Syukuri yang Ada

Seorang perempuan muda tengah jalan-jalan bersama dengan perempuan muda lain yang menjadi sahabatnya. Di sepanjang kebersamaan mereka, si perempuan muda tak henti-hentinya mengeluh tentang hidup yang dijalaninya. Dan kegiatan jalan-jalan bersama ini, diakuinya menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan dan ditunggu-tunggu olehnya.

Si perempuan muda terlihat begitu bahagia menikmati jalan-jalan itu, walaupun ketika jalan-jalan, ia hanya melihat-lihat dan tidak membeli apa-apa. Si perempuan muda ini kemudian berkata pada sahabatnya, “Wah, andai hidupku begini terus ya. Seneng rasanya bisa keluar rumah dan jalan-jalan seperti ini. Untuk sesaat, rasanya aku bisa menikmati hidup lagi. Nggak perlu mikirin masalah suami, anak-anak, dan siklus kehidupan yang lagi-lagi tentang mereka. Seandainya saja aku bisa terus ngerasa bahagia seperti sekarang ini.”

Mendengar itu, sang sahabat yang sedari tadi hanya diam akhirnya mengambil tindakan. Tanpa ba-bi-bu, tiba-tiba ia mencubit tangan si perempuan muda. “Aw, sakit! Haduuuhh…..sakit tahu. Apa-apaan sih lo!” ucap si perempuan muda setengah marah.

Sang sahabat kemudian berkata, “Ketika tangan kamu nggak dicubit, kamu berasa nggak kalau tangan kamu rasanya enak? Nggak ada rasa sakit atau rasa pegal di tangan kamu itu. Ketika kamu aku cubit, kamu merasa sakit dan nggak nyaman. Setelah rasa sakit itu hilang, baru kamu ngerasa enak lagi. Hidup yang kita jalani juga sama. Nggak mungkin semua hal yang kita jalani itu mulus dan selalu indah. Pasti ada hal-hal yang tidak menyenangkan yang kita rasakan. Tahu nggak kenapa? Jawabannya sama seperti yang tangan kamu rasain ketika aku cubit.”

“Hati kita juga sama. Kalau semua hal dalam hidup kita itu indah dan bahagia, apa iya kita akan bisa merasakan kebahagiaan itu sebagai sesuatu yang membahagiakan? Apa yang akan menjamin kita nggak akan kebas dengan rasa bahagia dan akhirnya kita jadi lupa bersyukur?”

“Atau sebaliknya, masa iya Allah menjadikan semua hal dalam hidup kita ini jelek, buruk dan bikin susah? Jangan-jangan kitanya saja yang nggak bisa melihat mensyukuri kemudahan dan kebaikan yang Tuhan berikan ke kita. Seperti tangan kamu sebelum aku cubit tadi. Yang kamu ingat cuma masalah-masalah yang kamu hadapi, tapi kamu lupa sama kondisi fisik kamu yang tidak kurang suatu apa saat ini. See?”

Insan SuksesMulia, yuk kita lebih jeli dalam melihat hal-hal baik yang terjadi pada diri kita… Semoga dengan itu, kita bisa menjadi lebih bersyukur, bahagia, dan lapang menjalani hari ini dan hari-hari kita ke depan.

Salam SuksesMulia!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @jamilazzaini

Bagikan:

2 thoughts on “Syukuri yang Ada”

  1. Mustofa Askar says:

    alhamdulillah
    anda di beri pemahaman Allah tentang hidup sukses mulia. tebarkan pada umat manusia, khususnya mereka yang belum Islam, dakwahi mereka kepada islam dan bukan dengan ceramah islam. anda sudah betul tapi khususkan dalam dakwah bil hal pada mereka. karena sukses mulia yang sebenarnya bukandi dunia ini saja, tapi akhirat juga !
    saya MUSTOFA ASKAR ingin kenal lebih jauh pemikiran antum. wassalam

  2. Senang bila suatu saat kita bisa diskusi. Bagaimanapun kita harus menjalani kehidupan terbaik agar di akherat kita juga mendapat yang terbaik. Hidup hanya satu kali tak mungkin kembali jadi jangan coba-coba dan hidup tanpa arah. Terima kasih, salam SuksesMulia, Jamil Azzaini

Leave a Reply

Your email address will not be published.