iya, tapi rasanya sakit gigi ini jauh lebih sakit.

Sakit gigi bukan hanya giginya yang sakit, badan ikut meriang, mata pun ikut menangis. Beda dengan ketika mata saya “keculek” yang sakit hanya mata, gigi saya tidak ikut merasakan sakit. Begitulah kalau kita ibaratkan anak dan orang tua. Gigi saya ibaratkan anak dan orang tua saya ibaratkan mata.

Saat anak sakit, orang tua ikut merasakan sedih dan menangis. Namun ketika orang tua sakit terkadang seorang anak masih sibuk bekerja bahkan mengeluh saat harus menunggunya di rumah sakit. Seorang ibu, saat hamil, rela menggendong anaknya berbulan-bulan, tapi saya yakin tak ada seorang anak yang tahan menggendong ibunya walau hanya satu hari.

Seorang ayah rela bermandikan keringat, bekerja keras, pergi jauh ke luar kota mencari nafkah demi biaya sekolah atau kuliah anaknya. Namun betapa banyak seorang anak yang mengeluh saat harus membantu biaya pengobatan orang tuanya. Orang tua rela memandikan dan “nyebokin” anaknya setiap hari tetapi banyak anak yang mengeluh saat harus memandikan dan “nyebokin” orang tuanya yang telah renta.

Memang, cinta kasih orang tua tak mungkin mampu kita balas. Sekeras apapun kita berupaya, sebesar apapun yang bisa kita berikan kepada mereka, itu semua tidak ada seujung jari jasa orang tua kepada kita. Sungguh terlalu bila kita tidak berupaya membahagikan mereka. Sungguh durhaka bila hanya sekadar berkirim doa untuk merekapun kita sudah lupa.

Berusaha keraslah untuk membahagiakan orang tua. Bukan hanya berkata “saya ingin” tapi buktikanlah dengan tindakan nyata bahwa Anda sedang berjuang sungguh-sungguh membahagikan mereka. Jangan terlambat, karena waktu terus bergerak. Jangan sampai nanti Anda menangis tersedu di samping jenazah orang tua tercinta, menyesal karena banyak hal yang belum Anda lakukan untuk mereka.

Sakit gigi ini telah menyadarkan saya, betapa cinta, pengorbanan dan perhatian orang tua sangatlah luar biasa. Mereka sangatlah layak mendapat cinta terbaik dari kita, tentu setelah cinta kita kepada Allah dan Rosul-Nya.

Sambil menahan rasa sakit gigi ini, kukirimkan doa terbaik untuk mereka. “Ya Allah ampuni semua dosa yang pernah mereka lakukan. Cintailah mereka sebagaimana mereka mencintai kami di waktu kecil. Jadikan kami kelak hamba-Mu yang bersama-sama bisa memeluk nabi-Mu di tempat yang abadi dan terpuji…”

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

4 thoughts on “Tak Mungkin Terbalas”

  1. miftakhus surur says:

    Allah lindungi ibu ku dikampung yang jauh dari tempatku merantau. Sayangi ayahku yang lebih jaun dialam sana.
    Pertemukan kami disurgaMu kelak.

  2. Haqiqi Silmaduri says:

    Usaha sy utk mreka msh bukn ap2..

  3. anan prayz says:

    “Ya Allah ampuni semua dosa yang pernah mereka lakukan. Cintailah mereka sebagaimana mereka mencintai kami di waktu kecil. Jadikan kami kelak hamba-Mu yang bersama-sama bisa memeluk nabi-Mu di tempat yang abadi dan terpuji…”

    Aamiin.

  4. semoga kita semua mampu membahagiakan Orang Tua, keluarga dan semuanya…

    😀
    Salam SuKsesMuLia!

    SelametHariadi

Leave a Reply

Your email address will not be published.