Tak Boleh Emosional

Banyak orang yang tiba-tiba ingin menjadi pengusaha karena ikut training wirausaha. Bahkan ia berani “bakar kapal” dengan cara keluar dari pekerjaannya. Ada juga yang memutuskan menjadi trainer usai mengikuti training tentang public speaking. Yang mengerikan, ia langsung membuat kelas TFT (Training For Trainer) padahal ia sendiri belum berpengalaman menjadi trainer.

Mereka beralasan “ini passion saya” atau alasan lain yang sering muncul “saya harus keluar dari zona nyaman”. Apakah salah? Tidak, apabila pertimbangannya matang dan bukan karena dorongan emosional. Namun ketahuilah, passion itu sesuatu yang melekat di dalam diri Anda. Ia seharusnya tidak muncul secara emosional.

Cobalah renungkan kembali sebelum Anda mengambil keputusan. Tenangkan pikiran dan hati Anda, renungkan dan milikilah alasan yang kuat mengapa Anda memilih profesi itu. Benarkah ini passion saya? Inikah “karpet merah” saya?

Cobalah meminta pendapat dari orang yang ahli. Sebab, pendapat satu orang ahli itu lebih baik dibandingkan pendapat dari seribu orang yang tidak ahli. Bekerja dengan passion itu memang sangat nikmat. Bahkan Anda akan merasa sedang tidak bekerja tetapi sedang bersenang-senang. Tetapi passion tidak ditemukan secara emosional.

Dalam hidup kitapun tak harus keluar dari zona nyaman. Bukankah salah satu tujuan hidup adalah mencari kenyamanan? Mengapa setelah Anda berada di zona nyaman justru Anda tinggalkan? Meninggalkan zona nyaman memang terdengar “hebat” tetapi itu bisa menjerumuskan bila Anda tak siap.

Oleh karena itulah, saya lebih senang menggunakan istilah “perluas dan perbanyak zona nyaman Anda”. Bagi Anda yang berkarir, mintalah tugas-tugas baru yang menantang kepada pimpinan Anda dengan tetap melakukan pekerjaan yang menjadi tanggungjawab Anda. Dengan cara seperti itu, zona nyaman Anda semakin meluas dan boleh jadi semakin banyak. Asyik, kan?

Bagi Anda yang berwirausaha, walau omzet dan keuntungannya besar namun Anda tak boleh berhenti. Perluas atau perbanyaklah zona nyaman Anda. Caranya? Buatlah target yang menantang agar usah Anda bertumbuh cepat dan bila perlu menambah usaha baru. Semua itu harus dilakukan bukan karena emosi dan ikut-ikutan.

Perluas dan perbanyaklah zona nyaman secara berkala dengan tetap menggunakan passion Anda. Dijamin asyik dan menyenangkan. Mau? Silakan coba.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Bagikan:

24 thoughts on “Tak Boleh Emosional”

  1. Kalau begitu menikah pun tidak boleh dengan alasan emosional yang sama ya kek, harus ada pertimbangan rasional yang matang pula

    Terima kasih sharing-nya, bermanfaat sekali 🙂

  2. Terimakasih pak untuk pengingatnya. untung saya segera tersadar saat membakar kapal dan masih kesempatan untuk memadamkannya.

    ternyata memang ada yang salah dengan istilah “bakar kapal”

    1. Dwi Ishak says:

      Mantap Mas Bro Zu…
      Persiapkan sekoci dulu ya laen kali kalo mau bakar kapal 😉

      1. Dicky Ahmad says:

        Wah, Saya pernah emosional buru-buru bakar kapal, hasilnya memang kurang bagus mengingat persiapan yang kurang matang. Anak istri sempat terlantar dan pada akhirnya Saya balik lagi ke zona yang orang-orang bilang nyaman. Sambil mempersiapkan kembali membangun usaha baru yang penuh persiapan terencana.

  3. Anggit Setyaningsih says:

    Siipp.. “Perluas dan perbanyaklah zona nyaman secara berkala dengan tetap menggunakan passion Anda”

  4. enhaka92 says:

    hatur nuhun atas wejangannya

  5. mhd husni tarigan says:

    terimakasih kek. perbanyak dan perluas zona nyaman secara berkala sesuai passion mantaffFff kek

  6. imanudin says:

    kalau kapalnya udah terlanjur di bakar, harus gimana Kek…

  7. Dwi hariyadi says:

    Eyang Jamil sih udah nyaman & udah punya kapal..lah ane kapal ngga punya, boro-boro nyaman. yah udah dinyaman-nyamanin aja deh..

  8. a says:

    pak jamil…apakah termasuk suap apabila kita melakukan kerjasama dengan sebuah perusahaan namun apabila pekerjaan tersebut telah selesai si karyawan meminta ‘bagiannya’. mohon penjelasannya pak. terima kasih

  9. Subhanallah. Setujuuuuu banget dengan kalimat “Perluas zona nyaman!” soalnya aku juga pernah nulis ttg ini di blog.

    Dulu juga pernah terjebak emosi utk (yang katanya) mengikuti passion, yang ada malah babak belur hehehe. Kuncinya adalah terus luruskan niat utk Allah biar nanti Allah juga bantu utk tau sebenernya apa passiON kita ^^

    Terimakachii Kek Jamil (^^)/

  10. Ali says:

    Kek, lalu kapan waktu yg tepat untuk memulai menjadi pengusaha? Karena apabila terus dipikirkan dan direnungkan (seperti saya), bekerja menjadi pegawai tetap menjadi pilihan aman krn dapat income tetap dan pasti walaupun menjadi pegawai itu pendapatannya sudah “ditakar”, sedangkan setiap kali memikirkan utk jd pengusaha selalu takut atau dihantui rasa takut gagal atau income menurun dll.

  11. Rahmat E. Siregar says:

    Alhamdulillaah..ternyata artikel ini memperkokoh artikel Kakek beberapa waktu yang lalu, bahwa “Tidak Semua Nasihat Harus Dituruti…”

  12. Baihaqi says:

    Subhanallah….keren nasihatnya…perlu disebarluaskan nih, supaya ga banyak korban kebakaran kapal 🙂

  13. mai says:

    mantaffff

  14. Mantap kek sharingnya…sambil mikir nambah zona nyaman nih. hehe…

  15. Melihat dari 2 sisi…

    Nice Post Pak!

  16. Arif Achmad says:

    Saya setuju pernah salah sekali memaknai zona nyaman. mengapa harus ke luar ? perluas !!!

  17. neendz says:

    Bakar kapal ga perlu terjun bebas juga kan.. Kadang qta terlalu ikut arus trainer2 yang mendorong qta unt kebebasan finansial. Keren. Tapi trainer, buku, kan hanya sarana qta unt mempersiapkan diri. Tanggung jawab atas keputusan qta tentu qta yg menjalani. Nggak smua pendapat itu bsa masuk dan sesuai kalo dilakukan d khidupan qta.. Nice share Pak. At least ga akan banyak orang dgn konyol berkoar “Saya Udah Resign” hanya demi sebuah pengakuan bahwa dia hebat.. Tapi resign dgn pertimbangan matang.dan setelah resign dia lebih baik.

  18. Tito Adi Dewanto (SMA BBS) Bogor says:

    Betul mas Jamil, selama ini ada kebimbangan di hati saya untuk ‘bakar kapal’ atau tidak mengingat anak istri, tapi istilah perluas zona nyaman kayaknya lebih pas, yaitu mencoba tantangan baru sambil memantapkan profesi semula.Thanks mas Jamil.

  19. Putra says:

    Assalamualaikum Wr Wb

    Pak Jamil Sharing yang luar biasa

    Mengenai passion saya selalu bersemangat ketika ingin menciptakan sesuatu
    Contoh
    Saya gampang mendapatkan ide untuk membuat suatu bisnis
    namun sangat sulit mempertahan kan nya

    Saya juga pandai Mengajak orang orang di sekitar saya untuk ikut serta dalam apa yang saya lakukan
    Kelebihan saya gampang mengumpulkan masa

    Kira kira pekerjaan apa ya yang cocok untuk saya ?

    Semoga rezeki selalu melimpah untuk pa Jamil dan keluarga

    Wasalamualaikum Wr Wb

  20. habamadu says:

    Baik bakar kapal maupun keluar dari zona nyaman atau pilihan apapun kalau kita tempuh setelah beristikharah, insya Allah hasilnya POSITIF. Dari Jabir bin Abdillah
    radliyallahu’anhu, dia bercerita:
    “Rasulullah shallallahu’alaihi wa
    sallam pernah mengajarkan
    Istikharah kepada kami dalam segala
    urusan, sebagaimana beliau
    mengajari kami surat al-Qur’an.
    Beliau bersabda:
    “Jika salah seorang diantara kalian
    berkeinginan keras melakukan
    sesuatu, hendaklah dia mengerjakan
    sholat dua rakaat di luar sholat wajib. HR. BUKHORI. “Salam Positif”

  21. Baladen says:

    Bener banget nih, intinya jangan grasak-grusuk ngambil keputusan ya, Kek. 🙂

    nice post.

  22. andi says:

    yup bner banget sesuai passion. sayangnya zona nyaman sy justru harus bakar kapal, krn terjebak di kapal yg g nyaman. memperluas zona nyaman? boro2, lah yg dikerjain aj g nyaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published.