Tak Cukup Berbicara

Tak-Cukup-Berbicara-e1384039385846.jpg

Fadzrul AfyanMenjadi seorang pembicara itu tidaklah semudah yang dibayangkan, tak hanya sekedar bertutur kata. Tapi juga memadukan antara ilmu dan pengalaman untuk dipadukan, ilmu sebagai solusi dari masalah yang telah kita alami. Terkadang kita mudah untuk menasihati tapi tak mudah mudah menjalankan nasihat, itu salah satu faktor hambatan untuk menjadi seorang pembicara.
 
Pembicara bukanlah guru yang mengajari, tapi pembicara adalah fasilitator untuk saling berbagi. Mentor disuatu forum untuk saling berdiskusi, tanpanya tak akan stabil sebuah diskusi. Bahkan bisa runyam saling emosi.
 
Pengalaman besar dan pertama kali yang selalu membekas dalam ingatanku, yaitu saat menjadi seorang pemandu di suatu mini kursus. Diusia belia saat itu aku diberikan tanggung jawab untuk menyampaikan materi mengenai akhlak. Walaupun tak langsung bersentuhan dengan akhlak, tapi setidaknya materi ini merupakan How To Make Akhlaqul Karimah.
 
Tak mudah bagi pelajar yang baru menginjak jenjang SMA untuk berbicara menyampaikan materi demikian, walaupun berbicara di depan peserta yang hampir setengahnya 3 tahun lebih tua dari aku. Awal sih, sedikit ragu. Karena menyampaikan materi, aku harus siap menerima konsekwensinya untuk menjadi panutan. Apa yang aku sampaikan, harus aku jalankan juga. Bukan omong doang.
 
Fiuh! Ternyata tidak mudah. Kenyataannya akhlakku tidaklah seperti yang aku sampaikan. Aktifitas memasuki lingkungan SMA, membawaku cukup liar. Tak ada teguran. Tak ada arahan. Yang harusnya menjadi contoh, malah sebaliknya. Aku menjadi pemalas, seringkali berucap kasar ke orang lain. Dan parahnya aku menjadi pecandu rokok.
 
Inilah membuatku galau. Batinku rasanya tersiksa. Dan rasanya aku ingin menyudahi menjadi pemandu kursus. Karena ada beban mental dalam hati ini.
 
Dalam kegalauan tersebut, mengadu pada ibuku. Aku ingin mengakhiri saja menjadi pemandu kursus How To Make Akhlaqul Karimah. Lalu, apa jawab ibuku.
 
“Tidak perlu. Karena itulah cara Allah agar kamu istiqomah”.
 

Jleb! Singkat, padat, dan jelas jawaban Ibu. Namun justru itu membuatku diam seribu bahasa. Aku menjadi berpikir lama. Ucapan ibuku benar. Bilamana aku tidak lagi menjadi pemandu, sudah pasti semakin liar saja diriku kelak. Justru menjadi pemandu itulah aku harus semakin hati-hati menjaga akhlaqku. Ya, akhirnya aku memutuskan untuk tetap menjadi pemandu.
 
Alhamdulillah, kini aku terus berlatih berbicara di depan forum. Tak hanya berlatih lewat lisan saja. Tapi terus belajar berbicara dengan menjaga akhlaq. Meskipun masih banyak kekurangan, aku akan terus berlatih. Semoga aku bisa menjadi inspirator akhlaq seperti kakek Jamil. Do’akan ya.
 
Tulisan dikirim oleh Fadzrul Afyan

Bagikan:

9 thoughts on “Tak Cukup Berbicara”

  1. basith says:

    Siiip, berbagi pengalaman, yg perlu difahami adl: awalnya bukanlah kata, melainkan rasa

  2. princess amanda says:

    beneer banget…dengan seringnya qt berbicara menyampaikan kebaikan pada org lain…maka insyaAllah qt pun akan terdorong untuk menjadi baik seperti kebaikan2 yg disampaikan kepada org lain….
    maju terusss…dan semangat memantaskan diri menjadi sosok insan sukses mulia….

    salam sukses mulia….

    1. Tania Jailani Zakaria says:

      setujuuuuu 🙂

  3. andriansyah says:

    Jadi ingat AL-quran Surat As-Saff Ayat 2, ” Wahai orang yang beriman,mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ?”. Thanks mas sudah mengingatkan.

  4. Herman Hanif says:

    maju terus mas, semoga Allah menuntun kita ke jalan istiqomah

    salam,
    @HermanHanif

  5. damar says:

    semangat! 3x

  6. Yuniarti Fazri says:

    Yup… belajar dan mengajar
    Mengajar dan belajar diterapkan untuk diri sendiri juga
    semangat istiqomah

  7. dnur77 says:

    semaNGATTTT

  8. Akhirnya, selamat menjadi seorang pembicara yang hebat, dan banyak belajarlah dari pembicara hebat yang anda kagumi. Dengan banyak belajar dari mereka, maka anda akan menemukan gaya bicara yang unik, dan tentu anda akan menemukan keunikan dari diri anda sendiri. Ingatlah semua manusia diberikan lebih dari satu potensi, dan setiap manusia diberi kemampuan untuk menjadi seorang pembicara. Hanya saja kita perlu berlatih dan terus berlatih sehingga kita mampu bicara dengan santai dihadapan orang banyak. Mereka pun puas dari materi yang kita sampaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.